Kader-Kader HMI Dalam Perspektif Eksistensialisme

Kader-Kader HMI Dalam Perspektif Eksistensialisme
Kader HMI

MUDANEWS.COM – Saat ini sungguh “asyik” melihat dan membaca status-status ataupun story-story di akun media sosial online Kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Mengapa saya katakan “asyik”? Karena fenoma ini memberi tanda-tanda bahwa dinamika HMI baik secara internal maupun eksternal masih hidup.

Terlepas dari berbagai macam penilaian terhadap HMI saat ini yang membandingkan HMI masa lalu. Dua rilis pers dari saudara Muallimin Melawan yang diterbitkan mudanews.com dan satu tulisannya yang “pedas” diterbitkan qureta.com menjadi perbincangan hangat secara internal bersama ramainya kader-kader membicarakan Kongres HMI (dalam HMI di sini adalah HMI Dipo) yang ke-31. Mengapa hal-hal ini menjadi bahan perbincangan diberbagai grup media sosial (medsos) online dan mengudara di story-story atau status akun mendsos online, tentu memiliki cerita tersendiri.

Secara eksternal, saat ini dan atau beberapa hari lalu, HMI yang dalam hitungan jari akan berusia 73 tahun (5 Februari 1947 – 5 Februari 2020) mengalami “serangan” dan kritikan yang cukup “pedas”. Kita misalkan salah satu artikel yang pernah dimuat di website Mojok.co. Alhasil, tidak sedikit kader-kader yang “kebakaran jenggot” dengan cepat melakukan apologia.

Autokritik dan kritik ini pun menunjukkan bahwa HMI secara eksistensi masih ada di negara ini. Dualisme Pengurus Besar HMI saat ini yang tak kunjung ishlah menjadi salah satu bahan “sunggingan” orang banyak, tidak terlepas mereka-mereka yang sengaja dan sukses “menggoyang” HMI dari intern dan ekstern.

Selain itu, perilaku kader-kader HMI, bagian secara kolektif maupun individual menjadi bahan perhatian. Aktivitas harian, mingguan, bulanan hingga tahunan hanya sekedar angin lalu. Dan ini banyak yang mengatakan hanya sekedar eksistensi.

Jika demikian, perlu kita mengakaji sedikit tentang eksistensi ini. Eksistensi yang bagaiamanakah dimaksudkan itu? Salahkah jika HMI atau kader-kadernya membangun eksistensinya? Apakah eksistensi itu perlu? Dan eksistensi apakah yang seharusnya dibangun oleh kader-kader HMI? Salahkah jika kita menjadi yang eksistensialisme?

Kader-Kader HMI Dalam Perspektif Eksistensialisme

Tidak sedikit orang yang gagal memahami tentang eksistensi ini. Kata “eksistensi” dan atau “eksistensialisme” sering dijadikan berkonotasi negatif tanpa terlebih dahulu memahami eksistensi itu sendiri. Padahal, eksistensi ini merupakan hal yang sangat kita perlukan sebagai manusia yang hidup di muka bumi ini. Untuk itu sangat perlu sekali kita memahami eksistensi, sehingga kita akan ketahui eksistensi yang seperti apakah yang buruk itu. Khusus pada kader-kader HMI agar bisa membangun eksistensi yang baik dan menghindari yang buruk.

Secara etimologis, eksistensialisme berasal dari kata eksistensi. Sedangkan eksistensi itu sendiri berasal dari bahasa latin existere yang berarti muncul, ada, timbul, memilih keberadaan aktual. Ada pun pengertian eksistensialisme itu sendiri adalah gerakan filsafat yang menentang esensialisme, pusat perhatiannya adalah situasi manusia. (Lorens Bagus, 2005).

Eksistensialisme ini merupakan paham yang sangat berpengaruh di abad modern ini. Paham ini pun dapat menyadarkan manusia betapa pentingnya kesadaran diri dalam kehidupan di dunia ini. Lorens Bagus dalam Kamus Filsafat yang disusunnya menjelaskan bahwa eksistensialisme itu memiliki ciri-ciri, yaitu: “a). Motif pokok yakni cara manusia berada, hanya manusialah yang bereksistensi. Dimana eksistensi adalah cara khas manusia berada, dan pusat perhatian ada pada manusia, karena itu berisfat humanistis; b). Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara aktif. Bereksistensi berarti berbuat, menjadi, merencanakan. Setiap saat manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaaannya; c). Di dalam filsafat eksistensialisme manusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk. Pada hakikatnya manusia terikat pada dunia sekitarnya, terlebih-lebih pada sesama manusia; d). Filsafat eksistensialisme memberi tekanan pada pengalaman konkret, pengalaman eksistensial.

