Menegakkan Pancang-Pancang Kebudayaan Melayu

Menegakkan Pancang-Pancang Kebudayaan Melayu
Ilustrasi

TAMADUN suatu bangsa, bisa bertahan, besar dan bermartabat, jika ditopang oleh kekuatan kekuasaan yang besar. Baik itu kekuatan politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Tamadun Melayu misalnya, yang jejak dan kebesarannya masih bisa dirasakan sampai saat ini, karena dahulunya ditopang dan dibesarkan oleh kekuatan politik, ekonomi, dan sosial budaya yang besar, yaitu kemaharajaan Melayu yang berpusat di Melaka dan kawasan semenanjung Melayu lainnya, yang jatuh bangun lebih dari 7 abad, lebih lama dari imperium Sriwijaya.

Kekuatan dan kekuasaan kemaharajaan Melayu itulah yang kemudian mewariskan tamadun besar dan menyumbang banyak tradisi dan nilai budaya lainnya bagi perkembangan di kawasan nusantara ini. Paling tidak masih ada 400 juta lebih penduduk dunia yang mewarisi jejak kebesaran tamadun Melayu itu. Jejak Islam dan kebudayaannya misalnya, jelas sebagai salah satu sumbangan terpenting, karena kemaharajaan Melayu menjadi pintu masuk dan keluar yang luas dan berpengaruh melalui perdagangan dan pendidikan. Begitu juga dengan jejak bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan, perdagangan, dan bahasa literasi di nusantara. Demikian juga dengan berbagai tradisi berkesenian di semua cabang dan genre-nya, seperti syair dan pantun yang sudah menjadi milik bersama. Lalu dangdut yang fenomenal itu misalnya, sesungguhnya adalah lagu India yang sudah dimelayukan.

Sekarang ini, di abad XXI ini, tamadun Melayu dan warisannya itu, memang masih bertahan, meskipun sulit menjadi besar, karena tidak ada kekuatan kekuasaan besar yang menopangnya, terutama kekuatan ekonomi. Sebenarnya, Malaysia sebagai negeri rumpun Melayu yang paling maju, bisa menjadi kekuatan penggeraknya. Bukan saja karena secara politik memiliki kekuasaan mutlak untuk menghitamputihkan nasib rumpun Melayu di negeri itu bersama tokoh-tokoh Melayu di puncak kekuasaan, tetapi secara ekonomi dengan pendapatan per kapita di atas 20.000 dolar AS, Malaysia salah satu raksasa ekonomi di kawasan ASEAN, di jantung rumpun Melayu. Jika dilakukan kolaborasi bersama Brunei Darussalam misalnya, maka akan ada kekuatan rumpun Melayu yang diperhitungkan dan disegani di kawasan ini. Artinya, dalam cakupan ASEAN, kekuatan Malaysia dan Brunei Darussalam ini, akan dapat menutupi kekurangan rumpun Melayu di Singapura, Indonesia, Thailand, Vietnam, Burma dan lainnya, yang terkadang memang masih dianggap sebagai ”Red Indian”.

Pancang-Pancang Kebudayaan

Untuk terus mempertahankan keberadaan tamadun Melayu itu agar tidak hilang dilindas globalisasi, perlu ditegakkan pancang-pancang kebudayaan. Perlu dicacak pancang-pancang kebudayaan yang baru. Pancang-pancang ini adalah tempat proses dan kelanjutan keberadaan tamadun Melayu itu bersandar, rujuk, berlindung, dan membangun kebersamaan. Pancang-pancang kebudayaan Melayu ini, ibarat pancang nibung di tengah laut yang berdengung. Tempat camar-camar tamadun Melayu hinggap, membangun mimpi-mimpi besar rumpunnya. Tempat perahu-perahu kebudayaan bertambat, bersandar dan membangun komunitas-komunitas baru, berlindung dan bertahan dari badai perubahan dunia.

