Secangkir Kopi dan Sepenggal Cerita di Puncak Bukit Gabok

Secangkir Kopi dan Sepenggal Cerita di Puncak Bukit Gabok
Ibnu Arsib dan sahabat di Puncak Bukit Gajah Bobok

MUDANEWS.COM – Sudah tiga cangkir kopi tanpa si manis kuseruput dari awal aku menyindiri hingga pagi hari. Saat teman-temanku, kecuali satu teman lagi, sedang asyik membangun mimpi dan menormalkan energi karena telah mempersiapkan segala kebutuhan untuk naik ke Puncak Bukit Gajah Bobok siang nanti, aku masih khusuk senam jempol menekan huruf demi huruf dalam layar sepetak yang berirama sesuai lirik-lirik yang keluar dari hati dan kepala. Dua jempolku bergerak atas perintah syaraf hati dan otak sehingga menyusun kata menjadi kalimat, kalimat tersusun menjadi paragraf, paragraf demi paragraf itu pun menjadi pengikat isi dari dua sumber syaraf. Syaraf hati yang merasa dan syaraf otak yang mencerna. Jadilah sebuah coretan yang nasib baik-buruknya ada di tangan teman-teman pembaca.

Hari itu, adalah sisa-sisa hari tahun dua ribu sembilan belas. Siangnya, tanggal tiga puluh di bulan penutup dua ribu sembilan belas, aku bersama teman-teman sudah berkumpul di suatu tempat menuju Bukit Gajah Bobok, bagian dari tempat wisata indah yang ada di Tanah Karo, Sumatera Utara.

Perjalanan ini adalah perjalanan yang penuh makna. Di sana kita tidak hanya menambah koleksi perjalanan hidup dan berselfiria. Akan tetapi, di sana kita menikmati dengan penuh syukur indahnya ciptaan Tuhan. Dari bukit kan kita lihat indahnya Danau Toba, awan putih membalut gunung dan bukit, udara dingin menusuk tulang dan lukisan bukit seperti hewan gajah yang sedang membangun mimpi menjadi asal muasal nama bukit itu.

Selain menikmati keindahan alam, perjalanan yang melelahkan badan yang sempat berjalan beberapa kilo meter dari simpang bukit sampai menuju Puncak bukit Gabok menambah kenikmatan cerita kehidupan. Langkah kaki yang bertambah membuat pemandangan mata pun ikut bertambah.

Hari terakhir tahun dua ribu sembilan belas, sebelum puncak menyambut malam tahun dua ribu rupiah, oh salah, maksudnya tahun dua ribu dua puluh, Bukit Gabok dan sekitarnya telah dipenuhi tenda-tenda dengan berbagai bentuk dan warna menambah keindahan bukit. Para penikmat ciptaan Tuhan menghirup udara segar dan dingin.

Kami mengadakan diskusi-diskusi ringan di sana. Bercanda tawa hingga tertawa bersama-sama. Alunan musik dari gitar yang kami bawa memecah kesepian-kesipian pagi, siang dan malam. Beberapa pendaki ikut bergabung bersama kami untuk bernyanyi bersama walau suara kami tidak seindah Firza, Judika, grub band Armada, dan penyanyi ngetop lainnya.

Saat sebelum keinti maksud kami berada di sana, seseorang yang kami panggil Kepala Suku kami menjelaskan dan mengajak untuk berkonsolidasi. Meneguhkan minat atas apa yang hendak diperbuat dengan sebuah komunitas yang baru dibentuknya, dan kami siap menjadi anggota suku. Komunitas itu bernama Tenda Ilmu yang sering kami sebut TIM, bergerak di bidang literasi dan pecinta lingkungan.

Malam hari, detik-detik letusan kembang api dari berbagai penjuru yang kami lihat dengan bebas dan indah menghiasi pekatnya malam. Dari berbagai arah mata angin terdengar suara-suara letusan yang berbalas-balasan. Seluruh pendaki berdiri dan ada yang duduk santai menikmati hiasan cahaya-cahaya yang membelah pekatnya malam. Letusannya yang berbalas-balasan bak letusan senjata dan bom di musim perang, menjadi musik membelah kesenyapan malam.

Kami nikmati penuh setiap malam dengan minum kopi dan terkadang teh untuk menghangatkan tubuh. Cemilan dan cepuluh seadanya penambah kenikmatan kopi panas. Rokok Suara Rakyat (Surya), Uda Nanguda Ibotong Oppung Nantulang (Union), Sama Suka (Samsu), penikmat obrolan. Kacang goreng untuk lauk Samkri (Sambal Kacang Tri) perlahan-lahan habis dimakan diam-diam.

Tepat tanggal dan hari pembuka dua ribu dua puluh, TIM pun dikukuhkan berdiri di atas bumi ini. Launching TIM di Puncak Bukit Gajah Bobok menjadi tujuan inti kami ke sana. Bukan sekedar menikmati liburan, tapi meneguhkan peduli literasi dan lingkungan. Walaupun TIM masih kecil dan baru lahir, tapi dia sudah menuliskan sejarahnya di dunia ini. Bagaimana nasibnya nanti? Pertanyaan ini akan kita jawab dengan seiring perjalanan matahari dan bulan mengelilingi bumi.

Demikianlah tulisan secangkir kopi dan sepenggal cerita di Puncak Bukit Gabok ini. Mudah-mudahan TIM dapat membantu UUD 1945 dalam mencerdaskan anak-anak bangsa karena bergerak dalam dunia literasi, dan dapat menjaga lingkungan sebagaimana amanah kehidupan di alam semesta. Kepada Tuhan kita berdoa, dan kepada manusia kita bersama. Kepada Tuhan kita ucapkan amin, kepada manusia kita ucapkan aman.

Seruput kopimu teman dan buka bukumu. Rapatkan barisanmu teman dan buka hati serta pikiranmu. Karena masa lalu dan masa depan kita yang jalani. Semoga TIM dan kita semua diridhoi Ilahi Rabbi.[]

Penulis: Ibnu Arsib (Penggiat Literasi di Sumut)