Secara pengertian di atas jelas bahwa eksistensi dan atau eksistensialisme tidaklah berkonotasi negatif dan secara filsafat eksistensialisme merupakan gerakan filsafat yang menyadarkan kita betapa pentingnya keberadaan peran manusia dalam kehidupan ini. Eksistensi dan atau Eksistensialisme ini pun merupakan bentuk konkret dari keberadaan manusia yang harus melakukan sesuatu untuk melepaskan dirinya dari ikatan dari dunia sekitar yang membuat dirinya sebagai manusia kehilangan arah. Sehingga bereksistensi ini menciptakan diri menjadi manusia yang aktif.

Selanjutnya, membicarakan terkait eksistensi atau eksistensialisme ini, kita tidak bisa melepaskan diri dari seorang pemikir atau filsuf yang bernama Soren Keirkegaard. Dia adalah seorang tokoh eksistensialisme yang pertama kali memperkenalkan “eksistensi” di abad ke-20. Keirkegaard memiliki pandangan bahwa seluruh realitas eksistensi hanya dapat dialami secara subjek oleh manusia, dan mengandaikan bahwa kebenaran adalah individu yang bereksistensi. Keirkegaard juga memiliki pemikiran bahwa eksistensi manusia bukanlah statis namun senantiasa dinamis. Maksudnya, manusia selalu bergerak dari kemungkinan untuk menjadi suatu kenyataan. Melalui proses tersebut, menurut Keirkegaard, manusia memperoleh kebebasan untuk mengembangkan suatu keinginan yang manusia miliki sendiri. Ia memandang eksistensi manusia terjadi karena adanya kebebasan, dan kebebasan itu ada disebabkan tindakan yang dilakukan manusia tersebut.

Singkatnya, eksistensi menurut Keirgaard adalah suatu pilihan yang berani diambil oleh manusia untuk menentukan bagaimana hidupnya, dan menerima konsekuensi yang telah manusia ambil. Jika manusia tidak berani untuk melakukannya maka manusia tidak bereksistensi dengan sebenarnya.

F. Budi Hardiman (2007) menjelaskan Keirkegaard membagi eksistensi itu menjadi tiga tahap. Pertama, Tahap Estetis (The Aesthetic Stage). Tahap ini merupakan situasi keputusasaan sebagai situasi batas dari eksistensi yang merupakan ciri khas tahap tersebut. Adapun dalam tahap estetis ini terdapat pengalaman emosi dan sensual memiliki ruang yang terbuka. Kierkegaard menerangkan adanya dua kapasitas dalam hidup ini, yakni sebagai manusia sensual yang merujuk pada inderawi dan makhluk rohani yang merujuk pada manusia yang sadar secara rasio. Pada tahap pertama ini manusia cenderung pada wilyah inderawi. Jadi, kesenangan yang akan dikejar berupa kesenangan inderawi yang hanya didapat dalam kenikmatan segera. Sehingga akan berbahaya jika manusia akan diperbudak oleh kesenangan nafsu, di mana kesenangan yang diperoleh dengan cara instan. Dalam tahap ini tidak ada pertimbangan baik dan buruk, yang ada adalah kepuasaan dan frustasi, nikmat dan sakit, susah dan senang, ekstasi dan putus asa.

Terkait tahap ini Keirkegaard lebih lanjut menjelaskan bahwa manusia estetis memiliki jiwa dan pola hidup berdasarkan keinginan-keinginan pribadinya, naluriah dan perasaannya yang mana tidak mau dibatasi. Sehingga manusia estetis memiliki sifat yang sangat egois dalam mementingkan dirinya sendiri. Jadi dapat dikatakan bahwa manusia dalam tahap estetis pada dasarnya tidak memiliki ketenangan. Hal ini dikarenakan manusia ketika sudah memperoleh satu hasil yang di inginkannya ia akan berusaha mencapai yang lainnya untuk memenuhi kebutuhan inderawinya. Manusia estetis ini juga akan mengalami kekurangan dan kekosongan dalam kehidupannya, akibatnya manusia yang seperti ini tidak dapat menemukan harapannya. Adapun manusia dapat kleluar dari zona ini yakni dengan mencapai keputusasaan. Di mana Ketika manusia estetis mencari kepuasan secara terus menerus dan tidak kunjung menemukannnya, maka diposisi seperti itulah manusia dapat berputus asa (despair).

Kedua, Tahap Etis (The Ethical Stage). Tahap etis ini merupakan lanjutan dari tahap estetis. Tahap ini lebih tinggi dari
tahap estetis yang hanya berakhir dengan keputusasaan dan kekecewaan. Sedangkan tahap etis ini dianggap lebih menjanjikan untuk memperoleh kehidupan yang menenangkan.

Manusia yang berada di tahap ini sangat mempertimbangkan kaidah-kaidah moral. Dalam tahap etis, individu telah memperhatikan aturan-aturan universal yang harus diperhatikan. Di mana individu telah sadar memiliki kehidupan dengan orang lain dan memiliki sebuah aturan. Sehingga dalam suatu kehidupan akan mempertimbangkan adanya nilai baik atau buruk. Pada tahap inilah manusia tidak lagi membiarkan kehidupannya terlena dalam kesenangan inderawi. Manusia secara sadar diri menerima dengan kemauannya sendiri pada suatu aturan tertentu. Bahkan pada tahap etis manusia melihat norma sebagai suatu hal yang dibutuhkan dalam kehidupannya. Dalam tahap ini manusia telah berusaha untuk mencapai asas-asas moral universal. Namun, manusia tahap etis masih terkungkung dalam dirinya sendiri, karena dia masih bersikap imanen, artinya hanya mengandalkan kekuatan rasionya saja.