Pancang-pancang kebudayaan Melayu itu bisa berupa sosok-sosok pemimpin budaya yang kharismatik, yang berilmu, yang berpengaruh, yang kata dan wasiatnya didengar. Kita misalnya, baru saja kehilangan paling tidak tiga pancang kebudayaan Melayu yang luar biasa penting dan tangguh. Kita merasa kehilangan, ketika Prof. Ismael Hussen meninggalkan kita. Pendiri dan pembangun Gapena ini, sudah menjadi ikon bagi perkembangan kebudayaan rumpun Melayu di rantau ini. Tokoh yang pendiam, tapi sangat kritis dan disegani. Kita juga kehilangan, ketika Doktor Honoriscausa Tenas Effendy, pergi dan kembali keharibaan Allah. Kita kehilangan seorang yang arif, tempat kita belajar tentang adat istiadat dan tunjuk ajar Melayu. Kita juga kehilangan seorang sastrawan dan budayawan Melayu yang luas dan cemerlang pemikirannya, ketika Hasan Junus, juga kembali ke rumah abadinya. Tiga pancang nibung di samudera rumpun Melayu ini, kini belum tergantikan. Kita memang sedang mencacak pancang-pancang yang baru, membangun kebersamaan dan solidaritas yang baru.

Pancang-pancang ini bisa juga berupa lembaga-lembaga kebudayaan, seperti organisasi pengarang semacam Gapena, pena, persatuan penulis Johor, dan lainnya. Bisa dalam ujud yayasan-yayasan kebudayaan, seperti Yayasan Warisan Johor, Yayasan Sagang, Tenas Effendy Foundation, dan lain-lainnya. Juga lembaga pendidikan, sanggar-sanggar seni, dan gerakan-gerakan bersama berupa pertemuan kebudayaan, seperti dialog utara, dialog selatan, muhibbah kesenian, festival penyair, dan lainnya yang terus memberi semangat dan motivasi agar para pendukungnya terus kreatif, terus berkarya dan terus menerus melahirkan dan mewariskan tradisi-tradisi baru yang sesuai dengan tantangan zaman. Keberadaan pancang-pancang kebudayaan inilah yang sekarang masih tetap mempertahankan denyut dan dengus nafas Melayu dalam perbancuhan dan pertembungan dengan kebudayaan lain di dunia ini.

Kita harus terus-menerus mencacak pancang-pancang budaya yang baru, atau menegakkan pancang-pancang yang mulai rebah. Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) misalnya, yang didirikan di Melaka dengan penggagasnya Datuk Ali Rustam, semasa menjadi Menteri Besar Melaka, telah sempat menjadi pancang nibung Melayu yang penuh ekspektasi. Dengan secara berkala melakukan pertemuan dengan rumpun-rumpun Melayu lainnya di kawasan semenanjung, baik menyangkut isu budaya, ekonomi, dan sosial, mulai terasa ada kekuatan baru rumpun Melayu dalam menghadapi cabaran zaman. Tetapi karena DMDI itu lahir karena memang berlatar belakang politik dan menjadi sandaran utama, terutama di kawasan rumpun Melayu di Indonesia (Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumut dan lainnya ) adalah pemerintah daerah, maka begitu berganti pemimpin daerah, maka gerakan-gerakan bersama ini menjadi surut dan malap. Bahkan di Melaka sendiri, setelah Datuk Ali Rustam tidak lagi menjadi Menteri Besar, maka era DMDI ini, kini seperti pancang nibung yang sedang condong dan menuju rebah. Perlu kekuatan lain untuk menegakkannya kembali.

