Didukung Jokowi, Raja Jogjakarta Melawan Kadal Gurun Lewat Indonesia Raya

MUDANEWS.COM – Risih dengan julukan sebagai salah satu sumber radikalisme, Sultan Hamengkubowono X, memerintahkan lagu Indonesia Raya dinyanyikan di Kerajaan Yogyakarta. Gebrakan HB X ini mendapat dukungan Jokowi.

Selama ini gerakan radikal, intoleran, marak di Jogjakarta. Termasuk hub radikal Jogokaryan. Puluhan teroris ditangkap di DIY.

Perintah HB X ini sontak viral. Karena posisinya yang secara kultural memengaruhi Republik Indonesia. Itu sejak Indonesia belum merdeka, masa Perang Kemerdekaan I dan II, juga masa terjungkalnya eyang saya Presiden Soeharto.

Demo 1 juta warga Jogjakarta di alun-alun Utara 20 Mei 1998, membuat moral eyang Soeharto runtuh.

“Dalam situasi seperti ini, tidak ada pilihan lain kecuali memihak kepada rakyat. Rakyat jangan hanya jadi obyek ketidakadilan terus-menerus. Semuanya itu telah tamat,” kata Sultan HB X di hadapan pers usai mengeluarkan Maklumat Kerajaan Yogyakarta (20/5/1998).

Sultan Hamengkubuwono X. Dia adalah Raja Jogjakarta yang memiliki wilayah. Bukan simbol. Sebagaimana Raja atau Ratu Inggris, Hamengkubuwono menguasai kekayaan. Bukan kaleng-kaleng tanah yang memang milik Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat.

Seluruh wilayah Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) adalah lahan sumbangan Kraton Jogja. Seluruh garis pantai di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejauh 100 meter milik Sultan HB. Tentu seluruh serakan tanah, gunung, atau bukit sejauh beberapa ratus meter dari bibir bukit juga milik Sultan.

Maka, posisi HB X selalu menarik untuk diikuti. Termasuk sikap politik. Teranyar gerakan menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang digaungkan HB X mengusik kadal gurun: seluruh Indonesia.

Jogjakarta adalah center of excellent peradaban Jawa. Kekuasaan absolut sebuah entitas ada di tangan HB X. Maka ketika keputusan diambil, tidak ada yang bisa mengatakan tidak. Sabdo pandito ratu berlaku: titah Raja harus dilaksanakan.

Posisi Sultan yang melawan kadal gurun mendapatkan reaksi keras. Khalid Basalamah pun kegatelan soal Indonesia Raya. Karena Jogja adalah salah satu persemaian radikalisme intelektual selain Bogor dengan IPB, Bandung dengan ITB, dan berbagai kota lain yang melahirkan gerakan liqo. Banyak pejabat pernah belajar di Yogja merasa terusik tentu. Radikalisme dan intoleransi bukan sembarangan.

Perintah Sultan Jogja ini tentu tidak akan banyak diikuti oleh kota-kota atau provinsi di Indonesia. Karena memang gerakan melawan dan meruntuhkan Indonesia sedang marak.

Mabuk agama. Politikus gendeng. Pelawan NKRI gentayangan. Ambisi politik seperti Anies Baswedan, Ridwan Kamil, berkelindan dengan gerakan kadal gurun. Paham Wahabi, Ikhwanul Muslimin merasuki PKS. BUMN adalah sarang radikalisme dan rumah teroris seperti di Krakatau Steel, dan lain-lain.

Partai politik nasionalis kehilangan arah dan banci menolak Khilafah. Bahkan Presiden Jokowi pun dibiarkan sendirian. Karena begitu banyak pembisik yang menelikung Presiden Jokowi.

Contoh praktis soal teroris Poso, Bipang Ambawang. Belum lagi soal birokrasi bobrok seperti 100.000 pegawai ASN fiktif. Pelakunya ya kalangan kadal gurun kebanyakan yang menguasai birokrasi ASN.

Maka menjadi sangat penting gebrakan Sultan HB X menggerakkan kaum nasionalis di Jogjakarta. Terlebih HB X tengah melakukan Reformasi Kasultanan Jogjakarta menjadi modern. Ini penting untuk secara awal melawan pemberontak, yang tidak setuju dengan pengangkatan Ratu Jogjakarta. Yang menentang Ratu Jogjakarta kebanyakan kadal gurun, yang tidak paham makna: Sabdo Pandito Ratu.

Berdasarkan Sabda Raja II, 5 Mei 2015, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng ing Mataram akan menggantikan Raja Jogjakarta, Sultan Hamengkubowono. GKR Mangkubumi alias GKR Pembayun adalah Putri Mahkota Kasultanan Yogyakarta. Pewaris Takhta Kerajaan Jogjakarta. Tunggu sebelum 2024 ada sabda Raja Jogjakarta III.

Untuk level nasional, perintah HB X ini tentu menjadi angin segar yang disambut oleh Jokowi. Paling tidak Jokowi tidak sendirian berjuang memberangus teroris, radikalisme, intoleransi. Terlebih datangnya dari Jogjakarta. Pusat center of excellent peradaban dan budaya Jawa yang berpengaruh besar.

Oleh : Ninoy Karundeng