Mengenali Asas-Asas Berpikir

Mengenali Asas-Asas Berpikir
Ibnu Arsib menjadi pemateri diskusi

MUDANEWS.COM – Dalam ilmu logika ada patokan pokok yang tidak boleh dilepaskan dari aktivitas berpikir secara benar, yaitu asas berpikir. Dalam aktivitas penalaran ini pun kita tidak boleh lupa pentingnya asas berpikir. Mengapa demikian? Jawabnya adalah sebagaimana kita ketahui secara umum bahwa asas adalah pangkal atau asal dari mana sesuatu itu muncul dan dimengerti. Untuk sangat perlu kita mengenali dan memahami apa saja asas-asas yang dimaksudkan tadi.

Mengutip penjelasan dari Mundiri, maka asa berpikir atau asas pemikiran adalah pengetahuan di mana pengetahuan lain muncul dan dimengerti. Kapasitas asas ini bagi kelurusan berpikir adalah mutlak, dan salah benarnya suatu pemikiran tergantung terlaksana tidaknya asas-asas berpikir. Singkatnya asas berpikir benar adalah dasar daripada pengetahuan dan ilmu.

Dalam kajian-kajian ilmu berpikir atau ilmu logika, asas-asas pemikiran ini dapat dibedakan menjadi tiga. Asas pertama adalah asas identitas, asas kedua adalah asas kontradiksi, dan asas ketiga adalah asas penolakan kemungkinan ketiga.

Asas yang pertama ini, asas identitas, dalam bahasa Latinnya disebut principium identitatis, dan dalam bahasa Arabnya disebut qanun zatiyah. Asas ini adalah dasar dari seluruh pemikiran dan bahkan menjadi asas pemikiran yang lain. Prinsip asas identitas ini menyatakan bahwa sesuatu adalah dia sendiri bukan lainnya.

Maksudnya, jika kita mengakui bahwa sesuatu itu Z maka ia adalah Z dan bukan A, B, C atau Y. Perumusan asas identitas ini bila diberi perumusan akan berbunyi: “Bila proposisi itu benar maka benarlah ia”. Sebagai tambahan, maksud dari proposisi adalah susunan kata yang memuat pemikiran. Pemikiran yang disusun dalam kata-kata itulah yang disebut proposisi.

Asas yang kedua, asas kontradiksi atau penyebutan dalamnya bahasa lainnya adalah principium contradictoris (Latin) dan dalam bahasa Arab disebut qanun tanaqud. Asas ini memiliki prinsip dengan menyatakan bahwa pengingkaran sesuatu tidak mungkin sama dengan pengakuannya. Jika kita mengakui bahwa sesuatu itu bukan A maka tidak mungkin pada saat itu ia adalah A, sebab realitas ini hanya satu sebagaimana disebutkan dalam asas yang pertama tadi, asas identitas.

Hal ini dapat kita jelaskan dengan kata lain bahwa dua kenyataan yang kontradiktoris (bertentangan) tidak mungkin bersama-sama secara simultan. Jika dirumuskan, asas kontradiksi ini pun berbunyi: “Tidak ada proposisi (pemikiran) yang sekaligus benar dan salah”. Maksudnya, tidak mungkin suatu pemikiran itu mengandung unsur salah dan benar. Proposisi itu kalau tidak salah, ya benar. Jikalau tidak benar, ya salah.

Selanjutnya adalah asas berpikir yang ketiga, asas penolakan kemungkinan ketiga atau dengan bahasa lain disebut principium exclusi tertii dan qanun imtina’. Asas ini mengatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran kebenarannya terletak pada salah satunya.

Pengakuan dan pengingkaran merupakan pertentangan mutlak, karena itu di samping tidak mungkin benar keduanya juga tidak mungkin salah keduanya. Munncul sebuah pertanyaan, mengapa tidak mungkin salah keduanya? Bila pernyataan dalam bentuk positifnya salah berarti ia memungkiri realitasnya, atau dengan kata lain realitas ini bertentangan dengan pernyataannya.

Dengan begitu maka pernyataan berbentuk ingkarlah yang benar, karena inilah yang sesuai dengan realitas. Juga sebaliknya, jika pernyataan ingkarnya salah, berarti ia mengingkari realitasnya, maka pernyataan positifnya yang benar, karena sesuai dengan realitasnya.

Mundiri kembali menegaskan, pernyataan kontradiktoris kebenarannya terdapat pada salah satunya (tidak memerlukan kemungkinan ketiga). Jika kita rumuskan asas ini, maka akan berbunyi: “Semua proposisi (pemikiran) selalu dalam keadaan benar atau salah”.

Demikian tulisan sederhana ini, semoga ada manfaatnya untuk kita semua dalam aktivitas berpikir atau bernalar yang baik dan benar di kehidupan sehari-hari. Semoga![]

Penulis: Ibnu Arsib (Penggiat Literasi di Sumut).