Peringatan Allah kepada Orang Kaya yang Ingkar

Peringatan Allah kepada Orang Kaya yang Ingkar
Hasanuddin, Ketua Umum PB HMI 2003-2005.

Oleh : Hasanuddin
(Ketua Umum PB HMI 2003-2005)

MUDANEWS.COM – Pada setiap masa, selalu terjadi adanya sekelompok orang yang menguasai sumber-sumber perekonomian di suatu negara. Apa yang kita alami di tanah air ini bukan hal baru dalam sejarah peradaban manusia. Ketimpangan ekonomi bukan fenomena khas Indonesia. Itu terjadi di seluruh belahan dunia. Karena memang pesan-pesan Allah itu ditujukan tidak khusus bagi suatu masyarakat, atau negeri tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia.

Situasi sosial politik kita saat ini, sesungguhnya sedikit banyaknya di pengaruhi oleh situasi ekonomi nasional yang berjalan timpang. Tidak berkeadilab sosial. Jauh dari sila kelima Pancasila. Ironisnya, tiap-tiap rezim pemerintahan yang berkuasa, selalu memperoleh kritik dari berbagai kalangan prihal ketimpangan gini ratio ini. Tapi kembali berulang dan berulang, bahwa tiap rezim pemerintahan tidak pernah serius melakukan pembenahan.

Amuk massa yang mudah terjadi, dapat kita identifikasi sebab-sebabnya sebagai akibat dari ketidakadilan ekonomi. Lalu perlahan berkontraksi dengan propaganda perebutan politik kekuasaan, yang dimainkan oleh para politisi.

Gelombang demonstrasi menolak omnibus law, tidak semata karena faktor legal formal, bahwa faktanya UU tersebut cacat formal dan cacat materiil, namun juga telah membelah masyarakat dalam dua arus pro-kontra.

Jika anda melakukan shearching di google dengan keywords “menyambut baik omninus law” maka nyata yang muncul dalam pemberitaan berbagai media adalah kalangan the have. Orang-orang kaya, seperti pengusaha besar, hingga bank dunia yang menyambut baik bill ini. Namun, jika anda ketika keywords “menolak omnibus law”, maka yang muncul adalah kalangan dari golongan yang secara ekonomi rata-rata menengah ke bawah. Ini fenomena yang rentan menyulut konflik class. Rentan memicu kerusuhan, apalagi struktur penguasaan ekonomi nasional kita, jika dikaitkan dengan etnisitas maupun religiusitas amat terang menderang dikuasai kelompok tertentu.

Mencermati hal demikian, perlu kita kembali kepada Al-Quran sebagai pedoman kita dalam menyikapi suatu persoalan.

Allah swt berfirman dalam surah Al-Mudatsir ayat 11-15 sebagai berikut:

“Biarkan Aku sendiri yang menangani orang yang telah Kuciptakan dalam keadaan sendiri. Dan yang kepadanya telah Kuberikan sumber-sumber kekayaan yang luas. Dan anak-anak sebagai saksi. Dan yang telah diberi kesempatan dalam hidupnya serta keluasan sedemikian rupa. Sungguhpun begitu, dengan tamak dia menginginkan agar Aku memberinya bahkan lebih banyak lagi (rakus). (Q.S. Al-Mudatsir ayat 11-15. Terjemahan dari Tafsir The Message).

Allah swt mewanti-wanti umat Islam, mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, agar tidak mengambil tindakan, tidak menghukumi mereka, tidak menjarah atau mengusir mereka, yang telah Allah berikan padanya kelimpahan kekayaan, sekalipun mereka berprilaku tamak dan rakus.

Allah sendiri yang akan membuat perhitungan dengan makhluk-Nya, termasuk kepada orang-orang kaya yang tamak dan takus ini.

Demikianlah yang Allah sampaikan pada ayat 16-17 pada surah ini juga sebagai berikut:

“Sekali-sekali tidak, sungguh, terhadap pesan-pesan Kamilah dengan sengaja dan keras kepala dia berketetapan hati untuk melawan. Maka, Aku akan memaksanya menjalani pendakian berat yang amat menyakitkan”.

Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran, dan semoga Allah swt mengampuni dosa dan kesalahan kita semua.

Depok, 20 Oktober 2020