Pesta Telah Usai, Piring Kotor Ditinggalkan

Breaking News
- Advertisement -

 

Penulis : Anton Christanto,Pemerhati dan pengamat sosial politik di Boyolali

Mudanews.con OPINI | Jawa Barat, Jokowi, dan Harga Mahal Politik Pencitraan

Setiap rezim selalu ingin dikenang sebagai pembangun. Tidak ada penguasa yang ingin tercatat sebagai perusak. Namun sejarah tidak mencatat niat, ia mencatat akibat. Dan sering kali, akibat itu baru terasa ketika kekuasaan berpindah tangan.

Hari ini, Jawa Barat memberi kita pelajaran paling jujur tentang bagaimana politik pencitraan bekerja—dan bagaimana ia meninggalkan luka dalam-dalam ketika pesta berakhir.

Apa yang terjadi di Jawa Barat bukan kecelakaan lokal. Ia adalah pantulan langsung dari cara negara ini dikelola selama sepuluh tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Jokowi dan Politik Tampilan: Ketika Kamera Lebih Penting dari Neraca

Selama satu dekade, Jokowi berhasil membangun narasi besar:
Indonesia sedang maju.
Indonesia sedang membangun.
Indonesia sedang berlari.

Jalan tol dibentangkan, bandara diresmikan, bendungan difoto dari udara, dan setiap proyek menjadi konten. Kamera bekerja lebih cepat daripada auditor. Viral lebih penting daripada keberlanjutan.

Ridwan Kamil di Jawa Barat adalah anak ideologis dari model kepemimpinan Jokowi:
komunikatif
visual
kreatif
disukai media
disanjung netizen

Namun seperti induknya di pusat, ada satu hal yang sengaja disembunyikan dari sorotan: biaya jangka panjangnya.

Warisan Utang: Ketika Penerus Dipaksa Membayar Popularitas Pendahulu

Dedi Mulyadi masuk ke Gedung Pakuan bukan dengan euforia, tetapi dengan kenyataan pahit.
Sekitar Rp3 triliun ruang fiskal Jawa Barat tahun 2026 hilang.

Bukan untuk sekolah baru.
Bukan untuk rumah sakit.
Bukan untuk rakyat miskin.

Tetapi untuk membayar masa lalu:
proyek tunda bayar
cicilan utang
operasional monumen
subsidi infrastruktur yang tak hidup

Ini persis seperti Indonesia pasca-Jokowi:
utang negara melonjak
APBN tertekan
subsidi dipangkas
pajak dinaikkan

rakyat diminta “memahami situasi global”

Ketika pesta masih berlangsung, semua terlihat wajar.
Ketika musik berhenti, barulah terasa sesaknya.

Monumen Ego dan Kemiskinan yang Tak Pernah Masuk Frame

Masjid Al Jabbar berdiri megah.
Bandara Kertajati terlihat futuristik.
IKN dipamerkan sebagai kota masa depan.

Namun rakyat tidak hidup dari arsitektur.
Rakyat hidup dari pekerjaan, harga pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan.

Apa gunanya masjid megah jika BPJS menunggak?
Apa gunanya bandara kosong jika jalan desa rusak?
Apa gunanya ibu kota baru jika ibu-ibu antre beras murah?

Inilah dosa besar politik pencitraan:
ia membangun sesuatu yang bisa difoto, tapi mengabaikan yang harus dirasakan.

Jokowi: Presiden yang Dicintai, Tapi Meninggalkan Beban

Tulisan ini bukan kebencian.
Ini bukan dendam politik.
Ini adalah evaluasi moral kekuasaan.

Jokowi mungkin presiden paling dicintai secara personal.
Namun cinta publik tidak selalu sejalan dengan keberanian mengambil keputusan sulit.

Selama 10 tahun:
defisit ditumpuk
utang diperbesar
masalah ditunda
beban diwariskan

Presiden Jokowi mewariskan stabilitas semu, bukan fondasi kokoh.
Ia mewariskan proyek, bukan ketahanan.

Dan hari ini, gubernur-gubernur seperti Dedi Mulyadi dipaksa menjadi “petugas kebersihan sejarah”.

Kontras Dua Kepemimpinan: Pesta vs Membersihkan

Ridwan Kamil—seperti Jokowi—meninggalkan jejak visual yang indah.
Dedi Mulyadi—seperti yang seharusnya dilakukan pemimpin—memilih jalan sunyi pengorbanan.

Ia memotong:
makan minum pejabat
perjalanan dinas
fasilitas pribadi

Ia tidak menambah citra, tapi mengurangi beban.

Di tingkat nasional, kita jarang melihat presiden atau menteri berkata:

“Saya tidak akan bepergian agar uang negara selamat.”

Justru rakyatlah yang diminta berhemat.

Pesan untuk Presiden dan Gubernur di Seluruh NKRI

Tulisan ini adalah peringatan keras, sekaligus harapan terakhir.

Kepada Presiden Prabowo dan seluruh Gubernur Indonesia:
Jangan ulangi dosa Jokowi.
Jangan bangun hanya untuk difoto.
Jangan wariskan utang demi pujian.

Bangunlah yang membosankan tapi penting:
tata kelola
disiplin anggaran
keberlanjutan fiskal
kesejahteraan yang tak viral

Sejarah tidak peduli berapa banyak likes.
Sejarah peduli siapa yang meninggalkan negeri ini dalam keadaan sehat.

*Epilog: Setelah Pesta, Selalu Ada yang Harus Membersihkan*

Pesta kekuasaan Jokowi telah usai.
Pesta Jawa Barat era Ridwan Kamil juga telah selesai.

Kini yang tersisa adalah:
tagihan
cicilan
dan rakyat yang harus menanggungnya

Namun masih ada harapan.
Harapan itu lahir dari pemimpin yang berani tidak populer, berani memotong dirinya sendiri, dan berani berkata: cukup.

Karena bangsa ini tidak butuh pemimpin yang pandai berpesta.
Bangsa ini butuh pemimpin yang berani membersihkan.

Dan semoga, dari Jawa Barat hari ini, Indonesia belajar—
sebelum piring kotor menumpuk terlalu tinggi dan tak bisa lagi dicuci.

Berita Terkini