Kepala Batu

Kepala Batu
Ketua Umum PB HMI 2003-2005, Hasanudin

Oleh : Hasanuddin
(Ketua Umum PB HMI 2003-2005)
(Suara Dari Neraka)

MUDANEWS.COM – Sejumlah aksi demonstrasi secara bergelombang dilakukan berbagai elemen masyarakat, menuntut agar Presiden baik selaku kepala negara maupun kepala pemerintahan membatalkan UU Omnibus Law. Tapi nampaknya para demonstran yang mewakili suara publik itu mesti kecewa, karena yang dihadapi ternyata bukan kepala negara atau kepala pemerintahan, tapi kepala batu.

“Kepala batu” ini istilah yang lazim digunakan kepada seseorang yang tidak mau mendengar, tidak peduli, tidak bergeming dengan apa yang disampaikan kepadanya. Padahal setidaknya ada 4 (empat) alasan utama kenapa UU itu harus dibatalkan :

Pertama; publik secara luas menolak. Publik atau rakyat kebanyakan ini adalah pemegang kedaulatan, yang merupakan hukum tertinggi. Suara rakyat adalah suara tuhan. Demikianlah yang dikenal dalam sistem demokrasi. Sehingga secongkak-congkaknya seorang Presiden, seangkuh-angkuhnya seorang kepala negara dan pemerintahan, mesti harus tunduk kepada kehendak umum, atau suara rakyat ini.

Kedua, para ahli hukum tata negara telah menyampaikan pandangan bahwa UU ini cacat secara formil. Tidak sejalan dengan kaidah dan tata cara pembentukan sebuah UU yang diatur dalam UU nomor 21 tahun 2011.

Ketiga cacat secara materiil, karena terbukti telah mengalami sejumlah perubahan substansi pasca diparipurnakan oleh DPR. Dan keempat; tidak merupakan kebutuhan yang mendesak, mengingat Indonesia sedang menghadapi pandemi Covid-19 yang lebih utama untuk segera diatasi.

Kami kira orang-orang di sekitar Presiden sudah tahu semua hal ini. Tapi tidak ada yang mau bersuara berbeda dengan Presiden. Urusan loyalitas kepada atasan, sekalipun mereka harus bersama-sama menjadi kepala batu yang memunggungi suara dan kehendak rakyat.

Kesimpulannya : pemerintah tetap meneruskan produk UU yang tidak memiliki legitimasi ini. Pertanyaannya, kenapa pemerintah ngotot menggunakan UU yang cacat dan tidak legitimate ini? Dari penjelasannya kita tahu bahwa tekadnya untuk melayani orang kaya (investor) sudah bulat. Memberikan kemudahan kepada orang kaya nampaknya sumber kebahagiaan bagi pemerintah.

Jika sudah demikian, kita sebagai rakyat biasa, mau apa? Dari pada ditangkap polisi, diculik subuh hari seperti yang di alami Jumhur Hidayat dan Syahganda Nainggolan serta para aktifis lainnya, lebih bagus kita diam sajalah.

Tapi itu pendapat sebagian saja. Yang lain berpendapat, tidak! mereka ini tetap bersiap-siap menyusun aksi massa yang lebih besar. Mungkin lebih dahsyat dari aksi massa di Thailand.

Kita tunggu saja, gimana ceritanya kalau kepala batu ketemu kepala batu.