Di Riau dan Kepulauan Riau juga begitu. Pancang nibung Riau yang bernama Rusli Zainal, mendapat musibah, maka geliat gerakan meningkatkan peran tamadun Melayu dalam kehidupan juga sedang menuju titik rebah. Padahal, visi Riau 2020 yang ingin menjadikan Riau sebagai salah satu pusat kebudayaan Melayu itu, sudah dijadikan peraturan daerah, sebagai payung hukumnya. Beruntung sekarang, Plt Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman, mulai menegakkan kembali pancang kebudayaan Melayu itu, dengan melancarkan gerakan “Riau, The Homeland of Melayu”. Sebuah cogan baru, bahagian dari gerakan membangun kembali semangat visi Riau 2020 itu. Di Kepulauan Riau juga begitu. Pancang nibung budaya Melayu yang bernama Ahmad Dahlan, kini memasuki tahun terakhir jabatannya sebagai Walikota Batam. Ahmad Dahlan ini mempunyai komitmen yang luar biasa untuk mempertahan dan membesarkan kebudayaan Melayu. Dia dan Pemko Batam, menyelenggarakan secara rutin, setiap tahun, kenduri seni Melayu (sudah tahun ke-17), menjadi tuan rumah berbagai pertemuan kebudayaan serumpun, menggali jejak-jejak sejarah kerajaan Melayu Riau, dan menulis buku “Sejarah Melayu“ yang menjadi rujukan berbagai pihak dalam mengenal dan memahami keberadaan imperium Melayu. Kita belum tahu, Walikota Batam apakah akan menjadi pancang nibung kebudayaan Melayu yang baru di Batam.

Di Tanjung Pinang, dulu ada pancang kebudayaan Melayu, namanya Suryatati A Manan. Yang bekerja keras menyelenggarakan dan melestarikan berbagai warisan kebudayaan Melayu. Menulis buku, melestarikan Gurindam XII, menyelenggarakan perkemahan budaya, festival penyair, dan lainnya. Kini kita sedang menunggu tegaknya pancang nibung yang baru. Walikota yang sekarang, memulai langkahnya dengan menyokong kuat festival budaya Sungai Carang, sebuah helat budaya bercampur wisata, di sungai yang dahulu menjadi denyut nadi kerajaan Melayu Riau, hampir 100 tahun lebih. Di Provinsi Kepulauan Riau, Muhammad Sani, Gubernur Kepri dan Wakilnya Surya Respationo, yang dulu memaku visi Kepri, Bunda Tanah Melayu, kini sedang berjuang untuk masa jabatan mereka 5 tahun lagi, meskipun saling menantang.

Pancang nibung yang dulu terkenal dengan sebutan 2S (Sani dan Suryo) ini, adalah salah satu penopang gerakan DMDI. Di Lingga, kabupaten yang juga mengusung visi Bunda Tanah Melayu, juga baru saja pancang nibungnya meninggalkan gelanggang kekuasaannya. Belum tahu bupati yang baru, akan bisa menjadi pancang nibung yang baru, akan bisa menjadikan Lingga ikon budaya Melayu baru.

Dari rangkaian realitas di atas, jelas betapa rapuhnya pancang-pancang kebudayaan Melayu yang bersandar pada kekuatan kekuasan politik dan pemerintah. Kita memerlukan pancang-pancang baru, dengan sandaran baru, yang tak mudah terpengaruh dan terjejas oleh pergantian kekuasaan politik dan pemerintah. Pancang yang bisa tegak, di musim mana pun.

Cabaran MEA 2016

Kekuatan kekuasaan yang terpenting saat ini untuk terus menegakkan pancang-pancang kebudayan Melayu itu, adalah kekuatan ekonomi. Tak ada tamadun besar yang lahir dari bangsa yang miskin dan tak berdaya. Karena itu harus ada pancang-pancang ekonomi rumpun Melayu yang harus tegak tercacak, dan menjadi kekuatan untuk menggerakkan komunitas dan pendukung kebudayaan Melayu lainnya terus maju. Harus ada kekuatan ekonomi, misalnya untuk merawat dan membesarkan bahasa Melayu agar menjadi bahasa dunia, agar diakui sebagai bahasa PBB, dan lainnya. Harus ada kekuatan ekonomi untuk mengangkat masyarakat Melayu dari lembah kemiskinan dan ketidakberdayaan secara ekonomi. Harus ada kekuatan untuk mendidik dan meningkatkan martabat dan kepakaran para cendekiawan Melayu agar dapat setanding dan bersanding dengan rumpun-rumpun bangsa yang lain. Hanya kekuatan dan kekuasaan ekonomilah yang bisa meretas dan menembus benteng-benteng geopolitik yang sekarang menyekat dan mengepung rumpun Melayu dari merajut kebersamaan dan solidaritasnya.

