Demokrasi Laron

Demokrasi Laron
Ilustrasi

Oleh: Wahyu Triono KS
Dosen Administrasi Publik FISIP Universitas Nasional

MUDANEWS.COM – Siapa yang tak mengenal binatang yang muncul dan terbang dari sarang saat musim penghujan mulai datang?

Kemunculan binatang laron sebagai penanda musim penghujan datang, sering menarik perhatian.

Binatang laron yang muncul dan terbang mencari sumber cahaya itu sering mengganggu, terbang ke sana kemari dengan jumlah yang bisa mencapai ribuan dan sering menjadi mainan bagi anak-anak.

Laron-laron yang kedinginan itu biasa selalu terbang mencari sumber cahaya untuk mendapatkan kehangatan dan pasangan.

Untuk mengusir laron bisa dilakukan dengan mematikan lampu atau meletakkan air di baskom.

Bagi laron yang gagal menemukan pasangan akan segera mati. Bagi laron yang berhasil menemukan pasangan akan segera melepaskan sayapnya dan berjalan beriringan mencari sarang dan membentuk koloni baru.

Cahaya Demokrasi

Studi lebih lanjut tentang demokrasi laron ini mengkaji demokratisasi diibaratkan seperti energi dan cahaya yang menghangatkan itu adalah ideologi dan idealisme.

Bagaikan laron yang mencari energi dan cahaya kehangatan dan mencari pasangan untuk melanjutkan koloni, bila tidak akan mati.

Begitu pula demokrasi bila tidak menemukan cahaya dan energi ideologi dan pasangan berupa idealisme maka demokrasi akan mati.

Politik lokal atau tepatnya demokrasi lokal yang direpresentasikan melalui pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota serentak ditinjau dari para kandidat yang muncul diibaratkan laron yang mencari energi dan cahaya untuk kehangatan dan mencari pasangan.

Oleh karenanya, banyak praktisi politik, akademisi, peneliti sedang menguji Idealisme Vs Pragmatisme. Dimana pendulum politik demokrasi kita sedang bergerak?

Dengan demikian arah pendulum demokrasi kita bergerak antara idealisme dan pragmatisme ditentukan oleh seberapa besar energi dan cahaya yang bisa di dekati untuk membuat koloni baru menuju idealisme atau pragmatisme. Dan bila tanpa energi dan cahaya ia akan kalah atau mati.

Menang Kalah

Dari data yang ada, tampaknya hampir merata para kandidat kepala daerah (Kandidat Gubernur, Bupati dan Walikota) inchumbent atau petahana mendapatkan penantang (challenger) yang benar-benar memiliki potensi dan koalisi yang tangguh dan unggul.

Sebagaimana tinjauan demokrasi laron, maka potensi, konvensi, koalisi dan kompetisi kandidasi dari pasangan kandidat akan membentuk koloni baru yang lebih banyak bila mendapat pasangan yang tepat. Bila tidak akan segera mati.

Dalam konteks inilah berlaku suatu rumus dan logika model dan sistem politik demokrasi yang bertumpu pada suatu teori yang menjadikan rakyat sebagai arena.

Pada pemetaan dan analisa semacam itu, posisi menang kalah para kandidat kepala daerah bukan lagi ditentukan oleh inchumbent atau challenger, tetapi ditentukan oleh seberapa besar energi dan cahaya demokrasi mempengaruhi preferensi, tingkat idealisme dan pragmatisme para pemilih.

Dengan demikian hanya pasangan kandidat yang memiliki sumber daya baik sumber daya, sosial, politik, ideologi, ekonomi dan finansial yang akan memenangi suatu kompetisi demokrasi laron semacam ini.

Penulis adalah Tutor FHISIP Universitas Terbuka