Sarkofagus Batak, Pameran Kematian di Jakarta
Sarkofagus Batak

MUDANEWS.COM, Jakarta – Di area Pameran Kematian di Pekan Kebudayaan Nasional Jakarta 7-13 Oktober 2019, tradisi makam orang Batak berbentuk Sarkofagus dipamerkan. Di dalam teks disebut ini makam megalitik era Prasejarah. Sayangnya penjelasan bahwa ini tradisi prasejarah bisa meragukan dan keliru karena di pulau Samosir makam Raja Sidabutar (Tomok) misalnya dibuat pada abad 18.

Tidak semua tradisi megalit otomatis berasal dari Prasejarah. Buku pelajaran sejarah di sekolah kita masih menyesatkan narasi ini. Tradisi megalit di Nias misalnya, bukan merupakan tradisi prasejarah, berlangsung pada masa kerajaan dan masa kolonial abad 19 hingga awal abad 20. Orang Belanda atau Jerman, bahkan ada yang memotret dengan kamera modern saat tradisi megalit Nias sedang dikerjakan di tahun 1930 an.

Di Tomok, tradisi lisan yang saya catat memperlihatkan patung pakai peci di dada Sarkofagus adalah patung panglima Aceh bernama Said, sahabat sosok yang dimakamkan. Kontak perdagangan orang Samosir dengan orang Aceh berlangsung sekitar abad 18-19. Sementara arca kecil perempuan yang ada dibelakang Sarkofagus, merupakan arca kekasih sang raja.

Sayang sekali untuk pembelajaran sejarah yang benar, bahkan di Jakarta, kita kekurangan narasi untuk menjembatani hasil riset sejarah dan arkeologi terbaru dengan pembelajaran sejarah di ruang publik. Label prasejarah yang keliru begitu saja dilekatkan. Saya siang tadi (08/10/2019) mencari-cari diarena pameran dimana guide atau pemandu pameran yang menjaga Sarfarogus ini tak ada.

Padahal di Pameran Kematian ini, semua replika jasad dan jasad sungguhan yang dihadirkan, berasal dari era sejarah abad 19 – 20. Aroma yang dikumpulkan nyaris semua berbau antropologis. Bila disandingkan dengan data sejarah yang kuat, roh kebudayaan yang ditampilkan tidak bergentayangan, tapi memiliki dimensi ruang dan waktu yang kontekstual.

Tapi, walau data sejarahnya lemah, Pameran Kematian di Balai Sidang Senayan ini, bagaimanapun juga merupakan kejutan dengan pengunjung yang melimpah dan menggoda rasa ingin tahu. Pohon-pohon besar yang dibiarkan meranggas, akar-akar pohon tua yang berjuntai di gua pintu masuk, menambah rasa seram dalam berkelana ke dunia lain.

Penulis : Dr. Phil. Ichwan Azhari M.S.
sejarawan, pengajar dan ahli filologi (filolog) , Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed), Medan, Sumatera Utara