Tahun 2016, adalah momentumnya, karena dengan kesepakatan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), semua sekat dan pintu ekonomi antar negara Asean itu sudah terbuka dan bisa ditembus. Tinggal seberapa bisa dan kuatkah rumpun Melayu untuk menembusnya. Di manakah posisi kekuatan ekonomi rumpun Melayu sekarang? Disparitas kemampuan ekonomi antarkawasan di mana rumpun Melayu hidup dan berkembang, sangat tajam. bayangkan, Indonesia sekarang baru sekitar 3.500 dolar AS per kapita. Singapura sudah di atas 40.000 dolar AS, dan Malaysia di atas 20.000 dolar AS. Dan di dalam ketidakberdayaan ekonomi demikian itu, orang-orang Melayu, pendukung warisan tamadun besar itu, adalah warga yang miskin. Kebesaran tamadun apa yang bisa diraih dari rumpun yang nyaris tak berdaya itu? Karya seni sehebat apakah yang bisa dihasilkan dari seorang pelestari dan penerus joget dangkung di Kepri, misalnya, yang hidup miskin di gubuk yang atap seng bekas dan rezeki pas-pas an itu?

Anugerah kebudayaan Sagang yang diberikan Yayasan Sagang dan bertahan selama 20 tahun itu, karena ada kekuatan ekonomi yang menopangnya, dan ada komunitas para pencinta seni yang sudah mapan yang bersedia berbagi. Karena ada dunia usaha yang berhasil, yang mau menyisihkan sebagian labanya sebagai CSR (Corporate Social Responsibility). Politik, terbukti tak bisa menjadi perekat budaya. Politik tak bisa yang cenderung zalim terhadap kebudayaan.

Perhimpunan Saudagar Melayu

Masa depan tamaddun Melayu, tegak atau runtuh, tergantung dari kebersamaan rumpun Melayu. Bagaimana membangun sinergitas semua potensi yang ada. Bagaimana tetap terus menegakkan pancang-pancang budaya dan bagaimana memelihara dan mempertahankan pancang-pancang yang sudah tegak dan terus akan ditegakkan. Keberasaman dan sinergitas itu, bisa ujud dan bertahan, jika rumpun Melayu ini, dapat menemukan model organisasi dan gerakan bersama menjaga kebersamaan itu.

Mungkin rumpun Melayu ini dapat memulainya dari gerakan ekonomi serantau, dengan misalnya menghidupkan kembali gagasan perhimpunan saudagar Melayu, yang selain sekali setahun sekurang-kurangnya dapat mempertemukan para saudagar Melayu untuk bertukar pikiran, informasi dan kerja sama ekonomi, tetapi juga dapat mewujudkan sebuah kekuatan ekonomi bersama rumpun Melayu. Sebuah imperium Melayu baru di bidang ekonomi, meskipun bukan mudah. Tetapi siapa yang bisa menafikan kekuatan ekonomi rumpun Melayu yang terserlah sekarang, meski masih tercerai berai? Siapa yang akan menafikan keandalan kewirausahawan Datuk Daim Zainuddin, dan lain Melayu milioner di Malaysia, Singapura, dan Brunei?

Dari perhimpunan ini, dari kekuatan ekonomi bersama para saudagar dan pancang-pancang budaya Melayu yang telah berhasil membangun kekuatasan entrepreneurship-nya ini , paling tidak kelak boleh jadi modal dan kekuatan untuk mewujudkan empat institusi atau pancang penegak keberadaan rumpun Melayu. Misalnya pertama, mendirikan sebuah perusahaan bersama yang dapat bergerak secara ekonomi (mungkin meminjam model DMDI tapi mengilangkan kuasa politik dan pemerintahan sebagai sandarannya, atau seperti gerakan sejuta Melayu (GSM) yang ada di Riau tetapi memberi kekuatan investasi bersama dan jaringan dan ragam bisnis yang lebih besar dengan sdm yang lebih andal). Keberhasilan institusi ini secara bisnis, kelak akan jadi kekuatan untuk menggerakkan dan menegakkan pancang-pancang kebesaran rumpun Melayu yang lain. Bukan mustahil sebuah lembaga keuangan semisal venture capital (modal ventura) akan menjadi kekuatan ekonomi yang dapat membantu dunia usaha rumpun Melayu, di mana para pemodalnya adalah para saudagar Melayu yang sudah sukses. Semacam gerakan seribu ringgit, atau lainnya gerakan ekonomi bersama.

