Arya Sinulingga Tidak Pernah Menuduh Pospera

Politik dan Intimidasi
Abi Rekso Panggalih

MUDANEWS.COM, Jakarta – Semestinya, ini menjadi waktu yang baik untuk saling membangun negeri. Di saat sebuah optimisme mulai bangkit dalam situasi pandemi.

Namun begitu, harapan tetaplah harapan. Pada waktu yang bersamaan masih banyak kejanggalan.

Kita mulai mengkerutkan kening, tiap kali membaca perseteruan akbar Arya Sinulingga Vs Pospera (Relawan Jokowi). Pasalnya, akhir-akhir ini saudara Arya sedang disudutkan dalam sebuah pelaporan atas tuduhan pencemaran nama baik Pospera sebagai organisasi.

Alih-alih berpendapat bukan dalam rangka membela salah satu pihak yang sedang disudutkan.

Kendati, kita perlu betul-betul mendudukan masalah ini secara akal sehat dan objektif.

Saya ingin mengajak teman-teman lain agar tidak larut dalam kedengkian politik yang dibawa oleh pihak awal berseteru.

Oleh karenanya, izinkan saya untuk bersikap netral dan meluruskan segala bentuk tuduhan sentimental yang belakangan menjadi sebuah ketegangan politik antara Arya Sinulingga secara individu dan Pospera secara organisatoris.

Dari data dan fakta material yang menjadi barang bukti gugatan teman-teman Pospera. Semua itu berawal dari sebuah perbincangan WAG. Nama WAG itu Membangun Negri.

Pada mulanya saudara Simson Simanjuntak, mengunggah sebuah berita dengan tambahan redaksi. Saya akan ulang verbatimnya agar bisa menjadi pertimbangan kita bersama.

Simson Simanjuntak (Pospera) Mengirim:
BUMN PT TIMAH MERUGI 45%…
MAKANYA MENTERI FOKUS KERJA..
GAK USAH MIKIRIN 2024 DULU..

(Kemudian link berita CCN Indonesia, bertajuk: Pak Erick, PT TIMAH merugi 45% Jadi Rp 225 M)

Arya Sinulingga Menjawab (Dari kiriman tautan Simson):
Banyak perusahaan yang komisarisnya Pospera selama 5 tahun pada rugi semua. Bikin pusing memang.

Sebenarnya, inilah awal cerita yang dijadikan materi laporan Pospera terhadap saudara Arya Sinulingga.

Pihak pelapor dalam hal ini POSPERA, merasa nama baiknya dicemarkan oleh pernyataan saudara Arya selaku terlapor.

Untuk melihat masalah ini dengan jernih menggunakan akal sehat, maka saya akan meminjam dua pendekatan. Pertama, pendekatan hubungan sebab akibat pembicaraan (konteks dan kausalitas). Kedua, pendekatan heurestik yang mana kita akan meraba motif dan orientasi tafsir dari bahasa yang digunakan.

Maka kita akan memulai dari premis pernyataan yang diunggah oleh saudara Simson Simanjuntak.

Sebenarnya konteks berita yang diunggah oleh Simson Simanjuntak adalah sebuah liputan atau investigasi seputaran perdagangan komoditas timah. Liputan beritanya menjelaskan bahwa terjadi sebuah dinamika pasar timah. Sehingga kemudian berdampak pada kerugian 45% PT. Timah.

Namun, saudara Simson entah menambah secara pribadi atau sekedar meneruskan dari orang lain. Bahwa menuduh atau berasumsi Menteri Erick Thohir memikirkan 2024. Tanpa menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan “Memikirkan 2024”? Tuduhan tidak beralasan itu, dikait-kaitkan sebagai pemicu dari kerugian PT TIMAH. Tentu, ini sebuah rangkaian silogisme bahasa yang carut marut.

Lantas saudara Arya Sinulingga sebagai individu yang kebetulan mungkin memiliki wawasan informasi dan pengetahuan terkait BUMN turut merespon.

Responya sangat singkat. Saudara Arya memberikan informasi umum, bahwa ada lebih dari satu komisaris yang juga bagian dari Pospera secara kebetulan ada di BUMN yang rugi. Boleh sajai, saudara Arya Sinulingga memiliki cukup informasi untuk menyatakan hal tersebut.

Saya coba analogikan, saudara Musyafaur Rahman (Pospera) pernah menjabat Komisaris PT. Damri. Dan kebetulan ketika yang bersangkutan menjabat, PT. Damri dalam kondisi rugi. Atau misalnya, saudara Kiki R. Yoktavian menjabat Komisaris PT. Semen Baturaja. Yang juga bertepatan perusahaan itu rugi, di saat bersamaan.

Jika memang dua konteks di atas yang dijadikan referensi berpendapat saudara Arya Sinulingga. Maka, secara logika itu adalah penyampaian informatif umum. Bukan tuduhan atau fitnah sebagaimana yang telah dilayangkan teman-teman Pospera. Dan dua contoh sudah memenuhi dari definisi banyak secara harafiah.

Padahal semestinya, Simson sebagai lawan bicara dari Arya boleh mempertanyakan lebih detail informasi yang telah dinyatakan. Karena dengan begitu, dialog dan diskursus publik bisa terselengara dengan baik.

Ini juga boleh menjadi masukan atau catatan teman-teman Pospera yang juga saya rasa mengusung ide dan praktik demokrasi. Bahwa semestinya diskursus publik jangan selalu diseret-seret dalam arena hukum positif.

Karena jika dipahami secara struktur bahasa, bahwa asosiatif tuduhan itu justru termakna dalam unggahan saudara Simson Simanjuntak. Bagaimana sebenernya unggahan Simson Simanjuntak menuduh Erick Thohir terkait 2024. Bahkan mengkait-kaitkan sebagai sebab adanya kerugian PT. Timah.

Sekiranya kekuasaan harusnya melatih akal sehat kita semakin tajam berargumen. Bukan semakin beku dan membatu di balik sekat-sekat ambisi jabatan.

#RakyatAkalSehat

Jakarta, 20 November 2020
(Abi Rekso Panggalih)