Sang Bandar Chaplin Pun Akhirnya Keluar Sarangnya Karena Kepanasan

Hikayat Habib vs Lonthe
Rudi S Kamri

MUDANEWS.COM, Jakarta – Selama ini sudah menjadi rumor luas di masyarakat tentang siapa sponsor atau bandar kepulangan MRS ke Indonesia. Publik bertanya-tanya siapa yang membayar denda “over-stay” MRS dan keluarganya yang cukup besar dan biaya tiket dari Arab Saudi dan lain-lain. Hampir semua orang berakal sehat meyakini bahwa itu semua uang itu tidak mungkin keluar dari kantong MRS pribadi apalagi dari kas organisasinya. Dan kemudian setiba di Indonesia MRS langsung tancap gas gigi lima, buat hajatan perkawinan anaknya besar-besaran disambung dengan peringatan Mauludan di jalanan.

Di panggung itu MRS terlihat merasa terlalu percaya diri menyerang siapa saja membabi-buta tanpa etika. Sedari awal saya meyakini, keyakinan diri seorang MRS yang berlebihan itu karena merasa didukung sepenuhnya bandar besar yang masih merasa penguasa negara. Bahkan dia menantang negara untuk safari keliling Indonesia dengan manipulasi kemasan tabliq akbar jangan coba-coba dihalangi.

Analisa politik plus teori otak-atik gatuk pun langsung saya mainkan. Siapa sebenarnya sang bandar pemegang lisensi alias promotor utama yang begitu jumawa merusak tatanan negara? Sedari awal saya meyakini bahwa MRS hanyalah alat atau wayang yang dimainkan sang dalang. Dalang yang mempunyai jaringan luas ke seluruh sendi kehidupan negara. Dalang yang mempunyai sumberdaya yang tak terbatas dan punya rekam jejak hitam suka memainkan skenario konspirasi besar.

Dialah SANG CHAPLIN !!!

Sudah menjadi rahasia umum Sang Chaplin ini mempunyai kaki tangan di segala lini. Mulai di institusi aparat keamanan negara, beberapa pejabat negara dan beberapa di partai politik. Meskipun orang-orangnya sudah tidak lagi memegang kendali di posisi sentral resmi di organisasi, tapi saya meyakini masih cukup kuat membangun jaringan. Alat Chaplin di pemerintahan sudah terbaca luas, salah satunya adalah Gubernur Ibukota yang menjadi pion kesayangannya. Sedangkan di partai sudah bisa ditebak dengan terang benderang saat mengapa tiba-tiba Fraksi milik Pak Brewok di DPRD DKI Jakarta membela membabi-buta Gubernur DKI Jakarta. Kemudian salah seorang kaki-tangan Chaplin yang menjadi pimpinan Partai Kuning juga membangun narasi si Kuning siap menjadi kendaraan politik bagi MRS. Hmmm……

Oh ya, kepulangan MRS sebelum Pilkada Serentak 9 Desember 2020 juga bukan hal yang kebetulan. Menurut saya sudah pasti didesaian oleh Sang Chaplin untuk kembali mengobarkan politik identitas ke seluruh pelosok negeri seperti di Pilgub DKI Jakarta 2017. Tujuannya jelas Sang Chaplin ingin menanam saham kepada Kepala Daerah di seluruh pelosok negeri agar bisa mengendalikan politik dan sumberdaya ekonomi sebanyak mungkin.

Saya meyakini sebagai promotor utama atau pemegang lisensi MRS, Chaplin tidak sendirian. Pasti ada Co-Promotor yang mendukungnya khususnya dalam hal pendanaan. Nah di posisi kerjasama harmonis tapi bengis ini maka lahirlah Kelompok Mafioso Trio-C, yaitu Chaplin – Cendana – Cikeas. Dan tentu saja yang bertindak sebagai arranger adalah si kumis tipis Sang Chaplin. Skenario menguasai negara dengan memainkan wayang MRS langsung dimainkan.

