Perkembangan Menuju Perang Dunia Ketiga

Perang Dunia Ketiga
Hasanuddin, MSi

MUDANEWS.COM – Situasi panas dalam berbagai hubungan internasional terus meningkat di berbagai wilayah Laut Cina Selatan.

Di Laut Cina Selatan, rezim komunis Tiongkok terus melakukan provokasi. Armada tempur mereka melakukan manuver di sejumlah wilayah yang berbatasan dengan Jepang, Taiwan, Filipina, Malayasia, maupun di laut Natuna milik Indonesia. Jepang memberi respons serius, dan tengah menyiapkan pasukan militernya.

Menteri Pertahanan Jepang mengatakan bahwa sudah saatnya bagi Jepang untuk memberikan balasan yang “sesuai” dengan apa yang dilakukan Tiongkok. Armada perang Jepang memastikan bahwa kapal-kapal militer Tiongkok baik udara maupun laut yang mencoba memasuki wilayah kedaulatan Jepang dipastikan akan dihancurkan.

Taiwan, negara yang masih diklaim oleh Beijing sebagai wilayah Komunis Tiongkok, terus memodernisasi alutista mereka, serta terus mengintensifkan latihan militer mereka. Menteri Pertahanan Taiwan, mengatakan bahwa mereka siap untuk berperang dengan Komunis Tiongkok hingga akhir hayat, jika memang diperlukan.

Presiden Filipina terus melakukan protes terhadap 200 lebih kapal milisi Tiongkok yang parkir di zona eksklusif mereka hampir sebulan terakhir dan tidak bergeming dengan peringatan dari militer Filipina. Bahkan sebuah kapal sipil Filipina yang berisi wartawan yang bermaksud meliput jajaran kapal milisi yang parkir di ZEE Filipina telah dikejar oleh dua kapal perang Komunis Tiongkok, Kamis lalu.

Ketegangan antara Komunis dengan Filipina telah mendorong Filipina mengaktifkan kesepakatan pertahanan Filipina dan Amerika yang dibuat tahun 1951, dimana dalam perjanjian tersebut Amerika dan Filipina sepakat bahwa siapapun yang menyerang+1 teritory kedaulatan Filipina akan berhadapan dengan Amerika.

Hal ini telah dikonfirmasi oleh gedung putih. Menlu Amerika Antony Blinken membenarkan adanya perjanjian kerjasama pertahanan tersebut dengan Filipina dan menyampaikan bahwa Amerika akan konsisten mematuhinya untuk membuktikan komitmen Amerika terhadap sekutunya.

Malayasia telah menggelar latihan militer bersama dengan Amerika, dalam pekan ini dalam rangka meningkatkan kewaspadaan militer Malaysia dalam menghadapi manuver militer Tiongkok di LCS.

Sementara itu, Indonesia terus memperkuat pasukan militer di Laut Natuna. Namun, tampaknya tidak membuat Komunis Tiongkok bergeming untuk menguasai blok yang kaya sumber daya alam tersebut. Media terkemuka Tiongkok, Cina morning melaporkan bahwa Komunis Tiongkok, hari Rabu lalu telah melakukan pengeboran di Laut Natuna untuk memulai proyek pengeboran di wilayah yang masuk dalam Laut Natuna.

Nampaknya, selain Myanmar yang secara internal mengalami kekacauan politik akibat kudeta Junta Militer yang disokong Komunis Tiongkok, umumnya negara-negara ASEAN telah berdiri dengan Amerika dan sekutunya, jika pecah perang dengan Komunis Cina.

Rusia vs Ukrania

Sementara itu, Rusia terus menyiagakan pasukannnya di perbatasan dengan Ukrania. Tidak kurang 35.000 personil telah disiagakan. Mobilisasi alutista Rusia ke perbatasan Ukrania dalam sepekan terakhir pun terus dilakukan.

Tidak tanggung-tanggung, System rudal S.400, ribuan Thank, termasuk thank robot, (tanpa awak) didukung angkatan Udara Rusia telah bersiaga. Rusia juga telah memberangkatkan armada lautnya dari pangkalannya di Laut Hitam.

Presiden Ukrania meskipun dalam kalkulasi alutista jauh tertinggal dari Rusia, pun telah mempersiapkan pasukan mereka. Ukrania sejauh ini telah memperoleh respons dari NATO atas permintaan mereka. Ukrania membuka wilayah mereka untuk dijadikan ajang latihan militer gabungan bagi NATO.

Dalam latihan tersebut sebanyak 25.000 pasukan Amerika ambil bagian, dan 12.000 pasukan lainnya dari berbagai negara anggota NATO ambil bagian. Armada angkatan Laut Amerika juga telah diberangkatkan ke Laut Mediterania, melewati selat Borphorus.

Otoritas Turki menyampaikan bahwa Amerika telah meminta izin agar armada mereka dapat melintasi selat Borphorus. Ukrania juga telah membeli sejumlah alutista dari Turki untuk memperkuat pertahanan mereka, termasuk system rudal jarak menengah.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam NATO, agar tidak menerima Ukrania bergabung dengan NATO. Menurutnya hal itu hanya akan memperburuk situasi, dan dapat memicu peperangan yang luas.

Menteri Pertahanan Rusia menyebut bahwa Rusia serius mempertahankan Krimea sebagai wilayah kedaulatan mereka, dan jika NATO mengambil tindakan yang gegabah dengan mensupport Ukrania, hal itu bisa memicu perang Pan-Eropah.

Sementara itu, pemimpin Iran sangat geram dengan serangan atas kapal tanker mereka di Laut Merah. Otoritas Iran, memastikan akan membalas serangan tersebut. Seperti biasa Israel tidak pernah mengakui bertanggungjawab atas berbagai serangan yang mereka lakukan.

Namun kali ini Amerika sendiri yang mengumumkan bahwa otoritas Israel telah memberitahu mereka, bahwa serangan atas kapal Kargo Iran itu dilakukan oleh Israel. Israel beralasan bahwa kapal itu adalah kapal kargo militer. Belum jelas bagaimana Iran akan membalas Israel atas serangan itu.

Bagaimana perkembangan selanjutnya, dapatkah para pemimpin dunia duduk bersama untuk meredakan ketegangan ataukah situasi akan terus memanas dan menjadi perang dunia ketiga?

Kita ikuti saja…

Oleh : Hasanuddin, MSi
Ketua Umum PB HMI 2003-2005