Mengikuti Perkembangan Menuju Perang Dunia Ketiga

Perang Dunia Ketiga
Hasanuddin, MSi

MUDANEWS.COM – Ketegangan di sejumlah kawasan terus meningkat. Di Laut China Selatan, kesiap-siagaan militer China nampak sudah pada posisi yang hampir puncak. Seluruh Alutista negeri Komunis itu telah berada pada posisinya masing-masing. Pangkalan militer di sejumlah tempat, termasuk di kepulauan Spartly yang disengketakan dengan sejumlah negara ASEAN.

Demikian halnya di sepanjang pesisir pantai Timur dan Selatan yang hanya berjarak beberapa ratus mil dari Pantai Taiwan dan Jepang. Patroli pasukan udara setiap saat berlangsung dalam convoy puluhah jet-jet tempur. Terhitung 1 April hingga awal Mei, pasukan gabungan negeri Komunis itu, akan melakukan peregangan otot militer mereka melalui latihan gabungan di Laut Cina Selatan.

Tidak jauh dari perairan Filipina, ratusan kapal milisi Komunis Tiongkok didukung oleh sedikitnya 7 kapal destroyer jenis pregat, maupun kapal penjaga pantai yang dipersenjatai, telah siap-siaga satu pekan terakhir.

Sementara itu, di pihak Amerika dan sekutunya yang hadir di kawasan laut selatan itu dengan alasan menjaga kebebasan navigasi, serta dalam rangka melindungi sekutu mereka di kawasan, terus berpatroli. Bukan hanya armada laut Amerika yang telah bersiaga.

Di sana ada armada laut Inggris, Australia, India, Prancis, dan terakhir telah bergabung armada laut Kanada. Armada laut Jerman juga sedang dipersiapkan menuju kawasan tersebut.

Di lain pihak, Indonesia telah menyetujui transper Alutista dari Jepang, diserta kerjasama pertahanan keamanan di berbagai aspek, termasuk segera akan melakukan latihan perang bersama di sekitar Laut Natuna. Indonesia juga telah memperoleh konfirmasi, persetujuan pembelian 48 pesawat jet tempur canggih jenis Rafale dari Prancis, serta mempercepat produksi jet tempur bersama Korea Selatan.

Tiongkok bereaksi keras atas kerjasama antara Indonesia dengan Jepang. Komunis Tiongkok nampaknya sangat tidak senang, bahwa Indonesia menjalin hubungan dengan Jepang, yang pernah menjajah Tiongkok itu. Langkah taktis Menhan Prabowo memang sejauh ini cukup menarik, di tengah situasi memanasnya sejumlah kawasan.

Di lain pihak, Rusia dalam tiga hari terakhir melakukan mobilisasi Alutista besar-besaran di perbatasan Ukrania. Rusia melakukan hal itu beberapa hari setelah Valdimir Putin menarik duta besar mereka di Amerika, karena tersinggung dengan pernyataan Joe Biden yang menyebut Putin sebagai pembunuh.

Meskipun Rusia menyebut bahwa pergerakan pasukan yang mereka lakukan adalah pergerakan biasa dan mestinya pihak-pihak negara lain tidak perlu khawatir, karena pergerakan itu dilakukan di dalam negeri mereka sendiri, namun Presiden Ukrania langsung menanggapi konsentrasi pasukan militer Rusia di perbatasan kedua negara itu sebagai bentuk intimidasi dan ancaman.

Hubungan Rusia dengan Ukrania memang tidak berlangsung baik selama ini. Semenjak pecahnya perang di Semenanjung Krimea tahun 2014, ketika Rusia berhasil mencaplok wilayah itu, Ukrania terus merasa terintimidasi terutama karena dukungan Rusia terhadap kelompok separatis di negeri itu. Pemimpian Ukrania, menutup siaran radio berbahasa Rusia di Ukrania, yang memicu kemarahan Kremlin.

Sejauh ini, Ukrania yang merupakan bagian dari NATO telah membahas penempatan pasukan Rusia itu dengan Menhan Amerika Lyoid Austin, dan pihak NATO pun dikabarkan telah meningkatkan status kesiap-siagaan pasukan NATO dalam level tertinggi, untuk mengantisipasi apapun yang sangat mungkin dilakukan pihak Kremlin.

Dari dua kawasan yang berpotensi menjadi arena perang dunia ketiga ini, nampak bahwa ada upaya untuk memecah konsentrasi NATO agar kekuatannya terbagi. Di Laut Cina Selatan, NATO dan sekutunya akan berhadapan dengan pasukan Komunis Tiongkok. Sementara Semanjung Krimea, NATO ditantang oleh Rusia.

Bagaimana kelanjutan kedua kawasan yang memanas ini? Kita ikuti saja perkembangannya.

Oleh : Hasanuddin, MSi
Ketua Umum PB HMI 2003-2005

Penulis, alumni pascasarja (S2) Universitas Indonesia (UI)