Sabtu Bersama Rindu

Sabtu Bersama Rindu
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Hari ini adalah hari Sabtu perdana tahun dua ribu dua puluh. Hari yang sakral bagi umatnya Nabi Musa. Jika mengingat-ingat cerita Nabi Musa, saya secara pribadi sangat rindu melihat perjuangannya melawan Fir’aun sosok manusia angkuh yang mengaku sebagai Tuhan. Merindukan sosok adanya perjuangan “Musa” masa kini, yang mau melawan Bal’am-bal’am atau agamawan-agamawan yang hipokrit, melawan Qorun-qorun atau pengusaha-pengusaha bejat yang menghisap darah rakyat.

Sewaktu kecil, ketika hendak tidur ibuku sering menceritakan sosok para nabi, tidak lepas daripada kisah perjuangan pemuda Musa as. Dalam cerita Musa, ia adalah seorang pemuda yang idealis, yang digambarkan mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Saat ia lahir, di negerinya berlaku hukum membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir. Dasar hukum itu berlaku ketika Fir’aun bermimpi seorang laki-laki menurunkannya dari tahta kekuasaannya. Para pembisik-pembisik, katakanlah penasehat-penasehatnya yang sok ahli tafsir mimpi, membisikkan supaya hukum membunuh bayi laki-laki yang baru lahir.

Ternyata Musa bisa lepas dari aturan Fir’aun itu dengan singkatnya cerita Musa sewaktu bayi dipungut sang istri Fir’aun kemudian membesarkannya hingga Musa pun berani menentang kedzaliman suami yang merawatnya.

Pada masa itu, Fir’aun yang menjadi penguasa negeri berlaku dzalim dan sombong. Di sekelilingnya banyak tokoh-tokoh agama atau disebut Bal’am-bal’am yang munafik dan pengusaha-pengusaha yang disebut Qorun-qorun. Tiga unsur itu bersatu menjadi kekuatan yang mendzalimi rakyat. Tidak ada satupun rakyat yang berani melawan sebelum Musa menjadi oposisi tulen. Bukan yang oposisi saat pemilihan saja, kemudian berkoalisi setelah kalah.

Musa tidak mau mengecewakan rakyat yang sudah sama-sama berjuang dengannya melawan pihak pemerintah dzalim (Fir’aun, Bal’am dan Qorun). Seandainya ia mau menjadi menteri pertahanan di negeri itu pasti Fir’aun yang dzalim itu menerimanya mengingat ia seorang pemuda yang kuat, gagah perkasa, cerdas, pemberani dan tegas. Akan tetapi, kebenaran harus ditegakkan walau nyawa dan harta menjadi taruhannya. Ia tidak mau menjadi menteri pertahanan membantu penguasa dzalim pada rakyat dengan keadaan pemerintahan Fir’aun yang menindas rakyat, mengambil tanah rakyat, menakut-nakuti rakyat dengan berbagai peraturan hukum dan atas nama negeri.

Tokoh-tokoh agama, penyihir, peramal atau Bal’am pada masa itu bukan main hipokritnya atau kemunafikannya. Mereka paham ajaran-ajaran atau kepercayaan yang benar pada masa itu, tapi kebenaran itu luntur dan tidak berani melawan pemerintah. Mereka mencari ayat-ayat ajaran para nabi-nabi atau ajaran-ajaran kepercayaan yang baik pada masa itu untuk membenarkan kedzaliman Fir’aun. Ayat-ayat suci mereka gadaikan demi untuk ikut menikmati pemerintahan. Bal’am-bal’am itu menghipnotis rakyat dengan ayat-ayat atau kata-kata suci supaya tunduk dan patuh pada Fir’aun. Mereka buat sistem agama sesuai kemauan pemerintah. Hingga akhirnya kepala pemerintahan atau kepala negara itu (Fir’aun) yang namanya itu dalam literatur lain mengatakan Ramses, mengangkat dirinya sebagai Tuhan yang tak boleh dikritik oleh siapa pun.

Sedangkan para kaum Qorun, pengusaha yang kapitalistik, menyokong prekonomian Fir’aun asal dapat menguntungkan. Qorun-qorun itu tidak pernah puas dengan harta. Nah, untuk lebih lancar memperkaya diri sendiri, mereka pun berkoalisi dengan Fir’aun. Mereka (kaum Qorun) tidak merasa cukup dengan kekayaan yang sudah ada pada mereka. Mereka amankan aset pendapatan dengan memperbudak rakyat dengan. Rakyat dipaksa bayar pajak, tapi pejabat-pejabatnya terus korupsi dan pengusaha-pengusaha (Qorun) semakin bertambah aset kekayaannya.

Musa terus menjadi pihak oposisi yang benar-benar melawan pemerintahan yang dzalim walau pengikut setianya atau teman-temannya hanya sedikit. Musa sangat yakin sekali dengan kebenaran dan nasib rakyat yang diperjuangkannya akan menghasilkan buah kemenangan.

Dan memang benar demikian. Atas bantuan Sang Maha Kuasa yang benar-benar Tuhan meridhoi perjuangan Musa dan pengikut setianya. Tiga unsur kekuatan tadi runtuh dan Fir’aun tenggelam dalam kehancuran. Sampai-sampai mayatnya pun tak sudi bumi menerimanya.

Kisah Musa ini jika kita ceritakan secara lengkap sungguh sangat panjang. Ibuku sampai beberapa kali membuat episodenya. Saat hendak mau tidur di pondok penjagaan ladang padi, selalu ada stok ceritanya tentang perjuangan nabi-nabi yang melawan penguasa dzalim, pejabat yang korup lagi menindas rakyat, kelompok agamawan yang munafik, dan kelompok pengusaha yang menghisap darah juga kekayaan rakyat.

Di hari Sabtu perdana tahun 2020 ini, semoga pemuda “Musa” baru muncul melawan kedzaliman yang ada. Melawan “Fir’aun-Fir’aun”, “Bal’am-bal’am”, dan “Qorun-Qorun” kontemporer. Serta yang oposisi benar-benar oposisi demi kepentingan rakyat bukan kepentingan kelompoknya. Bukan mennjadi oposisi yang hipokrit (munafik) bersuara suci berprilaku bau bangkai busuk.

Sabtu ini bersama rindu terhadap Nabi Musa as. dan menunggu “Musa” yang baru hingga senjaku tiba.[]

Penulis : Ibnu Arsib (Penggiat Literasi di Sumut)