Dari perhimpunan saudagar ini, kelak misalnya, bisa ditegakkan pancang penggerak dan pengembang seni budaya dalam semua ide-ide dan mimpinya, melalui sebuah foundation/yayasan kebudayaan serantau yang akan berkerja keras merawat kebersamaan dan gesaan kreativitas melalui penyelenggaraan dialog-dialog kebudayaan, pertukaran-pertukaran seni dan budaya, penerbitan-penerbitan, dan berbagai kerja budaya lainnya , termasuk memberi penghargaan kebudayaan Melayu serantau terhadap capaian cemerlang para pekerja seni dan budaya rumpun Melayu,tanpa harus seratus persen bergantung pada pemerintahan di masing-masing negeri.

Dari perhimpunan saudagar ini yang berperan sebagai induk, sebagai pusat keunggulan, juga bisa dicacakkan pancang upaya pelestarian dan penyimpanan berbagai harta dan warisan kebuayaan Melayu yang hampir 1.000 tahun ujud di rantau ini, melalaui sebuah perpustakaan dan pusat penyimpan yang moderen, lengkap dan digitalais, tempat semua pihak akan rujuk, meneliti, menggali, dan melahirkan karya-karya baru yang cemerlang.

Kemudian perhimpunan para saudagar Melayu ini, juga dapat melahirkan sebuah lembaga pendidikan dan pewarisan nilai-nilai budaya Melayu. Mungkin sebuah perguruan tinggi yang menjadikan kebudayan Melayu sebagai core kompetensinya, sebagai keunggulan keilmuannya. Ke sini lah kelak semua putra puteri rumpun Melayu, dan pihak-pihak lainnya yang berminat, pergi belajar, menimba ilmu kebudayaan dan tradisi Melayu, biar jejak Melayu tak hilang di dunia.

Untuk mewujudkan secara nyata gagasan dan mimpi ini, mungkin keempat pancang kebudayaan itu, memang harus ada action, tidak cuma seminar. Harus ada realisasi dalam bentuk kesepakatan, dan tanggung jawab kemelayuan. Kelima gagasan itu, misalnya dapat langsung diserah dan diamanahkan pada masing masing pusat-pusat pertumbuhan Melayu modern yang ada saat ini, untuk bertanggungjawab mewujudkannya. Misalnya, perhimpunan saudagar Melayu serantau yang akan menjadi pusat gerakan dan induk manajemennya, dapat diamanahkan kepada saudara-saudara di Malaysia, dengan dukungan seluruh saudagar Melayu dari negeri-negeri serumpun lainnya. Malaysia sudah teruji, dan sudah berhasil membangun ribuan para wirausahawan yang andal dan berhasil membangun kerajan-kerajaan bisnisnya dibanding kawasan lainnya.

Kemudian untuk mewujudkan sebuah perusahaan Melayu modern berbasis investasi dan berazam masuk ke gelegak ekonomi global, terutama dalam wilayah asean ini, dapat diserahkan ke rekan-rekan di Singapura, salah satu pusat perdagangan dunia. Jika orang-orang Melayu dapat bertembung dan bersinergi di pusat ekonomi dunia itu, maka pancang kekuatan ekonomi rumpun Melayu akan ujud dan berkesan. Kalau sebuah lembaga semacam khazanah milik kerajaan Malaysia bisa ujud, kenapa roh dan spirit itu tak dapat dipinjam dan dijadikan model?