Terakhir, yang ketiga adalah Tahap Religius (The Religious Stage). Tahap ini adalah tahap eksistensi yang paling tinggi menurut Keirgaard. Save M Dagun (1990) menjelaskan, “Keputusasaan merupakan tahap menuju permulaan yang sesungguhnya, dan bukan menjadi final dalam kehidupan. Sehingga keputusasaan dijadikan sebagai tahap awal menuju eksistensi religius yang sebenarnya. Tahap ini tidak lagi menggeluti hal-hal yang konkrit melainkan langsung menembus inti yang paling dalam dari manusia, yaitu pengakuan individu akan Tuhan sebagai realitas yang absolut dan kesadarannya sebagai pendosa yang membutuhkan pengampunan dari Tuhan.”

F. Budi Hardiman menambahkahal yang semakna bahwa, “Pada dasarnya keputusasaan telah dianggap sebagai sebuah penderitaan yang mendalam dialami oleh individu. Hal ini dapat terjadi jika keputusasaan dilakukan tanpa adanya kesadaran atau sadar namun tidak memiliki respon yang positif atau kehendak dan aksi untuk membenarkan, sehingga akan menyudutkan manusia pada jurang kehancuran. Kesadaran untuk membenarkan yang dimaksud adalah kemauan dari diri individu untuk sadar akan kekurangannya dan menyerahkan diri pada Tuhan. Dimana individu mengakui bahwa ada realitas Tuhan yang sebagai pedoman. Dengan demikian, individu jika mengalami problematika dalam hidupnya tidak akan mudah tergoyah. Adapun individu mengalami problem ia akan berpegang dengan tali yang sangat kuat yakni dengan keyakinan. Adapun pada tahap ini individu membuat komitmen personal dan melakukan apa yang disebut “lompatan iman”. Lompatan ini bersifat non-rasional dan biasa kita sebut pertobatan.”

Singkatnya, pada tahap terakhir ini Keirkegaard mengatakan satu-satunya jalan untuk sampai pada Tuhan adalah dengan iman atau kepercayaan. Ini lah yang dikatakannya loncatan kepercayaan. Hal ini tidak memiliki suatu formula yang objektif dan rasional. Akan tetapi, tahap ini berjalan secara subjektivitas individu yang diperoleh dengan iman.

Nah, dari tiga tahap eksistensialisme menurut Soren Keirkegaard yang kita bahas di atas tadi, muncul kembali sebuah pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama, di tahap manakah HMI atau Kader-kader HMI saat ini?

Apakah di tahap estetis yang cenderung hanya memenuhi kepuasan hawa nafsunya dalam suatu hal dan tidak memandang baik dan buruk akan tetapi hanya pada kepuasan dan frustasi, senang dan susah, ekstasi dan putus asa? Apakah kader HMI saat ini hanya ingin instan tanpa proses demi mencapai tujuan pribadinya dan terlena dengan godaan-godaan duniawi? Ataukah HMI saat ini eksistensinya ada di tahap etis dan religius?

Menurut saya, saat ini mayoritas Kader-kader HMI eksistensinya berada pada tahap pertama. Hilangnya independensi Kader-kader HMI, terjebaknya dalam politik praktis, saling rebut kekuasaan di HMI, dualisme PB HMI saat ini yang tak kunjung ishlah, dan adanya kader-kader HMI menjual HMI, membuktikan bahwa Kader-kader HMI itu berada dalam tahap pertama sebagaimana maksud Keirkegaard.

Sedangkan dalam eksistensi tahap kedua dan tahap ketiga nampaknya sudah mulai terkikis habis. Kader-kader yang terus mempertahankan eksistensi ini, yang berdampak baik pada HMI secara organisasi, perlu untuk dijaga agar eksistensi HMI sebagai organisasi mahasiswa dan sebagai anak kandung umat dapat terwujud lagi secara realitas.

Penutup
Kirannya kader-kader yang berada dalam tahap pertama secepatnya sadar menuju tahap kedua dan ketiga sebelum keputusasaan “menenggelamkannya” menjadi kader-kader yang frustasi, putus asa dalam kehidupan sehingga berbuat negatif dan jangan sampai ditenggelamkan oleh hawa nafsunya terhadap duniawi. Dan yang berada dalam tahap dua dan tiga harus tetap menjaga HMI.

Demikian tulisan ini, semoga ada manfaatnya untuk kita semua. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam tulisan sederhana ini. Wassalam!

Penulis: Ibnu Arsib (Instruktur HMI dan Penggiat Literasi di Sumut)