Pemakaman Jenazah Pasien COVID-19 di Deli Serdang, Ditolak Warga dan Sempat Terlantar

Pemakaman Jenazah Pasien COVID-19 di Deli Serdang, Ditolak Warga dan Sempat Terlantar
Satu jenazah di Deli Serdang, Sumut, sempat terlantar karena ditolak warga di sekitar beberapa pemakaman. (Net/Foto)

MUDANEWS.COM, Deli Serdang – Penolakan pemakaman pasien yang ditangani dengan protokol COVID-19 kembali terjadi. Satu jenazah di Deli Serdang, Sumut, sempat terlantar karena ditolak warga di sekitar beberapa pemakaman.

Berdasarkan informasi dihimpun, jenazah pasien berinisial LM (51), warga Jalan Galang Gang Kayu, Kelurahan Cemara, Kecamatan Lubuk Pakam, Deli Serdang, terlantar di RSUD Deli Serdang, Lubuk Pakam, sejak Senin (21/9) malam.

Setelah LM meninggal dunia, petugas pemakaman khusus COVID-19 membawa jenazahnya PNS guru itu ke TPU Bersama Lubuk Pakam. Karena mendapat penolakan warga, jenazah dibawa ke TPU Kristen, Jati Baru, Pagar Merbau.

Tetap ditolak, jenazah di bawa ke TPU Pasar Melintang. Namun, warga tetap menolak. Karena terus ditolak, jenazah dibawa kembali ke RSUD Deli Serdang. Hingga Selasa (22/9), jenazah belum juga dimakamkan.

Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Deli Serdang, Haris Binar Ginting, mengatakan, mereka sudah menemukan solusi masalah ini. Jenazah LM rencananya dimakamkan di kawasan Deli Tua.

“Kita sudah cari solusinya ada pemakaman kita di Deli Tua. Lahannya khusus COVID, dari pengadaan waktu itu. Luasnya sekitar 3.000 meter persegi dan dapat diperluas,” jelas Haris.

Dia mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan aparat terkait di Deli Tua. “Sedang kita proses di Deli Tua, sudah kita kontak camatnya. Kita sudah koordinasi dengan camatnya,” sebutnya.

Deli Serdang termasuk daerah dengan kasus terbanyak di Sumatera Utara setelah Kota Medan. Rinciannya, Medan 5.407 kasus, Kabupaten Deli Serdang 1.180 kasus, Kota Pematangsiantar 251 kasus, Kabupaten Simalungun 199 kasus, Kota Binjai 181 kasus dan Kabupaten Serdang Bedagai 162 kasus.

Mengenai penolakan yang dilakukan masyarakat dalam pemakaman pasien COVID-19, menurut Haris, itu hal yang biasa terjadi. Karena itu, mereka terus berupaya mengedukasi masyarakat agar punya pemahaman yang lebih luas.

“Kita kasih pengertian terus, komunikasi diperbanyak. Ini kan miss komunikasi saja. Mereka dapat kabar kurang baik, karena itu kita tidak bisa menyalahkan masyarakat saja, karena begitulah pemahaman mereka. Kita coba buka pemikiran masyarakat dengan meningkatkan volume sosialisasi,” tegasnya.

Sumber : Merdeka.com