73,7 % Anak Indonesia Mengalami Kekerasan di Rumahnya Sendiri

73,7 % Anak Indonesia Mengalami Kekerasan di Rumahnya Sendiri
Net/Ilustrasi.

MUDANEWS.COM –

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Seperti yang kita lihat sekarang ini, kekerasan terhadap anak kian membuncah di dunia terutama di Negara kita ini. Tidak hanya kekerasan fisik melainkan juga berbagai kekerasan lainnya seperti yang kami dapatkan dari sumber https://tirto.id/737-persen-anak-indonesia-mengalami-kekerasan-di -rumahnya-sendiri-cAnG.

Ironisnya, pelaku yang cukup besar melakukan kekerasan pada anak adalah orang terdekat, yaitu keluarga dan pengasuh. Selain dilakukan dan dialami secara rutin, kekerasan juga diterima secara sosial, dan akhirnya dianggap sebagai bagian normal dari pertumbuhan dan perkembangan anak.

Menurut sumber di atas, dapat kami simpulkan bahwa angka persentase terhadap kekerasan anak paling banyak terdapat pada kekerasan emosional dan korban terbanyak terdapat pada anak perempuan. Kekerasan terhadap anak mencakup semua bentuk kekerasan fisik atau mental, cedera dan pelecehan, pengabaian atau perlakuan lalai, penganiayaan atau eksploitasi, termasuk pelecehan seksual. Kekerasan terhadap anak tak cuma mencakup kekerasan fisik dan seksual, tetapi juga kekerasan emosional, pengabaian, dan eksploitasi.

Ditinjau dari QS. At-Tahrim [66]:6, dapat kita lihat bahwa kewajiban seseorang adalah menjaga dan memelihara diri serta keluarganya dari siksa neraka yaitu dengan dimulai dari diri sendiri, kemudian dilanjutkan kepada keluarga serta masyarakat. Seperti halnya orangtua, dimana mereka memiliki kewajiban untuk melindungi anaknya serta mendidiknya untuk amar ma’ruf nahi munkar tapi pada kenyataannya justru orangtualah yang banyak membuat anaknya menjadi tidak bermoral bahkan orangtualah yang merusak kehidupan anaknya seperti menyiksa, membunuh bahkan pelecehan seksual.

Hal itu terjadi tak lain karena kesalahan orangtua, banyak faktor yang mengakibatkan anak sebagai korban orangtuanya. Seperti broken home yang mengakibatkan kebutuhan yang kurang didapatkan terutama oleh seorang suami yang pada akhirnya dilampiaskan pada anak mereka, terutama pada remaja sekarang ini. Atau karena keadaan ekonomi yang membuat mereka frustasi serta mengalami tekanan batin yang berujung pada penyiksaan terhadap anak di bawah umur bahkan berujung pada kematian.

Ditinjau dari ayat di atas sebagaimana yang dijelaskan adanya perintah untuk memelihara diri serta keluarga dari api neraka. Api neraka di sini dimaksudkan sebagai akibat yang didapat dari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat islam maupun norma-norma yang terdapat dalam masyarakat. Jadi, pemecahan masalah yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kekerasan terhadap anak yaitu dengan menanamkan moral pada diri sendiri kemudian terhadap keluarga atau masyarakat.

Terutama kewajiban sebagai orangtua khususnya kepala keluarga, mereka harus dapat me-manage waktu untuk kebersamaan keluarga terutama untuk anak mereka yang masih sangat memerlukan kasih sayang serta perhatian lebih dari kedua orangtua nya apalagi mereka yang masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, yang mana pada masa perkembangan sifat, moral, akhlak serta rasa kekeluargaan sangat bergantung dari apa yang ia dapatkan terutama dari rumah yang dibimbing oleh kedua orangtuanya sendiri kemudian disusul dengan cara berinteraksi serta bergaul di lingkungan masyarakatnya.

Jadi kesimpulannya, untuk mencegah hal tersebut sangat perlu untuk kita melabeli diri dengan berbagai wawasan yang intelektual yang bernuansa islami serta adat istiadat yang terdapat dalam masyarakat serta menjadikan diri sebagai aktor terbaik untuk diri sendiri kemudian untuk keluarga dan orang lain di sekitar kita.

Penulis: Qurdis Rizka dan Erija