Dapatkah Kita Bertemu Malam Ini?

Dapatkah Kita Bertemu Malam Ini?
Net/Ilustrasi

MUDANEWS.COM – Akhir bulan Juli adalah awal dimana aku pertama kali menghirup udara segar kehidupan ini. Sembilan bulan kurang lebih aku dalam pengasuhan Ibu tanpa menyentuhku secara langsung, tapi aku merasakan rasa kasih sayang Ibu yang begitu dalam. Aku beringsut dari ruang gelap menuju ruang penuh cahaya. Aku meronta-ronta untuk keluar karena rumahku waktu itu tidak mampu lagi untuk menampungku. Betapa kerasnya perjuangan Ibuku untuk membawaku pada kehidupan ini walau nyawa menjadi taruhannya.

Aku menangis entah apa sebab, mungkin aku malu karena tidak berpakaian sehelai benangpun. Di tengah pecahnya tangisanku, saat itu pulalah sekumpulan orang mengukir sungging senyuman. Aku baru diam setelah aku berada dipelukan Ibuku. Pelukan yang pertama itu tidak dapat kulupakan rasanya walau tidak dapat kuungkapkan dengan kata.

Pelukan itu rupanya pelukan pertama dan terakhirnya. Setelah itu, apa yang terjadi? Ibu pergi tanpa pamit padaku. Aku tidak mendengar apa kata terakhirnya karena aku masih menikmati hangatnya pelukan Ibu hingga aku terlelap tidur.

Seperti apa wajah Ibuku? Aku pun belum pernah melihatnya secara langsung. Kata Ayahku, Ibu secantik aku. Kulihat fotonya yang masih tersimpan, kemudian kujadikan harta termewahku. Apakah aku secantik Ibuku? Oh, ternyata tidak. Ibuku jauh lebih cantik dan wajahnya jauh lebih indah dariku.

Lima tahun aku menikmati hidup tanpa seorang ibu. Aku pun bertemu Ibu, tapi bukan Ibu yang membawaku dari ruang yang sempit menuju ruang yang luas ini. Dia adalah wanita yang hanya suka membagi kasih sayangnya pada Ayah dan seorang anak perempuan yang usianya tidak jauh berbeda dariku.

Awalnya aku senang karena adanya seorang Ibu. Tahukah mengapa aku merasa demikian? Ya, karena aku rindu sentuhan sosok seorang Ibu. Aku merasakan begitu. Tapi, rindu itu jauh dari harapan. Saudara perempuanku itulah yang mendapatkannya. Wajarlah, dia itu anak kandungnya. Tapi mengapa Ayah juga begitu sayang padanya? Apakah saudara perempuanku itu anak kandungnya?

Aku pun tumbuh besar dalam pilah-pilah kasih sayang dari orangtua, aku pun berani mempertanyakannya pada Ayah. Waktu itu setelah lulus SMA. Ayah memaksaku untuk satu kampus dengan Agnes, saudara perempuanku itu.

“Juli, kamu kuliahnya sama Agnes aja ya.”

“Aku tidak ingin kuliah, Ayah.” Kataku lembut.

Sontak saja Ayah marah. “Mau jadi apa kau kalau gak kuliah?”

“Aku ingin tinggal di desa Ibu, di Sumatera, Yah.”

“Mau jadi apa kau di desa itu.” Wajahnya memerah. “Di sana kau tidak bisa jadi apa-apa. Kamu mau mencari apa di sana? Desa itu kolot dan kampungan. Tidak ada kehidupan di sana.” Ayah begitu mudah melupakan awal pertemuan mereka di desa Ibuku.

Aku mengetahui pertemuan mereka karena ada seorang teman Ibu yang menceritakannya. Setiap aku mendengar cerita tentang ibu, rasanya ibu sedang bersamaku. Aku merasa melihat ibu dalam mata hatiku. Dan aku merasa ibu sedang tersenyum manis melihatku. Sayangnya, tidak ada buku yang bisa kubaca tentang dirinya, kecuali beberapa foto yang becerita tanpa kata.

“Aku tidak mau jadi apa-apa, Yah. Aku tidak mencari apa-apa.” Ucapku dengan pelan.

