Menkopolhukam Wiranto di Tusuk, PIN Nahdlatul Ulama Sebut Pelaku Robot Manusia
Pelaku mengejar Wiranto turun dari mobil

MUDANEWS.COM, Medan – Indonesia terkejut, bersedih karena Menko Polhukam Bapak Wiranto diserang orang tak dikenal alias teroris, robot hidup yang sudah diprogram menjadi malaikat maut dengan janji surga dan kebahagiaan dunia akhirat.

Agus Rizal, Ketua PW Pejuang Islam Nusantara Keluarga Besar Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (PIN KBNU Sumut) menyebut pelaku sebagai “robot manusia”, masih ingat film layarkaca “Robo Cop” yah bisa jadi pelaku adalah robot seperti itu. Dia akan melakukan apa saja yang menjadi instruksi dari operatornya.

“Melakukan bom bunuhdiri, penusukan, pembunuhan bahkan lebih sadis dari itu. Tersebut dunia gengster juga demikian, kepatuhan anggota group merupakan wujud pengabdian total, yah walau dalam lingkup berbeda. Ada yang dijanjikan bidadari surga, istana surga dengan seruan jihadis yang tak seide dan tak segolongan halal darahnya,” jelasnya, Jumat (11/10/2019).

Ungkap Rizal, zombie-zombie seperti ini saat ini bebas berkeliaran, bersembunyi dibalik kultus dan fanatisme berlebihan terhadap pimpinannya. Penggiat jihadis tersebut sangat bengis bersembunyi dibalik nama pembela agama, pembela ulama, pembela kepentingan politik yang setiap waktu bisa saja memijit tombol untuk melakukan saparatisme, pemberontakan atau makar. Sadisme, itu kata yang pantas untuk mereka. Entah setan apa yang merasukinya, iblis apa yang menyetirnya dan angin surga atau janji apa yg diberikan untuknya.

Untuk jelasnya, kata Rizal, mari kita waspadai apa itu cuci otak ” brain wash”.

Cuci otak adalah sebuah upaya pembentukan ulang tata berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu menjadi sebuah tata nilai baru, praktik ini biasanya merupakan hasil dari tindakan indoktrinasi, dalam psikopolitik diperkenalkan dengan bantuan penggunaan obat-obatan, hipnotis/bius dan sebagainya. Dan biasanya dipakai orang tdk bertanggung jawab.

“Cuci otak merupakan langkah terencana untuk membuat orang percaya terhadap paham tertentu melalui cara-cara yang manipulatif, membunuh sikap kritis dan akal sehat,” jelasnya.

Dengan demikian, bagaimana memaksa orang melakukan hal yang tidak diinginkan? Cara pertama yaitu dengan tekanan senjata. Namun, hal ini sangat rapuh dan bersifat sementara, karena mereka akan melakukan dengan setengah hati dan terpaksa. Jalan lain yang lebih ampuh yaitu dengan cuci otak. Orang saleh bisa berubah menjadi kaum radikal yang siap membawa bom bunuh diri, karena cuci otak.

“Cuci otak itu terencana untuk membuat orang percaya terhadap paham tertentu melalui cara-cara yang manipulatif. Cuci otak membunuh sikap kritis, akal sehat dan hati nurani manusia. Cuci otak melahirkan kesetiaan buta terhadap seperangkat ajaran ataupun tokoh tertentu. Bisa dibilang, cuci otak itu metode tercepat menghasilkan seorang teroris,” bebernya.

Rizal menambahkan, cuci otak juga dipakai di dalam kolonialisme baru yang dimulai setelah perang dunia kedua dengan menggunakan pola hegemoni, yakni menjajah tanpa perlu pasukan. Pihak yang terjajah pun tidak merasa hidup dalam penjajahan. Bahkan, mereka menikmati penjajahan yang terjadi, karena sudah dicuci otaknya. Berita Medan, red