Penanaman Nilai-Nilai Agama di Era Digital

Penanaman Nilai-Nilai Agama di Era Digital
Basir (biru) dan Ibnu Arsib (hitam)

MUDANEWS.COM – Di era digital saat ini, aliran derasnya arus teknologi informasi dan komunikasi tentunya tidak dapat dibendung lagi. Informasi dan komunikasi yang mengandung beragam nilai-nilai dari berbagai jenis serta asalnya masuk ke dalam rumah kita tanpa permisi. Kecanggihan dan kecepatan informasi yang diakses oleh manusia, lewat perangkat internet yang telah tersedia dapat melewati batas-batas wilayah, budaya, ideologi dan agama segenap lini kehidupan manusia.

Kemudahan mengakses informasi dan komunikasi lewat perangkat internet yang telah tersedia mengandung unsur positif. Informasi dan komunikasi yang mengandung unsur positif tentunya dapat bermanfaat bagi manusia. Seperti, memudahkan kerja-kerja manusia dalam memenuhi kebutuhannya, memudahkan berkomunikasi walau jarak antar pulau bahkan antar negara, dapat mengetahui kondisi keadaan manusia di berbagai daerah, dapat mempelajari ilmu pengetahuan secara luas, dan beratus ribu manfaat lainnya.

Di samping itu, bukan berarti penyebaran infomasi dan kemudahan berkomunikasi lewat perangkat internet tidak mengandung unsur negatifnya. Pencemaran nilai-nilai buruk di era digital saat ini menimbulkan keresahan bagi keluarga, masyarakat dan pastinya juga pemerintah. Contoh pencemarannya seperti; menyebarnya berita-berita bohong (hoax), menyebarnya ideologi-ideologi yang meruntuhkan nilai-nilai kebaikan, menyebarnya hasrat ingin terkenal sehingga apa pun dilakukan demi menarik perhatian orang banyak, komunikasi kontak langsung semakin berkurang, terjadinya komunikasi bertujuan buruk antar dua orang atau lebih, dan berbagai macam unsur-unsur negatif lainnya.

Salah satu masalah terbesarnya adalah benturan atau terjadinya konflik sosial, baik dari aspek agama, ideologi dan budaya sangat meresahkan masyarakat. Kekhawatiran-kekhawatiran konflik sosial itu menyerang psikologis manusia, terkhususnya generasi muda yang sedang mengalami proses pertumbuhan menjadi masyarakat pengganti kaum tua. Di sinilah letak pentingnya kebiasaan menanamkan nilai-nilai agama sebagai manusia yang sadar ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Penanaman Nilai-Nilai Agama

Ibarat ingin mendapatkan kualitas padi atau suatu tanaman, tentu benih yang disemai harus pula berkualitas. Selanjutnya, hal demikian pun belum cukup menjamin akan menghasilkan yang berkualitas seperti yang kita inginkan. Untuk itu, diharuskanlah suatu perawatan atau penjagaan yang maksimal hingga padi atau suatu tanaman dapat dipanen pada waktu yang tepat.

Tentu tidak jauh berbeda, demikianlah kiranya kita sebagai manusia yang lahir dan tumbuh hingga tiada (wafat). Perawatan ataupun penjagaan dalam artian keharusan menanamkan nilai-nilai kebaikan mutlak dilakukan sejak dini. Anak muda sebagai generasi bangsa Indonesia yang saat ini bagian mayoritas menggunakan prangkat internet harus mendapatkan bimbingan nilai-nilai agar tidak tercemari ‘virus-virus’ era digital.

Adapun penanaman nilai-nilai kebaikan yang kita maksud itu adalah penanaman nilai-nilai agama. Dengan penanaman nilai-nilai tersebut di dalam lingkungan kita, maka muncul suatu optimisme bahwa antar manusia tetap harmonis dalam bermasyarakat. Yang kita maksudkan dengan penanaman nilai-nilai agama di sini ialah bagaimana ajaran-ajaran agama menjadi sesuatu yang permanen dalam hidup kita walau terkadang iman itu naik-turun.

Jika muncul sutu pertanyaan nilai-nilai agama yang mana yang harus ditanamkan, mengingat banyaknya agama yang dianut oleh umat manusia? Dan bagianmana yang harus ditanamankan?

Menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita tegaskan bahwa tulisan ini berlaku untuk seluruh agama yang menghendaki kebaikan-kebaikan pada manusia. Saya yakin dan percaya, selama agama itu mengajarkan suatu ketundudkan pada Tuhan dan kebaikan pada manusia serta lingkungan, itulah agama yang benar.

