Megawati Serukan “Merdeka!” kepada Kader PDIP: Teguhkan Pancasila, Tolak Politik Pragmatis

Breaking News
- Advertisement -

 Mudanews.com Jakarta — Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menggemakan pesan ideologis yang tegas kepada seluruh kader partai di Indonesia agar tidak kehilangan orientasi perjuangan di tengah dinamika politik nasional. Pesan tersebut disampaikan Megawati dalam pidato pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDIP Tahun 2026 yang digelar di Ancol, Jakarta Utara, Jumat (10/1), bertepatan dengan peringatan HUT ke-53 PDIP.

Di hadapan ribuan kader yang mewakili tiga pilar partai—struktur organisasi, legislatif, dan eksekutif—Megawati menekankan pentingnya kembali meneguhkan ideologi Pancasila sebagai fondasi perjuangan politik. Ia mengingatkan agar kader tidak terjebak pada disorientasi nilai dan menjadikan politik semata sebagai alat pragmatis untuk mengejar jabatan.

“Jangan kehilangan orientasi, jangan disorientasi. Pegang teguh ideologi Pancasila 1 Juni 1945,” tegas Megawati dengan nada menggelegar, disambut riuh kader yang memenuhi arena Rakernas.

Rakernas I PDIP 2026 mengusung tema “Satyam Eva Jayate”—kebenaran pasti menang—yang dimaknai sebagai refleksi ideologis partai di tengah situasi politik pascapemilu 2024 serta berbagai persoalan kebangsaan, termasuk bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Momentum ini dimanfaatkan Megawati untuk mengingatkan kembali watak dasar PDIP sebagai partai ideologis, bukan partai kekuasaan semata.

Dalam pidatonya, Megawati secara terbuka mengkritik kecenderungan politik pragmatis dan mental individualistik yang dinilainya dapat menggerus nilai perjuangan. Ia meminta kader menjadikan Pancasila sebagai “bintang penuntun” dalam setiap pengambilan keputusan politik, dengan orientasi utama pada keselamatan rakyat dan keberlanjutan bangsa.

“Enyahkan alam pikiran pragmatis. Singkirkan mental individualis. Politik harus menjadi alat pengabdian, bukan sekadar perebutan kursi,” ujarnya. Ia juga mengingatkan agar kader tidak mengorbankan lingkungan hidup demi keuntungan jangka pendek, seraya menekankan pentingnya pembangunan yang selaras dengan nilai kemanusiaan dan alam.

Pidato Megawati turut diwarnai seruan persatuan dan gotong royong. Dengan gaya retorika khasnya, ia mengajak kader “menyalakan api pergerakan”, menyatukan langkah, dan kembali pada semangat perjuangan kolektif demi Indonesia Raya. Seruan “Merdeka!” yang digemakan berulang kali menjadi simbol penegasan arah ideologis partai.

Secara politik, pesan Megawati dibaca sebagai upaya konsolidasi ideologis PDIP di tengah posisinya sebagai kekuatan oposisi pada era pemerintahan baru. Penekanan pada Pancasila sebagai the way of life dipandang sebagai pembeda PDIP dari praktik politik transaksional yang kian menguat dalam lanskap kekuasaan nasional.

Lebih jauh, Megawati juga mendorong politik yang berakar pada kearifan lokal, seperti nilai Tri Hita Karana dan prinsip keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Kader diminta tampil sebagai “Pandu Ibu Pertiwi” yang menjaga harmoni sosial dan keberlanjutan pembangunan.

Pesan ideologis Megawati ini menggema kuat di tengah tantangan kebangsaan yang dihadapi Indonesia, mulai dari bencana alam hingga menguatnya polarisasi politik. Melalui Rakernas ini, PDIP kembali menegaskan komitmennya untuk tetap berpihak pada rakyat, berpegang pada ideologi, dan menjadikan politik sebagai jalan pengabdian.*** (Redaksi)

Berita Terkini