Catatan Doeloe-doeloe, Benteng Putri Hijau Pamah Deli Tua Deliserdang

Benteng Putri Hijau
Benteng Putri Hijau Lama Pada Masa Hindia Belanda

MUDANEWS.COM – Ratu Haru yang oleh masyarakat Karo dikenal dengan nama Seh Ngenana Br. Sembiring Meliala(hikayat dongeng Putri Hijau). Pernah menjadikan Delitua, sebagai Ibukota Kerajaan. Menurut catatan Mendez Pinto serta hikayat Kerajaan  Aceh Darussalam,  ketika Raja Aru Sultan Ali Boncar terbunuh oleh Pasukan Kerajaan Aceh dalam pertempuran tahun 1539. Istrinya Ratu Haru, berlayar ke Melaka untuk meminta bantuan termasuk kepada Portugis. Ratu Haru kembali ke Delitua, bersama Pasukan Johor dan pasukan Aceh dihancurkan tahun 1540.

Versi lain dalam Tarombo dan Silsilah Raja-Raja Johor disebutkan, ketika Ratu Haru berlayar ke Melaka, bantuan yang  diharapkan untuk merebut kembali Delitua tidak terwujud. Sebab saat itu Malaka juga tengah menghadapi gempuran dari Pasukan Aceh, sama halnya dengan bantuan yang diharapkan dari Portugis yang saat itu juga tengah menghadapi gempuran Aceh.

Sultan Johor menerima permintaan Ratu Aru untuk merebut kembali Delitua dari Kerajaan Aceh, dengan syarat Ratu Aru mau menjadi istrinya. Ketika pasukan Johor sampai di Delitua, ternyata Pasukan Aceh yang berada di Delitua sudah dihancurkan oleh Pasukan Portugis. Dan Delitua sudah luluh lantak akibat pertempuran besar antara Aru, Aceh dan Portugis itu. Dan perkawinan inipun, disebut batal dilaksanakan.

Sejak saat itu,keberadaan Ratu Aru keberadaannya tak dapat lagi ditelusuri. Namun dari sebuah lokasi yang berada di Komplek makam di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, Aceh. Ditemukan sebuah monumen yang menerakan, makam Putroe Ijo. Dan disebut sebagai peristirahatan terakhir seorang putri Sultan Kesultanan Aceh Darussalam. Namun data dan literatur silsilah Putroe Ijo dari Aceh ini, juga tidak ada sama sekali.

Data terakhir yang bisa ditelusuri oleh mudanews.com, dari para keturunan Ratu Aru dari Merga Sembiring Meliala, dan ratusan tahun menjaga Delitua, hanya ditemukan sebuah makam kerabat mereka yakni Radja Bagian Sembiring Meliala. Radja Bagian wafat tahun 1947 dalam pengungsian di Bekala karena sakit saat terjadinya revolusi sosial. Secara administratif, Delitua tetap mengakui Sultan Deli di Deli (Medan) sebagai Raja mereka. Dan Delipun menyebut Orang Delitua sebagai Saudara Tua (deli tua), karena Delitua merupakan sepupu Orang Kaya Sunggal (Datuk Sunggal) yang merupakan mertua Raja Deli pertama Dalikhan (Gocah Pahlawan/Khuja Bintan). Isri Dalikhan adalah Nang Baluan Br. Surbakti.

Abang Radja Bagian, yakni Raja Gel-gel, makamnya juga sudah tidak lagi ditemukan. Radja Bagian dibuang oleh  kolonial Belanda ke Pulau Sicanang (Belawan), akibat ikut Perang Sunggal (Batak Oorlog) sebagai salahsatu Hulubalang (garis kekerabatan sepupu) Orang Kaya Sunggal (Datuk Sunggal) Badiuzzaman Surbakti.

Delitua dahulu kala, sempat menjadi perebutan berbagai pihak karena letaknya yang sangat strategis berada di pertemuan antara dua sungai yakni Sungai Patani dan Sungai Deli. Belum lagi kontur alamnya yang berbukit-bukit, dan dikelilingi sungai. Hingga sangat tepat dijadikan sebagai benteng alam. Konon bentang benteng alam yang ada didunia, hanya terdapat di kawasan Skotlandia Inggris, dan satu lagi di Delitua.

Ketika Kolonial Belanda berada di Deli, kolonial tidak pernah merubah bentang alam kawasan Benteng Putri Hijau, dan menjadikan Delitua sebagai lokasi penanaman Tembakau. Belanda memperkuat jalanan kampung ditebing pada lereng-lereng bukit, dengan bebatuan guna memelihara tanaman Tembakau.

Berikut bentang benteng alam Benteng Putri Hijau di Dusun 1 Delitua Pamah Namorambe Deliserdang, berdasarkan foto satelit yang didokumentasikan pada tahun 2016

Sisi dalam benteng Putri Hijau berupa perbukitan serta rawa-rawa,   dan sisi luarnya yang dahulu juga merupakan rawa-rawa dan diduga menjadi dermaga Benteng Putri Hijau tempat kapal tambat sebelum memasuki Delitua. Rawa-rawa sisi luar yang juga berfungsi sebagai sempadan sungai, sebagai lokasi alam penampugan air saat banjir saat ini kita kenal sebagai Taman Edukasi Buah Cakra.

Benteng Putri Hijau
Daerah Pamah – Deli Tua, Benteng Putri Hijau, 2016. Sebelah Kanan Gambar Sekarang Berdiri Taman Edukasi Buah Cakra

Jalanan yang diapit rawa-rawa dan menjadi jalan masuk menuju kawasan Benteng Putri Hijau. Jalan yang dibangun diantara rawa-rawa dan menjadi penghubung kawasan Jl. Pantai Bunga Delitua – Delitua Kampung, dibuat saat rawa sisi dalam Benteng Delitua ikut digali dan diambil tanahnya saat pembuatan tol Belmera.

Benteng Putri Hijau
Deli Tua – Pamah, 2016. Naik ke Benteng Arah ke Deli Tua Kampung

Pintu masuk Benteng Delitua yang diapit dua tebing dan langsung mengarah sungai, hingga butuh fisik yang luar biasa untuk memasukinya. Selain harus menaklukan rawa-rawa hingga sebatas lutut, masih harus memanjat tebing untuk sampai kebahagian dalam benteng.

Benteng Putri Hijau
Deli Tua Pamah 2016

Jalanan sempit yang diapit tebing, dan hanya dapat dilalui oleh seekor kuda (tidak dapat bersisian) menjadi lokasi yang sangat stategis bagi pengawalan pintu masuk. Hingga siapa yang masuk dari bahagian bawah, dapat dengan mudah dihabisi dengan satu-satunya Meriam Putri Hijau (Meriam Puntung) yang saat ini berada di Istana Maimun dan puntungannya berada di Sukanalu.

Benteng Putri Hijau
Benteng Putri Hijau, Deli Tua Pamah 2016

Kawasan dalam benteng, walaupun menjadi bahagian lapangan yang agak rata, tapi dibeberapa bahagian tetap memiliki tingkap-tingkap tanah yang bertingkat-tingkat dan menjadi tempat yang baik bagi perlindungan pasukan.

Benteng Putri Hijau
Deli Tua, 2016. Memasuki Deli Tua Kampung di tandai Plank Gereja