Jadi, saya tidak menyebutkan agama apa. Jikalau pun terjadi peristilahan yang saya gunakan terkesan pada istilah-istilah yang sering digunakan agama tertentu, itu bukan berarti tidak berlaku untuk agama lainnya. Mungkin, karena latar belakang saya dari agama tertentu, dan bahan bacaan, bukan berarti makna yang terkandung dalam istilah tersebut tidak berlaku untuk agama lain. Maksudnya, nilai-nilai dalam suatu peristilahan tersebutlah yang lebih penting dibandingkan dari mana asal istilah tersebut.

Nah, maksud nilai-nilai agama yang perlu ditanamkan pada manusia yang memeluk suatu agama adalah nilai-nilai agama yang bersifat pokok, atau pengertian yang seluas-luasnya. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Marwah Daud Ibrahim dalam artikelnya yang berjudul “Pembudayaan Nilai-Nilai Islam di Era Reformasi”, mencakup dimensi ibadah yang bersifat vertikal (hablumninallah) dan dimensi yang bersifat horizontal (hablumminannas). (Nurcholish Madjid et.al., 2000:370).

Nilai-nilai agama yang pertama bermaksud membuka suatu hubungan kepada Sang Maha Pencipta karena kita manusia makhluk ciptaan-Nya. Dampak dari hubungan vertikal tadi menyadarkan bahwa kita tidak akan bersikap angkuh dan merasa berkuasa karena ada Dia yang lebih berkuasa. Kita tidak merasa makhluk paling hebat sehingga sadar bahwa kita tidaklah ada dengan sendirinya, bahkan kita pun tidak bisa menciptakan sehelai rumput alami. Nilai-nilai vertikal yang ditanamkan ini akan terus menjaga generasi manusia agar tetap beriman, karena dampak dari keimanan itu adalah dapat dipercaya (amanah), merasa terlindungi (aman) dan tiada yang kita takuti selain Sang Maha Pencipta.

Nilai-nilai agama yang kedua, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Agama mengajarkan kita menghargai setiap manusia dari mana pun asal usulnya. Kita dan manusia yang lainnya tidak ada perbedaan kelas, mana yang tertinggi dan terendah karena kita sadar bahwa kita sama-sama ciptaan Tuhan dan sama di mata Tuhan kecuali tingkat ketakwaan kita. Nilai-nilai yang ditanamkan ini (hubungan sesama manusia) akan meningkatkan kasih sayang antar manusia di manapun dan kapan pun, sehingga mengakibatkan kehidupan sosial yang damai dan aman sejahtera. Saling kasih-mengasihi, saling tolong-menolong, saling jaga-menjaga, saling cinta-mencintai dan sifat kemanusiaan lainnya menjadi implikasi dari penanaman nilai-nilai hablumminannas ini. Manfaatnya, sebanyak apa pun berita bohong yang disebarkan lewat perangkat internet, tidak akan mampu meruntuhkan sendi-sendi kemanusiaan kita.

Sebagai tambahan, nilai-nilai agama yang perlu ditanamkan juga adalah kepedulian terhadap lingkungan atau alam sekitar agar tidak menjadi manusia yang serakah. Kita mengetahui sendiri bahwa keserakahan umat manusia modern saat ini membuat banyaknya kerusakan lingkungan sekitar. Banjir menimpa masyarakat kota, penyakit menyebar sampai ke desa, ekploitasi alam membuat kemiskinan rakyat, keserakahan mengakibatkan uang rakyat untuk pengelolaan lingkungan dikorupsi secara berjama’ah. Alhasil, ketimpangan alam lingkungan terjadi di mana-mana. Tidak dapat dipungkiri bahwa era digital saat ini dapat menjadi faktor atau memfasilitasi keserakahan umat manusia, yang mana muncul hasrat ingin menguasai sesuatu.

Penutup

Penanaman nilai-nilai agama di era digital saat ini dapat dilaksanakan oleh masing-masing individu dengan mempelajari ajaran agama masing-masing yang bukan targetnya pemenuhan surga tapi bagi kemaslahatan di dunia. Terkadang manusia beraga sering menjadikan agama tempat pelarian dari kondisi sosial, bukan menjadikan sebagai solusi untuk menyelesaikan permasalahan sosial dengan mengambil makna-makna di dalam ajaran agamanya. Padahal, agama adalah tuntunan mutlak dari Tuhan untuk manusia di muka bumi ini.

Selanjutnya yang paling berperan lagi untuk menanamkan nilai-nilai agama ini adalah keluarga, lembaga pendidikan, lembaga masyarakat, lembaga negara dan kelompok manusia yang lebih besar lainnya. Dengan catatan bahwa dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.[]

Ibnu Arsib (Instruktur HMI, Pemerhati Kaum Muda, dan Penggiat Literasi di Sumut).