“Kamu lihat dong itu Agnes. Dia mau kuliah di Bandung.” Ayah terus bandingkanku dengan Agnes.

Tentu saja aku tidak menerima perbandingan itu. Ayah tidak terima aku mengatakan jika selama ini aku terus dibeda-bedakan, tapi mengapa hendak disamakan jika itu maunya Ayah? Setiap orang bukankah diciptakan berbeda? Bukankah kekurangan dan kelebihan kita semuanya berbeda? Jadi mengapa ada kehendak manusia ingin memaksakan supaya sama?

“Aku hanya butuh kasih sayang. Mengapa Ayah lebih sayang pada Agnes padahal dia bukan anak kandungnya Ayah.” Butuh keberanian untuk mengucapkan itu pada Ayah.

Ayah tidak menerima kata protesku. Ayah pun membentak, “Juli, Agnes itu saudaramu. Dia itu Kakakmu. Dia itu juga anakku.” Kata-kata itu terceplos tanpa sengaja, mungkin karena dorongan emosi, sehingga tidak sadar keluar dari ruang ingatan penyimpan rahasia selama ini yang belum pernah kudengar.

Sungguh aku terkejut mendengarnya. Melihat raut tanya di wajahku, Ayah menceritakannya sendiri. Apakah yang dikatakannya? Astaga, siapa yang tidak tersayat hatinya mendengar penjelasan itu. Ayah mengatakan bahwa Agnes adalah anak kandungnya bersama Ibu tiriku. Astaga, berarti Agnes adalah buah dari perselingkuhan. Sungguh kejamnya Ayah menyelingkuhi Ibuku. Apakah anak haram itu sebagai anak pertamanya? Dan Apakah Ibu tahu tentang ini semua?

Saat mendengar penjelasannya itu, aku tidak terima dengan perlakuan Ayah padaku, pastinya pada Ibuku. Betapa hancurnya pikiran dan hidupku. Mataku tidak dapat membendung butiran air mata. Aku berlari ke kamar. Kuhempaskan tubuhku ke tempat tidur. Air mengalir deras membasahi wajahku sambil menatap foto Ibu.

Aku tidak tahan lagi berada di rumah itu. Rasanya seluruh ruangan penuh api yang membakar hati dan pikiranku. Kuraih jaket peninggalan Ibuku sambil tersedu-sedu. Aku keluar menuruni anak tangga. “Juli, kau mau ke mana?” Tanya Ayah kasar. Aku tidak menjawab. Kakiku dengan ringannya melangkah.

Sesampai di pintu, tiba-tiba saja kakiku yang ringan menjadi terikat. Aku teringat pada foto Ibu di kamarku. Aku kembali lagi ke kamar. “Juli…” Tegur Ayah. Aku tidak peduli dengan teguran itu. Tidak lama kemudian aku sudah di pintu rumah, “Juli, mau ke mana kau?” Pertanyaan itu tidak kalah kasar dan keras dari yang pertama.

Aku pun tidak tahu lagi harus kemana. Kuhidupkan saja motorku. Di sepanjang jalan, mataku tidak pernah kering. Sekali-kali aku tatap foto Ibuku. Di atas motor sambil berjalan aku menciumnya dengan penuh kasih. “Bu. Aku kangen Ibu. Dapatkah kita bertemu malam ini?” Tanyaku pada perempuan dalam foto itu.

*
Aku tidak tahu sejauh mana aku menaiki motor. Aku tidak hapal nama semua daerah Jakarta. Gelombang kehancuran dalam hidupku itu membuatku menjadi manusia yang tidak takut apa-apa lagi. Aku kembali memperhatikan kiri kananku. Untung saja aku pernah melintasi jalan itu bersama pacarku sebelum kami putus.

Aku berhenti di tepi jalan. Motor kubiarkan saja dengan kuncinya. Aku tidak butuh itu lagi. Biarlah orang yang selama ini menginginkan uang mengambilnya untuk dijual. Aku berlari sekencang yang kubisa. Aku masuk ke sebuah gedung yang belum selesai dibangun. Aku menghiraukan saja tulisan yang melarang masuk; “Dilarang Masuk! Tanah Dan Bangunan Ini Telah Disita.” Dan ada tulisan tiga huruf di sudut kiri plang itu; “KPK.”

