Keramat Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi

Keramat Syekh Abdul Wahab Rokan Al-khalidi Naqsyabandi
Syekh Abdul Wahab Rokan Al-khalidi Naqsyabandi

MUDANEWS.COM, Langkat – Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi atau nama kecilnya biasa di sebut Abu Qasim. Lahir pada tanggal 28 September 1811 M dan wafat pada tanggal 27 desember 1926 M dengan usia kurang lebih 115 tahun , dan banyak sekali orang orang besar maupun biasa yang menziarahi kuburannya. Kuburannya dianggap orang-orang keramat.

Sejak kecilnya, telah kelihatan tanda-tanda Abu Qasim akan menjadi orang besar. Banyak kejadian kejadian luar biasa atas dirinya sejak masa belajar, yang kemudiannya akan meninggikan martabatnya di mata orang banyak. Ia belajar kadang kadang bermalam di rumah gurunya dan kadang kadang pulang.

Adapun bukti-bukti keramat Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi salah satunya adalah sebagai berikut:

– Pada saat selesai bergotong royong membangun terusan semacam anak sungai di Desa Babussalam. Tuan guru terjun ke air. Di sekitar itu banyak perahu. Beliau mendorong perahu-perahu itu dengan mudah, sedangkan menurut adat, perahu itu tidak dapat terdorong oleh beberapa orang.

– Pernah seorang laki-laki berlayar, namun perahunya bocor dan hampir tenggelam. Waktu itu ia pun meminta bantuan kepada Syekh Abdul Wahab Rokan berada di Babussalam, perahu itu pun akhirnya selamat dan tidak mengalami kerugian apapun. Menurut kabar pada waktu yang bersamaan Syekh Abdul Wahab sedang berada di kamarnya di kampung Babussalam dan mengangkat angkat piring tempurungnya beberapa kali. Seperti orang menimba air dalam perahu.

– Tatkala diadakan gotong royong, terjadilah keanehan atas dirinya. Waktu itu telah disediakan nasi 40 bungkus sedangkan orang yang turut bergotong royong ratusan orang. Karena bungkus nasinya tidak mencukupi, melihat hal itu Syekh Abdul Wahab menyuruh petugas yang bernama Selasa dan Abd. Gafar, untuk mengumpulkan bungkus nasi itu ke dalam sebuah bakul.

Kemudian Syekh Abdul Wahab menutupinya dengan selendangnya lalu berdoa. Selanjutnya di suruhnya petugas itu untuk membuka selendangnya, dan tak disangka nasi bungkusnya mencukupi untuk dibagikan.

Penulis: Ahmad Zulfahmi Fikri