Tapi skenario besar Trio-C berantakan ambyaaar berkeping-keping saat ternyata secara tidak diduga Presiden Jokowi menggeram dan menggebrak melalui Kapolri dan Panglima TNI. Peluit politik negara tertinggi membuat TNI-Polri kemudian langsung gebrak unjuk gigi. TNI dengan operator lapangan Pangdam Jaya dan Polri melalui Kapolda Metro Jaya yang baru.

Perlawanan negara dengan komandan utama Presiden Jokowi ini saya duga tidak diprediksi oleh Kelompok Mafioso Trio-C. Apalagi Sang Chaplin kelihatannya juga sudah menjalin komunikasi intens dengan sang penggantinya di pemerintahan. Teori komunikasi antara Sang Chaplin dengan penggantinya di pemerintahan mendapat pembenaran nyata saat sang Kyai si pengganti ini dari awal selalu bersikap manis kepada MRS bahkan konon akan menerima MRS di istananya.

Prediksi Presiden Jokowi bahwa tidak akan berani menggerakkan TNI Polri dan keyakinan terlalu kuat ada jejaring Sang Chaplin di istana lamanya membuat selama ini Sang Chaplin nyaman di persembunyian. Tapi saat mengetahui skenarionya berantakan dihantam kenyataan, akhirnya Sang Chaplin muncul ke permukaan dengan membangun narasi memuji-muji MRS sebagai pemimpin kharismatis. Chaplin juga menyerang Presiden Jokowi dengan mengatakan bahwa saat ini terjadi kekosongan kepemimpinan nasional. Suatu narasi sesat dari orang yang terbongkar kedoknya.

Nah, sekarang Sang Chaplin sudah membuka topengnya menampilkan diri. Kini tinggal keberanian Presiden Jokowi untuk menggerakkan lebih kuat dan keras tapi terukur politik negara dengan memainkan TNI Polri dan dukungan Partai Koalisi yang tersisa untuk menghantam Kelompok Mafioso Trio-C yang dimotori Sang Chaplin. Presiden jangan lagi kehilangan momentum karena saat ini dukungan masyarakat Indonesia sangat luas untuk membersihkan kerak-kerak bangsa yang selalu mengganggu stabilitas keamanan negara.

Presiden Jokowi tidak boleh ragu lagi, karena kekuatan politik negara saat ini mengumpul solid di tangannya. Langkah kongritnya adalah pertama, gembosi kekuatan Sang Chaplin melalui penangkapan MRS yang sudah cukup bukti untuk ditersangkakan. Kedua, bersihkan anasir-anasir di pemerintahan yang terindikasi kuat telah menjadi kaki tangan Sang Chaplin seperti Si “Penyumbang Masker” dan beberapa menteri titipan Sang Chaplin lainnya. Ketiga, lumpuhkan kekuatan Sang Chaplin dengan menggerakkan semua potensi yang ada untuk kembali bisa menguasai PMI dan Dewan Masjid Indonesia. Ini penting agar jaringan Sang Chaplin langsung terputus di semua lini. Dan langkah terakhir dari Presiden adalah menjewer dan mengendalikan dengan tali kekang yang lebih kuat, agar sang wakil jangan liar main dua kaki.

Teori membakar semak yang menjadi sarang ular beludak telah sukses dimainkan Presiden Jokowi, sehingga raja beludak kepanasan keluar sarang dan berkoar-koar di jalanan. Tinggal tunggu waktu yang tepat untuk melumpuhkan. Langkah awalnya adalah dengan menggergaji habis kaki-tangannya. Presiden Jokowi harus yakin diri, raja beludak dengan bertambahnya umur sudah tidak selicin ala kancil seperti dulu lagi. Kumis tipisnyapun semakin luruh mengikis.

Selalu ada saatnya Tuhan menghentikan kelakuan kriminal Sang Iblis. Melalui ambisinya dan melalui kepongahannya. Dan ini saatnya……. 21112020

Salam SATU Indonesia

Oleh : Rudi S Kamri