Tempat itu tidak asing bagiku. Sebelum putus, aku bersama pacarku berterimakasih pada KPK karena telah mengamankan tempat itu untuk kami sepulang sekolah.

Aku berlari lagi menaiki anak tangga menuju lantai 4. Aku tidak tahu lagi berbuat apa kecuali terus menatap wajah Ibu. Mataku belum dapat kuajak untuk berdamai. Hatiku sesak dan pikiranku melayang entah kemana.

Aku pun mengambil keputusan, kemudian berkata, “Ibu, Juli kangen Ibu. Juli ingin ketemu sama Ibu.” Kupeluk foto Ibuku. Aku berjalan ketepi gedung dan terus melangkah tanpa rem…

“Juli. Bukan seperti ini caranya menyelesaikan masalah.” Suara itu berbisik lembut ditelingaku.

Aku langsung membuka mata. Betapa terkejutnya aku saat melihat seorang perempuan cantik berpakaian serba putih layaknya seperti peri. Ia memegang erat tanganku. Wajah perempuan itu berseri sekali. Wajahnya sama persis dengan wajah perempuan yang ada dalam foto. Matanya memancarkan kasih sayang. Senyumannya mirip dengan senyumku.
“Iib…” Suaraku langsung terpotong setelah jari telunjuknya menyentuh bibir tipisku.

“Iya, sayang.” Katanya. “Mengapa kamu mengambil jalan ini anakku?” Ia bertanya lembut.

“Bu, aku kangen sama Ibu. Aku ingin bertemu dengan Ibu. Tapi aku tidak tahu gimana caranya. Maaf Bu, aku mengambil jalan ini.”

“Ini bukan jalan yang baik, Nak. Dengan kamu berani menghadapi hidupmu tanpa Ibu, itu sudah membuat Ibu bahagia. Ibu juga kangen padamu. Tapi, belum saatnya kita untuk bertemu, Nak.”

“Berarti Ibu tidak mau bertemu denganku.” Kataku sambil menangis. “Ibu jahat. Jahat seperti mereka.” Ibu langsung memelukku.

“Bukan begitu maksud Ibu, Nak. Ada saatnya kita bertemu. Lari dari hidup itu bukan cara yang baik. Jika kamu ada masalah selesaikan dengan baik-baik.”

“Mereka kejam, Bu. Mereka menyakiti kita. Aku tidak ingin bersama mereka.” Aku terus menangis dalam pelukannya.

“Boleh kamu tidak tinggal bersama mereka. Tapi bukan berarti kamu lari dari hidupmu. Kan masih ada temanmu dan kauluarga Ibu yang masih sayang padamu, Nak.” Ia memegangi wajahku kemudian menghapus air mataku. “Dalam hidup tidak akan pernah lepas dari masalah, Nak. Apalagi kamu sudah mulai tumbuh dewasa. Berjanjilah pada Ibu bahwa kamu akan kembali dan menghadapi masalah hidupmu dengan dewasa.”

“Iya, Bu. Juli janji sama Ibu.” Ibu kecup kening dan kedua wajahku dengan penuh kelembutan. Ibu memelukku lagi dan kemudian melepaskannya. Padahal aku tidak ingin pelukan itu lepas.

*
Aku merasa tanganku tertindih sebongkah batu. Terpaksa aku harus menggerakkannya untuk bisa lepas. Tiba-tiba saja ada suara bernada senang, “Nak, kamu sudah sadar.”
Kutatap sumber suara itu dengan sedikit susah karena kepala dan wajahku dibalut oleh kain putih kecuali mata, hidung dan mulutku.

“Ayah, Juli ada di mana?”

“Kamu ada di Rumah Sakit, sayang.” Kata Ayah, matanya berlinang. “Sudah hampir satu bulan kamu di sini, sayang.” Ayah menghela air matanya sambil tersenyum bahagia karena aku telah sadarkan diri.[]

Penulis : Ibnu Arsib (Penggiat Literasi di Sumut)