Lafran Pane dan Mahasiswa Pencuri Sepeda
Lafran Pane

MUDANEWS.COM, Nusantara – Dalam kisah kesederhanaan Pemrakarsa Pendiri HMI, Lafran Pane, yang menjadi Guru Besar (Profesor) di IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), diceritakan bahwa setiap memberi kuliah di kampus IKIP Yogyakarta, Lafran Pane selalu naik sepeda onthel.

Suatu hari, sepeda onthel Sang Profesor itu dicuri oleh seorang mahasiswanya sendiri di kampus IKIP Yogyakarta, dengan maksud agar Sang Profesor itu tidak lagi naik sepeda ke kampus. Saat Lafran Pane mengetahui sepedanya hilang dicuri, ia (baca: Lafran Pane) tidak sibuk mencarinya, bertanya ke sana-sini. Ia lekas saja mengikhlaskannya. Kemudian Lafran Pane mengganti sepeda yang hilang dicuri itu dengan membeli sepeda yang baru.

Niatan mahasiswanya itu ternyata gagal. Setelah beberapa hari kemudian, mahasiswanya yang mengambil atau mencuri sepeda itu menemui Lafran Pane, memberitahukan bahwa dialah yang mengambil sepeda onthel itu dengan maksud agar Lafran Pane, sebagai seorang Profesor atau dosen yang sangat dihormati di kampusnya dan di luar kampus itu, agar tidak naik sepeda lagi ke kampus.

Bagaimanakah sikap Lafran Pane pada saat ia tahu bahwa si mahasiswa itulah yang mencuri sepedanya? Apakah Lafran Pane memarahinya, melaporkannya ke polisi, mempermalukan pemuda itu atau tindakan yang layak dilakukan kepada mahasiswa “pencuri” itu?

Subhanallah, Lafran Pane ternyata tidak marah atau tidak seperti apa-apa yang baru kita sebutkan di atas tadi. Sangat mudah sekali jika Lafran Pane melakukannya. Akan tetapi, Sang Profesor Lafran Pane malah memberikan sepeda onthel itu kepada mahasiswa tersebut. Lafran Pane tetap naik sepeda yang baru dibelinya jika ke kampus dan ke tempat lain. Tidak naik mobil mewah ataupun diantar ke sana-sini oleh seorang supir pribadi. Lafran Pane tetap dalam kesederhanaannya.

Bagaimanakah jika kita bandingkan dengan dosen-dosen atau para Guru-Guru Besar (Profesor) di Indonesia masa kini? Adakah seperti beliau (baca: Lafran Pane)? Jika adapun, penulis yakin sekali (tanpa melebihi yang diketuhui Allah Swt) jumlahnya sangat sedikit sekali. Mungkin bandingannya seratus dosen atau seratus Profesor berbanding satu orang. Atau lima ratus dosen (Guru Besar) berbanding sepuluh orang Guru Besar atau dosen. Belum pula penulis mendengar atau membacanya di media TV, media cetak, dan media online pada saat ini seperti beliau (baca: Lafran Pane).

Okelah…, bila alasannya karena perkembangan zaman sudah sangat langka sekali mendapatkan sepeda onthel, tapi adakah sesederhana mungkin, misalnya hanya memakai sepeda motor saja. Jikalau adapun, menurut penulis sangat sedikit sekali. Mayoritas dosen-dosen di Indonesia yang sudah bergelar Magister, Doktor dan Profesor berlomba-lomba memiliki dan menunjukkan mobil mewahnya.

Di kampus, di mana sekarang saya kuliah. Saya pernah mendengar tanpa sengaja, seorang kandidat Doktor sedang asyik membicarakan tentang mobil mewah dengan seorang agent mobil. Kandidat Doktor itu saya kenal sekali dan dia juga bagian dari keluarga HMI. Kandidat Doktor itu sedang melihat-lihat foto mobil mewah kemudian melobi harganya pada agent tersebut. Muncul pertanyaan dibenak saya, untuk apa lagi mobil itu padahal dia sudah mempunyai mobil mewah yang sering ia bawa ke kampus?

Masih di kampus saya. Setiap saya kuliah, terlihat pemandangan di parkiran, mobil-mobil mewah berjejer rapi yang sudah lengkap planknya yang bertuliskan: “Parkir Mobil Rekktor”, “Parkir Mobil WR 1” hingga “Parkir WR 4”. Pemilik mobil-mobil mewah itu adalah Pejabat Kampus yang sudah tinggi sekali titel akademiknya, ada yang Profesor dan ada yang Doktor. Dan terlihat jura tempat parkir mobil khusus untuk mobil-mobil mewah Pengurus Yayasan kampus yang saya tempati itu. Bahkan dosen-dosen kelas teri pun titel akademiknya dibanding orang-orang yang saya sebutkan tadi, Magister juga ikut unjuk kemewahan. Herannya sekelas pegawai kampus (bukan dosen) juga mengikutinya, kecuali beberapa orang, seperti Security dan Cleaning Service di kampus.

Apakah fenomena unjuk kemewahan ini hanya terjadi di kampus penulis? Dengan kayakinan yang kuat, mayoritas kampus-kampus yang ada di Indonesia ini, terlihat fenomena yang saya sebutkan tadi.

Sangat susah sekali menadapatkan orang bersifat kesederhanaannya seperti Lafran Pane. Pernah menjadi anggota DPA tapi tidak terlena dengan kemewahan. Titel akademiknya sudah paripurna, mendapat gelar Profesor, tapi benda-benda kemewahan seperti mobil mewah dan rumah mewah ia tinggalkan, dan tidak memilikinya hingga ia wafat.

Sungguh sangat pantas sekali jika Lafran Pane kita jadikan uswah (contoh) dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik sebagai orang biasa, seorang dosen dan pejabat negara. Semoga Allah Swt. memberikan kemewahan (surga) kepadanya.

Penulis: Ibnu Arsib (Instruktur HMI, Pemerhati Kaum Muda, dan Penggiat Literasi di Sumut)