Kubu Pertahanan Kerajaan Langkat Lama di Jentera Malay Mirip Benteng Putri Hijau Kerajaan Aru

Kubu Pertahanan Kerajaan Langkat Lama di Jentera Malay Mirip Benteng Putri Hijau Kerajaan Aru
Kubu Pertahanan Kerajaan Langkat Lama di Jentera Malay Mirip Benteng Putri Hijau Kerajaan Aru

MUDANEWS.COM – Ditemukan tangga di suatu kubu pertahanan yang berada di situs sejarah Jentera Malay sebagai pusat pemerintahan kerajaan Langkat lama yang berbentuk negara federal/federasi atau negara kota (city state) atau dalam istilah Melayunya dikenal dan di sebut sebagai Bandar Diraja atau Persekutuan Tanah Melayu Langkat sejak tahun 1750 hingga 1885 yang terdiri dari Kerajaan atau Bandar Diraja Bahorok, Selesai, Pungai, Bingai dan Stabat dengan pusat pemerintahannya berada di Kota Dalam dan Jentera Malay.

Kubu pertahanan ini terbuat dari tanah seperti yang terdapat di Benteng Putri Hijau yang di bangun oleh Kerajaan Melayu Aru sebelum di teruskan menjadi Kerajaan Melayu Langkat. Kubu pertahanan ini merupakan benteng Istana Jentera Malay yang di bangun oleh Raja Tuah Hitam bin Raja Badiuzzaman yang setelah berhasil di duduki Belanda akhirnya konsep benteng tanah ini di tiru Belanda untuk membuat Tanggul atau di kenal dengan istilah Benteng Belanda yang di bangunnya di kawasan sepanjang aliran Sei Wampu.

Namun, berdasarkan Catatan John Anderson selaku utusan dagang Kerajaan Inggris yang berkedudukan di Pulau Pinang (Malaysia) dalam bukunya yang berjudul Mission to the East Cost of Sumatra (1823), Raja Tuah Hitam berhasil dipukul mundur setelah Kerajaan Siak Sri Indrapura berhasil menduduki Kota Dalam.

Dalam suatu ekspansi militer pada 1818 sehingga Raja Tuah Hitam lari ke Deli menjumpai menantunya Sultan Panglima Mangedar Alam untuk mendapatkan bantuan Askar, Senjata dan Amunisi hingga akhirnya pada 1823, Tuah Hitam bersama Laksamana Banding wafat di Sungai saat menembaki segerombolan Buaya yang membuat amunisi yang ada di perahunya meledak seketika saat hendak merebut kembali pusat pemerintahannya di Kota Dalam yang di duduki oleh Siak dengan mengangkat Raja Muda Ahmad selaku penguasa baru di wilayah tersebut.

Setelah Kota Dalam berhasil diduduki Siak pada 1818, kini giliran Jentera Malay digempur Hindia Belanda pada suatu agresi militer yang di pimpin oleh Elisa Netcher selaku Residen Riau saat itu dengan mengerahkan kapal perang dan pasukan yang bersenjata lengkap dengan agenda besarnya untuk menaklukan Kesultanan Aceh Darussalam yang masih begitu kuat pada waktu itu.

Agresi Militer Belanda ke Langkat di mulai sejak tahun 1862 hingga 1865 yang di kawasan situs Jentera Malay terdapat lokasi padang rumput merah yang saat itu penuh dengan darah para pejuang Melayu Langkat yang syahid, darahnya tertumpah di lokasi tersebut sebab gigih mempertahankan tanah tumpah darah kelahirannya dari serangan kafir Belanda beserta askar upahannya.

Di lokasi tersebut telah menewaskan ribuan putra-putri Melayu Langkat yang dipimpin oleh Stan Matsyekh selaku Raja Langkat terakhir yang sebelumnya telah di ajak berunding oleh Cats Baron De Raet selaku utusan Belanda pada 1862, namun tawaran kerjasama tersebut di tolak oleh Stan Matsyekh.

Stan Matsyekh pada akhirnya berhasil dijebak serta ditangkap Belanda dan sekutunya secara licik dalam suatu undangan perjamuan adat tanpa membawa askar diraja nya di Hamparan Perak pada Oktober 1865 sehingga memadamkan perjuangan Langkat melawan agresi Belanda.

Stan Matsyekh pun akhirnya dibawa dengan menggunakan kapal perang Dasson hingga di adili di Batavia dan diasingkan di Sukabumi Jawa Barat hingga wafat dan dimakamkan di Pelabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat pada Oktober 1885 dengan batu nisan bertulis ‘Raja Langkat October 1885’.

Bandar Diraja Jentera Malay setelah berhasil diduduki oleh Belanda ingin di ganti namanya menjadi ‘Holland’ sesuai dengan dokumen peta Belanda tahun 1886 dengan konsep bandar/kota pelabuhan seperti yang ada di negeri kincir angin tersebut seperti yang dilakukan Belanda di wilayah lainnya yang berhasil dikuasainya seperti di Jayakarta menjadi Batavia dan Bandar Aceh Darussalam menjadi Kuta Radja untuk menghilangkan jejak kejahatan perangnya dan mengubur sejarah peradaban suatu bangsa yang telah berhasil ditaklukkannya agar tidak mampu untuk bangkit kembali sebab sejarah dan jati diri bangsa telah di kubur.

Namun keinginan Belanda tersebut tak berhasil dan menjadi kenyataan sebab perlawanan rakyat Melayu Stabat terus menggelora dengan sistem perang gerilya nya hingga pada akhirnya Belanda memindahkan rencananya membangun kota Holland yang bercita rasa arsitektur bangunan eropa Belanda ke Kota Binjai sebagai pusat administrasinya di Langkat.

Penulis : Agusma Hidayat merupakan Wali Utama Pengurus Besar Majlis Belia Negeri (PB MBN) Langkat