Bodohi Umat, Lawan Institute Kecam Pegiat Nikah Muda

Bodohi Umat, Lawan Institute Kecam Pegiat Nikah Muda
Muhammad Mualimin (pakai baju batik)

MUDANEWS.COM, Jakarta – Direktur Lingkar Wajah Kemanusiaan (LAWAN Institute), Muhammad Mualimin mengecam Pegiat Nikah Muda yang mempromosikan pelanggaran Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan melalui sosial media.

Menurut Koordinator Umat Anti-Pernikahan Dini (UAPD) ini, menikah di umur masih anak-anak merampas potensi sumber daya manusia nasional dan memundurkan daya saing Indonesia di kancah dunia internasional.

‘’Ustad-ustad dan aktivis sosial media yang cari untung dari membodohi umat harusnya dicegah oleh negara. Dalam UU Perkawinan, warga dapat menikah setelah usianya minimal 19 tahun. Lha mereka malah mendorong anak umur 16, 17, menikah. Apalagi hubungan seksual suami istri diglorifikasi seolah itu satu-satunya tujuan hidup. Apa pikiran mereka hanya melulu seks? Itu sungguh generasi yang memundurkan umat. Harusnya penajaman akal lebih utama ketimbang nafsu kelamin,’’ kata Mualimin di Jakarta, Kamis (14/5/2020).

Penulis novel ‘Gadis Pembangkang’ ini berpendapat, seorang untuk sampai ke tahap pernikahan perlu didukung banyak faktor. Mulai dari psikologis, kecerdasan dan kematangan pikir, kecukupan ekonomi, serta punya visi dalam memandang masa depan diri dan lingkungannya. Dan tidak pantas YouTuber mencari uang dengan membodohi anak-anak. Bagi Mualimin, itu pekerjaan yang kejam karena tega mengeksploitasi anak-anak Indonesia.

‘’Di Indonesia angka perceraian sangat tinggi. Kenapa? Karena sebab ekonomi dan pernikahan dini. Buat apa nikah muda kalau akhirnya ramai ramai cerai. Memangnya ustad pegiat nikah muda itu memberi tunjangan tiap bulan pada pengikut? Tidak. Jadi, kalau ada yang terprovokasi dan akhirnya menikah di usia anak, dia menanggung sendiri akibatnya. Sedangkan pegiat mendapat uang Google dari konten yang diunggahnya di YouTube. Ini tidak adil dan kejam,’’ tutur Pengurus BPL PB HMI ini.

Mantan Ketua Umum BPL HMI Cabang Jakarta Selatan ini menduga, terjadi semacam pembodohan terus-menerus yang dilakukan segelintir orang untuk menjerumuskan pengikut ke praktik hidup salah. Mualimin menilai, pegiat nikah muda memperalat anak-anak yang nalarnya belum dewasa untuk jadi komoditas ekonomi berbalut agama.

‘’Ustad sosmed itu kan dapat banyak sekali keuntungan dengan mewabahnya tren nikah muda. Mereka menjual konten di YouTube, jualan cadar, seminar pranikah, forum poligami. Kalau pikiran anak bangsa secupet itu, bagaimana umat islam bersaing dengan bangsa lain? ini sungguh memprihatinkan. Teknokrat berjuang memajukan negeri, eh, anak-anak muda kita malah dijerumuskan nikah dini. Kenapa tak promosikan kuliah, penelitian, petualangan, agar otak anak muda kita jadi dewasa dan berwawasan mendunia. Ayolah, hidup itu bukan hanya tentang seks antara suami istri. Hidup juga tentang karya, prestasi, gelar akademik dan peluang karir terhampar semuka bumi. Mereka itu sempit sekali pola pikirnya,’’ tambah Magister Hukum Universitas Nasional ini. Berita Jakarta, red