Memperbaiki Literasi

Memperbaiki Literasi
Wahyu Triono KS

MUDANEWS.COM – Mengapa umumnya orang lebih suka didengarkan atau ingin didengarkan dari pada menjadi pendengar?

Karenanya pula, orang lebih suka bicara dari pada mendengar. Atau orang lebih suka memfungsikan mulutnya ketimbang telinganya.

Begitu juga dengan era Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) dengan hadirnya berbagai media sosial dan Sistem Informasi Manajemen (SIM) dewasa ini, orang lebih terprovokasi untuk menulis apa saja meskipun tidak mendalam ketimbang membaca lebih mendalam.

*

Sebenarnya sejak masih berada di dalam kandungan kita lebih banyak diajari menjadi pendengar yang baik, dengan mendengarkan lantunan ayat suci atau musik klasik. Begitu lahir kita juga di azankan dan atau diqomatkan.

Namun setelah itu kecendrungannya kita lebih banyak dilatih agar cakap dan mahir bicara atau menulis ketimbang mendengar atau membaca. Sampai dewasa kita banyak mengikuti latihan berkomunikasi, pidato, public speaking dan yang sejenisnya begitu juga dengan latihan menulis dan yang sejenisnya.

Orang yang terampil dan mahir bicara itu dianggap keren. Atau orang yang bisa menulis banyak hal melalui media sosial itu hebat. Seperti ada kesimpulan umum tidak sekeren dan sehebat kalau orang hanya mampu menjadi pendengar yang baik atau sekedar menjadi pembaca yang baik.

Sebaiknya memang orang lebih dominan dapat dilatih dan belajar menjadi pendengar yang baik atau pembaca yang baik. Paling tidak memiliki keseimbangan antara menjadi pembicara dan penulis yang baik dengan menjadi pendengar dan pembaca yang baik.

Mengapa kebanyakan orang-orang yang lebih dominan melatih dirinya untuk menjadi pendengar dan pembaca yang baik pasti memiliki kemampuan berbicara dan menulis yang lebih baik, dalam dan berkualitas. Analisisnya lebih jernih, menarik dan memiliki daya pesona dan daya magis sprirual penuh dengan hikmah dan sering menggetarkan jiwa dan sanubari kita.

Karena kemampuan literasi membaca dan mendengar yang baik dan berkualitas akan lebih melatih kita memiliki kemampuan yang mendalam untuk meresapi, memahami berbagai data, informasi, fenomena dan gejala serta memiliki daya analisis yang lebih obyektif dan jernih dengan menilai sesuatu dari berbagai perspektif.

Bagi para pengambil kebijakan, penentu keputusan baik di organisasi bisnis maupun organisasi publik dewasa ini telah banyak mengadopsi Teori U agar dapat menerima dan mengolah data dan informasi secara lebih dalam untuk secara praktis dapat diterapkan dalam berbagai pelayanan kepada pelanggan atau masyarakat.

Teori U yang digambarkan oleh Otto Schamer meletakkan pondasi bahwa seseorang haruslah berani untuk menerima dan menjawab situasi tidak hanya dengan cara mengunduh, namun juga melihat sepenuhnya (open mind), mengerti sepenuhnya (open heart) dan menerima sepenuhnya (open will), untuk kemudian mengembangkan keputusan berdasarkan hasil penerimaan itu.

Schemer melihat bahwa kontruksi sistem thingking konvensional telah berhasil mengajak orang untuk open mind (lewat pemahaman atas events, patterns dan structure) open heart (lewat pemahaman atas mental model), namun belum sepenuhnya mengeksplorasi bagaimana sumber terdalam di diri kita mampu melihat dan menerima situasi tersebut dengan jernih melalui open will.

Tahapan Teori U itu terdiri dari: Pertama, Co-Initiating (Mulai Bersama): membangun niat umum. Berhenti dan dengarkan orang lain serta panggilan hidup seperti apa yang harus anda lakukan.

Kedua, Co-Sensing (Merasakan Bersama): mengamati, mengamati, mengamati. Pergi ke tempat yang paling potensial dan dengarkan dengan pikiran dan hati yang terbuka lebar.

Ketiga, Presencing: terhubung ke sumber inspirasi dan kehendak bersama. Pergi ke tempat keheningan dan biarkan pengetahuan yang mendalam muncul.

Keepat, Co-creating (Mencipta Bersama): membentuk dasar (prototype) hal baru dalam contoh nyata untuk mengeksplor masa depan dengan bertindak.

Kelima, Co-evolving (Berkembang Bersama): mewujudkan hal baru dalam ekosistem yang memfasilitasi penglihatan dan tindakan dari keseluruhan.

*

Di tengah lautan dan samudera data dan informasi yang luas kita memang membutuhkan kemampuan iterasi yang paripurna yaitu literasi daya baca, literasi budaya, literasi teknologi dan literasi keuangan.

Seluruh tahapan Teori U yang diperkenalkan oleh Otto Schamer dan mulai diterapkan di organisasi bisnis dan publik di Indonesia diharapkan akan memandu, menata dan memperbaiki literasi kita, sehingga seluruh kebijakan dan keputusan yang kita ambil dapat bersifat efektif, efisien dan akuntabel.

Dengan kemampuan itu maka literasi yang secara aplikatif menggabungkan kemampuan dan kemahiran membaca, mendengar, bicara dan menulis dengan memanfaatkan perangkat teknologi semestinya dapat mejadikan kita tidak terjerumus dalam sensasi berita hoax dan akan meningkatkan keuangan dan kesejahteraan setiap orang yang senantiasa menata dan memperbaiki kemampuan literasinya. Like & Share. [WT, 13/02/2020]

Oleh: Wahyu Triono KS
Dosen FISIP Universitas Nasional