Kasih Sayang Allah
Kasih Sayang Allah

MUDANEWS.COM

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.”
[HR. Tirmidzi]

“Siapa nama perempuan yang menggoda Nabi Yusuf? Tanya seorang ustadz ketika sedang mengisi sebuah pengajian.

“Zulaikha,” jawab jama’ah kompak.

“Dari mana tahunya bahwa nama perempuan itu Zulaikha? Allah tidak menyebutnya dalam Qur’an.”

Refleks jama’ah menjawab, “Dari hadits. Hadits mendukung kisah yang ada dalam Qur’an dengan lebih detil.”

“Mengapa Allah tidak menyebut nama Zulaikha dalam Qur’an?” kata ustadz.

Semua jama’ah diam seribu bahasa.

“Karena perempuan ini masih memiliki rasa malu.
Apa buktinya bahwa ia masih memiliki rasa malu?
Ia menutup tirai sebelum menggoda Yusuf. Ia malu dan tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang perbuatannya. Dan Allah menutupi aib orang-orang yang masih memiliki rasa malu di hatinya, dengan tidak menyebut namanya dalam Qur’an.”

Betapa Allah Maha Baik…

Tak hanya sekali, namun berulang kali Allah menutup dosa-dosa kita, hanya karena masih memiliki rasa malu.

Rasa malu kita dihadapan Allah menjadikan Allah tidak membuka identitas kita. Allah lindungi dengan sifat Rahim-Nya.

Pernahkah melihat ada seseorang yang nampak baik di hadapan orang lain?
Pernahkah melihat seseorang memasang foto mesra bersama pasangannya seolah semua baik-baik saja namun ternyata yang terjadi sebaliknya?

Apakah benar orang itu baik atau ia tampak baik karena Allah menutup aibnya?

Jika saja mau jujur, sungguh itu bukan karena kebaikan kita namun semata karena Allah masih menutupi segala aib kita.

Kalau kita mau jujur, dosa dan kesalahan kita sangat banyak. Jauh melebihi dosa dan kesalahan kita yang diketahui orang lain.

Orang lain mungkin hanya mengetahui aib kita yang terlihat atau yang terdengar oleh mereka.

Sadar atau tidak sadar setiap hari banyak diantara kita yang melakukan maksiat diam-diam, mencuri diam-diam, korupsi diam-diam, menggunjing diam-diam.

Setiap hari banyak diantara kita yang sadar atau tidak sadar berbohong demi sesuap nasi, mengambil hak orang lain, menyakiti orang lain.

Sadar atau tidak sadar kita banyak ‘mencederai’ Allah dan manusia.

Sahabat,
Jika saat ini kita tampak hebat dan baik dimata orang, itu hanya karena Allah menutupi aib dan keburukan kita.

Jika tidak, maka habislah kita. Terpuruk, seterpuruk-terpuruknya. Malu, semalu-malunya.
Hina, sehina-hinanya.
Seperti tak ada lagi tempat tersedia untuk menerima kita.

Maka janganlah merasa sombong dan mengangap diri selalu baik serta selalu membicarakan dan menggunjing keburukan dan masa lalu orang lain.

Boleh jadi orang yang dibicarakan melakukan satu dosa tapi kita melakukan dosa lain yang bahkan lebih banyak tapi tak terlihat.

Boleh jadi dosa dan kesalahan kita jauh lebih berat dari orang yang kita bicarakan, tetapi Allah tidak membuka aib kita.

Boleh jadi orang tersebut sangat mulia di hadapan Allah karena menangisi dosa-dosa yang di perbuatnya sedangkan kita asyik menilai, menghakimi dan semakin menjadi hina di hadapan-Nya karena bangga dengan amalan kita yang mungkin tidak bernilai dihadapan Allah SWT.

Boleh jadi saat ini seseorang yang kita nilai hina dan berlumur dosa sedang asyik masyuk berlinang air mata taubat mengharap Ridha dari Allah SWT sedangkan kita terus sibuk membicarakan aibnya, mengorek masa lalunya dan menebar fitnah dirinya. Kita terus terlena dengan merasa diri lebih suci dan terhormat dibandingkan orang lain.

Boleh jadi orang yang saat ini kita lihat hina dimata manusia justru menjadi kekasih Allah SWT yang siang malam memanjatkan doa dan istighfar memohon ampunan dan ridha Allah, sedangkan kita terus tenggelam dalam dosa manis bernama ghibah.

Jadi marilah berhenti membicarakan aib dan kejelekan orang lain.

Mari sibuk mengoreksi diri sendiri dan memperbaiki diri.

Demi Allah, setiap kita akan kembali pada-Nya dengan mempertanggungjawabkan setiap hal yang kita lakukan, sekecil apapun.

“Berbahagialah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri, sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain.”
(HR Al-Bazzar, dengan Sanad hasan)

Wallahu a’lam.
🌹🌹☕

#Ngaji
#BersamaMawar

Penulis adalah Hindun Shalihah