Indonesia Darurat Rasisme?

Indonesia Darurat Rasisme
Januari Riki Efendi, S.Sos

MUDANEWS.COM – Risih juga melihat pemberitaan akhir-akhir mengenai ujaran Rasisme yang dilakukan oleh beberapa oknum sebut saja Ambroncius dan Permadi Arya (Abu Janda). Dua orang ini mengisi kolom pemberitaan baik media mainstream ataupun media online. Sebenarnya sangat tidak menarik mengkaji secara politis masalah ini. Karena tentu saja nanti opini yang dibangun tidak lebih dari sentimen politis ataupun dendam politik setidaknya itulah yang dikatakan Abu Janda ketika diwawancarai oleh TV One mengenai bahwa ini ada dendam politik terhadap dia.

Jika dipandang dari segi politis tentu saja bagi oposisi ini adalah “makanan” empuk untuk menjatuhkan Oknum-oknum pendukung pemerintah seperti Ambroncius yang menjabat (Mungkin pernah) sebagai Ketua Relawan Pro Jokowi-Ma’ruf Amin (Jomin) dan Abu Janda yang di klaim sebagai BuzzerP nya pemerintah. Belum lagi kasus Juliari sebagai koruptor Bansos yang juga anggota Partai PDIP.

Ada lagi Kasus Harun Masiku. Kiranya tahun 2020 menuju 2021 adalah Tahun dimana tampaknya tindakan-tindakan “amoral” dari Partai dan juga individu pendukung pemerintah. Tidak jauh berbeda memang ketika periode kedua SBY dahulu yang juga menampakkan Korupsi di Partai pendukung pemerintah (Demokrat).

Kembali kepada masalah Rasisme. Dalam Wikipedia Rasisme adalah Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida.  Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial. Begitulah kira-kira sekilas tentang Rasisme.

Di abad modern saat ini, di tengah-tengah perpolitikan yang semakin menuju perbaikan serta kemajuan pemikiran seharusnya sikap-sikap Rasisme tidak muncul lagi. Rasisme adalah salah satu peluang besar untuk memecah belah bangsa dan negara. Karena rasisme akan mendiskriminasikan ras atau suku tertentu. Tidak boleh terulang kembali penganggapan adanya suku atau ras tertentu yang lebih superior dari ras atau suku yang lain.

Pernyataan Rasisme membunuh persatuan, dan kita semua meyakini bahwa orang yang Rasis adalah mereka tak memiliki sikap yang cerdas serta kurangnya intelektualitas serta sense of humanity yang mati. Dalam sikap rasisme yang terjadi cukup mengherankan di negeri ini terjadi karena sikap perpolitikan yang berbeda. Natalius Pigai yang dari dulu mendukung keadilan dan menyuarakan hak asasi manusia, malah jadi bulan-bulanan hinaan bagi mereka yang menganggap “lawan” politik Pigai. Alangkah bodohnya.

Ruang dialog yang harusnya dibangun secara argumentatif malah ditampilkan dengan sikap arogansi dan sikap rasisme. Pigai tentu tidak ambil pusing, tapi bagaimana dengan kelompoknya yang merasa tersinggung, tentu ini akan menimbulkan konflik horizontal dan memicu sensitifitas negatif dalam berbangsa dan bernegara.

Bukan hanya Ambroncius dan Abu Janda. Tapi siapapun yang melakukan tindakan Rasis seharusnya tidak pantas hidup di negeri ini. Mereka harusnya ditindak setegas-tegasnya. Ini bukan masalah politik oposisi ataupun pendukung pemerintah, semua ini tidak lebih untuk menenangkan hati rakyat.

Sikap Rasisme hanya akan meruntuhkan semangat persatuan. Jangan pula ini memicu tindakan yang lebih besar. Kita tahu selama ini Papua masih menjadi “anak tiri” bagi negeri ini. Kita tidak tahu apakah sikap rasisme kepada mereka sudah berhenti atau belum dalam tataran sosial, maka seharusnya siapapun tidak boleh memunculkan sikap-sikap ini lagi.

Pigai adalah manifestasi seorang Papua yang memiliki sense of humanity yang tinggi. Ditingkat nasional nanya harum karena selalu menyuarakan keadilan. Pigai adalah anak bangsa yang seharusnya tak dinilai lagi dari kulit dan fisiknya, tapi harusnya diukur dari pemikiran dan pergerakannya. Kiranya hanya orang bodoh yang melakukan tindakan rasisme dikarenakan dangkalnya otak hingga tak mampu menelurkan argumentasi secara intelektual.

Maka, dua orang pelaku Rasisme adalah dua orang yang sejatinya hanya akan menimbulkan aib bagi negeri dan akan merusak persatuan bangsa. Ambroncius dan Abu Janda adalah manifestasi kedangkalan akal dan kebodohan pikiran, maka tidak boleh ada yang menjadi penerus pikiran-pikiran seperti ini.

Lalu pertanyaannya, apakah Indonesia Darurat Rasisme, jawabannya bisa “iya” jika negara ini ikut melindungi pelaku rasisme, dan bisa “tidak” jikaa negara ini bersikap tegas dan adil pada pelakunya. Salam.

Oleh : Januari Riki Efendi, S.Sos
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana jurusan Pemikiran Politik Islam UINSU dan Pegiat Literasi.