Perang Sunggal / Tanduk Benua (1872-1895)

Mesjid Datuk Badiuzzaman
Mesjid Datuk Badiuzzaman Surbakti

MUDANEWS.COM – Dalam literatur kolonial Belanda, peristiwa perlawanan ini disebut dengan Perang Batak, sedangkan di pihak lawan lebih dikenal dengan Perang Sunggal atau tanduk benua. Dinamakan Perang Sunggal karena titik awal perlawanan bermula dari wilayah Sunggal dan Urung Sunggal Serbanaman yang merupakan lembaga adat dan pemerintahan lokal adalah titik pusat koordinasi dan simbol dari perlawanan tersebut.

Perkembangan ekonomi kapitalisme di belahan Eropa mulai dari abad ke-17 membawa dampak ke berbagai belahan dunia lainnya. Salah satu wilayah yang tidak luput dari pengaruh itu adalah Sumatra Timur. Kualitas mutu tembakau Deli sebagai pembalut cerutu terbaik menggoda para kapitalis untuk menguasai lahan-lahan kepunyaan rakyat.

Pihak Belanda melalui tangan para investor perkebunan tembakau mulai bertindak semena-mena dengan menyeroboti tanah-tanah rakyat. Hal ini dianggap penghinaan oleh rakyat terutama suku Karo yang tinggal di daerah pedusunan Deli. imbas dari inu mulailah rakyat karo yang tinggal dalam pedusunan menganggu perkebunan Belanda yang wujud dari ketidak senangan mereka terhadap klaim sepihak Sultan Deli dan Sultan Langkat atas tanah-tanah mereka yang kemudian dikontrakkan oleh sultan-sultan itu kepada pihak investor perkebunan.

Menanggapi gejolak yang ada, maka pada bulan Desember 1871, Datuk Badiuzzaman selaku Raja Urung Sunggal Serbanyaman beserta kerabat dan orang-orang dekatnya, termasuk orang-orang Karo dari pegunungan mengadakan rapat rahasia di sebuah kebun lada.

Rapat ini dihadiri oleh Datuk Kecil Surbakti (Mahini), Datuk Jalil Surbakti, Datuk Sulong Barat Surbakti, Nabung Surbakti (Pulu Jumaraja) selaku komandan pasukan orang Karo pegunungan, dan Tuanku Hasyim mewakili Panglima Nyak Makam sebagai komandan Laskar Aceh, Alas dan Gayo.

Hasil pikir dari pertemuan itu adalah kesepakatan seluruh pihak yang hadir untuk menentang dan mempertahankan setiap jengkal tanah warisan leluhur dari penyerobotan pihak Belanda. Selain itu, juga disepakati bahwa seluruh pihak yang hadir untuk secara bersama-sama mengusir para penjajah yang biadab.

akhirnya genderang Perang Sunggal tak terelakkan, gendrang pertama sekali ditabuh pada bulan Mei tahun 1872, pada saat terjadi peristiwa tembak menembak antara pasukan Sunggal dengan pasukan Belanda di berbagai tempat.

Pada peristiwa tembak menembak ini para pejuang Sunggal menewaskan dua serdadu Belanda serta melukai beberapa orang termasuk komandan Letnan Lange. Pada tanggal 24 Juni 1872, pasukan Datuk Sulung Barat Surbakti berhasil menghancurkan pasukan Belanda di Sapo Uruk dan Tanduk Benua.

Disebabkan perlawanan yang begitu luar biasa dari pejuang Sunggal, maka Pemerintah klonial Belanda melalui Asisten Residen Riau, Locker de Bruijne, mencoba untuk menyelesaikannya melalui jalur diplomasi. Raja Urung Serbanyaman, Datuk Badiuzzaman Surbakti, beserta beberapa orang pengulu kampung Karo Dusun lainnya dikumpulkan. Datuk Badiuzzaman Surbakti diminta secara paksa untuk memerintahkan para pejuang Sunggal menghentikan perlawanan dan pulang ke rumah masing-masing. Namun, permintaan Belanda itu ditolak olehnya dan ia pun dikenakan hukuman tahanan kota.

Meski status tahanan kota, Datuk Badiuzzaman Surbakti sebagai pemimpin perjuangan tidak mengenal kata mundur. Dibantu kerabatnya selaku komandan lapangan para pasukan Sunggal terus melancarkan gerilya terhadap aset perkebunan Belanda.

Komunikasi antara Datuk Badiuzzaman Surbakti selaku pimpinan dengan para komandan lapangan dilakukan melalui perantaraan kurir garam. Walaupun terus dimata-matai, melalui kontak rahasia yang cukup rapi ini, pihak Belanda tidak punya alasan untuk menangkap Datuk Badiuzzaman secara resmi.

Dalam laporan kontrolir Deems 12 Juni 1872, pasukan Sunggal mendapat bantuan oleh Wan Musa dari Kejuruan Sinembah dan Tengku Sulong Hebar dari Kejuruan Selesai. Di samping itu, Kejuruan Bahorok, Kejuruan Stabat Tan Mahidin juga orang-orang Karo di Langkat Hulu mendukung para pejuang Sunggal setelah mereka mengadakan rapat di Tanjung Jati.

Setelah rapat itu, para pejuang itu mulai membakari bangsal-bangsal tembakau dan rumah-rumah tuan kebon Belanda. Akibatnya, produksi tembakau berhenti. Para Tuan Kebon berlarian mengungsi ke Labuhan Deli.

Sumber : https://steemit.com/perjuangan/@abbasnst/perang-sunggal-tanduk-benua-68f4150f613f