Luar Biasa! Tempo Berani Serang Polisi Fitnah PDIP dan Moeldoko

Tempo
Dok Istimewa

MUDANEWS.COM – Lagi-lagi Tempo melakukan pemberitaan ngawur. Tempo kini menjelma menjadi media partisan. Setelah membuat hoaks pertemuan Moeldoko dan Megawati di Teuku Umar, kini Tempo menyerang Polisi terkait kematian 6 orang teroris FPI di KM 50. Tempo menjadi media partisan pesanan yang sangat tidak profesional.

Publik menjadi paham tentang ritme dan gaya Tempo dalam membuat framing berita. Bukan hanya kasar, banal, dan partisan, Tempo secara sengaja membuat hoaks. Menarik rekam jejak ke belakang, Tempo cenderung memihak kepada pelawan pemerintahan Jokowi. Sebaliknya memihak kepada kelompok teroris seperti FPI, HTI, KPK versi lawan Firli, dan pendukung rezim Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Publik sering terkecoh dengan pemberitaan Tempo. Seolah media ini menjadi corong kebenaran. Padahal sejatinya Tempo hanya perpanjangan orang mencari makan. Tempo hanyalah ladang cari sesuap nasi.

Lupakan Tempo zaman Mas Goen. Kini yang ada hanyalah remah tempat buruh bekerja, kuli pesanan berbayar. Arus hedonisme dan konsumerisme menggerus habis idealisme Tempo. Tanpa idealisme lagi. Hamba uang dan membuat kontroversi.

Tempo sebagai media pembela Anies Baswedan, Novel Baswedan, Cikeas dan Cendana, kini berulah lagi. Terakhir dia menyerang polisi. Betapa tidak. Tempo menyebutkan bahwa aparat polisi yang disebutkan meninggal dunia dalam kecelakaan tidak termasuk dalam daftar nama yang disebutkan oleh Polri.

Tempo berusaha menggiring opini bahwa yang tewas karena kecelakaan hanyalah orang lain. Seolah kecelakaan digunakan oleh Polri untuk menunjuknya menjadi tersangka. Padahal sejatinya, sebenarnya almarhum Ipda Elwira sudah menjalani pemeriksaan di Komnas HAM. Bareskrim Polri dan Propam Polri juga sudah melakukan pemeriksaan.

Tempo tanpa konfirmasi membuat berita hoaks, fitnah keji. Seolah Polri menukar aparat dengan almarhum Ipda Elwira. Padahal sebenarnya ada dokumentasi di Komnas HAM, Berita Acara Pemeriksaan (BAP), transkrip dan foto pemeriksaan.

Tempo tetap tidak berubah. Dalam kasus tewasnya 6 teroris FPI oleh aparat Polri yang diserang, sehingga terjadi unlawful killing, Tempo tengah menyerang polisi dan berpihak kepada teroris FPI. Tempo telah melakukan fitnah terhadap polisi.

Polri seharusnya tidak tinggal diam. Cokok dan habisi wartawan yang membuat berita hoaks atas nama pers. Rakyat tidak akan membela wartawan penyebar fitnah, atas nama kebebasan pers. Pers jurnalisme Tempo tak lebih dari buzzer berbayar. Bedanya, Tempo melawan polisi dan aparat. Alias melawan negara.

Tampak sekali Tempo berpihak ke kaum yang anti pemerintah, dan pro radikalisme. Kisruh Demokrat yang menyebabkan penyelamatan oleh Moeldoko menjadi santapan empuk Tempo.

Tentu Tempo berpihak ke Demokrat AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) karena Cikeas dan SBY adalah penernak radikalisme. SBY menernakkan ormas teroris FPI dan khikafah HTI. Bahkan Demokrat AHY didukung oleh Munarman dan Muhammad Rizieq Shihab (MRS) yang jelas sejalan dengan Tempo.

Demokrat di bawah Moeldoko tentu akan membela NKRI. Maka menjadi beralasan Tempo memihak AHY karena Moeldoko adalah salah satu benteng NKRI yang menghalangi dan menumpas kaum radikal.

Untuk merusak nama Moeldoko, Tempo mengadu-domba Moeldoko dengan Megawati dan PDIP sebagai pendukung Presiden Jokowi. Sementara Moeldoko adalah Kepala Staf Kepresidenan. Tempo berkepantingan merusak hubungan antara Moeldoko, Megawati, dan Presiden Jokowi.

Inilah alasan Tempo belakangan berpihak ke kelompok radikal. Tempo memusuhi Polisi dengan menyebarkan hoaks terkait peristiwa tewasnya 6 teroris FPI. Lalu menebar hoaks pertemuan Megawati dengan Moeldoko, demi untuk mendukung Demokrat AHY. Benang merah yang publik harus paham. Tempo hanyalah media penyebar hoaks. Sama sekali tidak profesional.

Oleh : Ninoy Karundeng