Membungkus dengan Kegelapan

Membungkus dengan Kegelapan
Hasanuddin, Ketua Umum PB HMI 2003-2005.

Oleh : Hasanuddin
(Ketua Umum PB HMI 2003-2005)

MUDANEWS.COM – Surah ke 81 dalam Al-Quran adalah Surah At-Takwir, yang artinya “membungkus dengan kegelapan”, yang kami jadikan judul pada tulisan ini.

Tiga ayat pertama pada awal sebagai berikut:

Audzu billahi minasyaithonirrajiim, bismillahirrahmanirrahiim

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ (1) وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ (2) وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ (3)

“Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan”.

Ayat ini merupakan metonimia dari situasi yang dialami matahari, dan planet lainnya jelang terjadinya kiamat, yang pasti akan terjadi pada masanya. Sebagai metonimia, maka ayat ini juga memberi gambaran tentang kejatuhan seorang penguasa di suatu negeri, akibat sang penguasa itu tidak lagi memperoleh pancaran cahaya Ilahi, sehingga diliputi atau terbungkus dengan kegelapan. Informasi yang diterimanya sesat, namun dia tidak lagi mampu membedakan benar dan salah, baik dan buruk.

Kegelapan yang membungkus matahari ini, disusul dengan meredupnya wibawa para pembesar-pembesar negeri yang menemaninya dalam memimpin pemerintahan. Diibaratkan dengan bintang-bintang atau planet yang kehilangan cahayanya, sering dengan tiadanya cahaya matahari yang dapat mereka pantulkan. Ketika hal ini terus terjadi, oligharki yang diibaratkan dalam ayat ini sebagai gunung-gunung akan dibuat sirna.

Tentu saja proses runtuhnya oligharkhi ini semua dalam kuasa dan kendali Allah swt, yang pasti tiba saatnya.

Kondisi sosial tentu akan mengali kekacauan, dan hal-hal yang baik jadi terabaikan. Hal ini digambarkan dengan ayat keempat sebagai berikut:

وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ (4

“Dan tatkala unta-unta betina yang sedang mengandung, dan hampir melahirkan dibiarkan terlantar”.

Seolah menggambarkan bagaimana para petani garam yang sedang surplus produksi, namun sia-sia karena harganya rendah, sehingga para petani garam membuang garam mereka di jalan-jalan sebagai aksi protes.

Rangkaian ayat ini selanjutnya secara berurutan memberikan gambaran tentang bagaimana situasi yang terjadi menjelang kiamat. Yang jika di ikuti satu-persatu dan ditafsirkan dalam konteks kehidupan sosial suatu masyarakat yang pemimpinnya sedang diselimuti kegelapan, kita akan mudah memahami apa step by step dari yang akan dialami, jika sekiranya Allah swt tidak memberikan pertolongan-Nya.

Pertolongan Allah swt yang dimaksud adalah Al-Quran.
Allah SWT berfirman;

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ (27)

“Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus”. (Q.S. At-Takwir ayat 27)

Kendati demikian hanya orang-orang yang Allah swt telah beri petunjuklah yang mampu menempuh jalan yang lurus ini. Surah ini ditutup dengan firman Allah swt:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (29)

“Dan kalian tidak dapat menghendaki/menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”.

Semoga dapat menjadi bahan renungan yang mendatangkan taufiq dan hidayah Allah swt kepada kita semua.

Dan semoga negeri kita ini terhindar dari apa yang disampaikan Allah dalam surah at-Takwir ini.

Billahitaufiq Wal Hidayah

Depok, Selasa, 20 Oktober 2020