Untuk menegakkan pancang kebudayaan berupa yayasan (foundation), dapat diserahkan dapat diserahkan kepada Kepulauan Riau, negeri Melayu yang selain sudah menegaskan dirinya akan menjadi bunda tanah Melayu, juga mewarisi jejak-jejak terakhir dari emperium Melayu lama. Mungkin dari denyut nafas dan keberadaan Pulau Penyengat, Sungai Carang, Pulau Lingga, dan harta karun budayanya, tuahnya akan mengalir ke semerata negeri rumpun Melayu. Meneruskan tradisi bertemu, berdialog, berfestival, bersembang dan berkenduri. Memberikan apresiasi dan penghargaan atas capaian-capai terbaik dalam kreativitas seni dan budaya, sebagai penghargaan yang prestisius dan menandai jejak kebesaran tamadun Melayu. Kita dapat saja misalnya, menamakan penghargaan itu sebagai “ Parameswara Award “ atau lainnya yang sehebat anugerah Nobel yang ada di Swedia itu. Tak adakah orang kaya Melayu yang bermurah hati untuk mewariskan sebagian hartanya untuk perjuangan kebudayaan rumpun Melayu ini?

Untuk melestarikan jejak-jejak kebesaran tamadun Melayu, baik dalam bentuk catatan-catatan, dekumentasi, naskah, dan semua ihwal perdekumentasian dan pelestrian informasi, dapat diserahkan kepada Riau, karena di sini ada sebuah gedung perpustakaan, yang dikatakan terbaik di asean, dan dari sini nanti seluruh jaringan dan kerja sama kedokumentasian tentang kebudayan Melayu, dapat dirujuk dan dicari. Era digitalisaasi ini akan memudahkan rumpun Melayu ini mencari dan menyimpan kembali semua warisan karya literasi, dan seni lainnya, yang sudah sempat dibawa pergi ke negeri-negeri yang jauh. Sekarang ini, sebuah portal dan direktori besar tentang kemelayuan, yaitu melayuonline.com, adanya di Jogjakarta, bukan di jantung tanah Melayu ini, meskipun yang mewujudkannya di tanah Jawa itu adalah orang Melayu juga, Tuan Mahyuddin Al Mudra.

Sementara untuk sebuah lembaga perguruan tinggi, tempat pendidikan dan pengembangan sumber daya rumpun Melayu dan seluruh asfek pembelajarannya, dapat diserahkan kepada rekan-rekan di Brunei Darussalam, sebuah negeri yang sangat maju dan peduli dalam urusan pendidikan dan kesejahteraan. Akan halnya negeri dan rumpun Melayu yang ada di Thailand, Filipina, Vietnam, Kamboja dan kawasan lainnya, mungkin belumlah lagi diberikan tugas yang terlalu berat. Tetapi, di sini semua kekuatan kemelayuan akan membantu mencacakkan pancang-pancang kebudayaan, dan menopang semua kerja budaya dan kemelayuan mereka.

Cogan Laksamana Hang Tuah
Dengan mensinergikan semua pancang-pancang utama penegakan dan permartaban kebudayaan Melayu di berbagai pusat keunggulan rumpun Melayu itu, akan membuat semua aktivitas pancang-pancang budaya Melayu yang sudah ada, sudah eksis, sudah bertungkus lumus, dan sudah jatuh bangun itu, akan menjadi sebuah jaringan kekuatan. Saling mengisi, saling melengkapi, dan tumbuh bersama dalam kebersamaan.

Untuk mewujudkannya, memang diperlukan kesepakatan, resolusi dan rekomendasi, agar apa yang ingin diwujudkan itu mengikat secara moral kepada semua sosok dan insan rumpun Melayu. Siapapun dia, dan di manapun dia berada. Hanya kebersamaan, dan sinergitaslah yang dapat membuat pancang besar rumpun Melayu itu tetap tegak, sama tegak dan kukuhnya dengan cogan rumpun Melayu: Esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, takkan Melayu hilang di dunia, cogan yang diamanahkan Laksamana Hang Tuah. Cogan ini, adalah cogan yang senantiasa terbuka dan dapat diselaraskan sepanjang zaman. Karena pada hakikatnya, cogan itu, adalah sikap kewirausahaan, entrepreurship, karena berisi tiga teras utama pedoman hidup dan tradisi baru Melayu: mandiri, kreatif, dan visioner.*

Penulis adalah Budayawan, Pendiri dan Pembina Yayasan Sagang, Yayasan Jembia Emas, dan Yayasan Hari Puisi Indonesia

Sabtu, 12 Maret 2016
Oleh: Rida K Liamsi

Sumber: Riau Pos