Kebhinekaan, Materialisme, dan Ancaman terhadap Pancasila

Kebhinekaan, Materialisme, dan Ancaman terhadap Pancasila
Hasanudin, Ketua Umum PB HMI 2003-2005

Oleh : Hasanuddin
(Ketua Umum PB HMI 2003-2005)

MUDANEWS.COM, Medan – Apakah semua manusia itu menginginkan kebahagiaan? Benar, semua manusia menginginkan kebahagiaan. Apakah dalam mencapai kebahagiaan itu, tiap manusia berpendapat bahwa hal tersebut mesti di tempuh melalui penguasaan materi sebanyak-banyaknya? Memperoleh gaji yang besar, memiliki rumah yang banyak, kebun yang luas, jet private terbaru dan seterusnya?

Tidak semua manusia berpikiran seperti itu.

Di dalam ajaran Budhisme misalnya, ada yang berpandangan bahwa materialisme itu penting. Mereka yang berpendapat seperti ini di sebut kelompok atau mazhab mahayana. Sebaliknya ada yang berpendapat bahwa materi yang banyak itu tidak penting, materi dibutuhkan hanyalah secukupnya saja, untuk bertahan hidup saja. Yang terpenting adalah kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, welas kasih kepada sesama dalam darma dan kebajikan, itulah yang terpenting. Mereka di kenal dengan mazhab hinayana.

Dalam tradisi Yahudi juga demikian, mazhab ortodoks misalnya berpendapat seperti yang disampaikan oleh mazhab hinayana. Sementara mazhab katolik, berpikiran lain. Mazhab Protestan berpandangan memang perlu itu penguasaan materi, kapitalisme itu bagian dari ajaran etic dalam protestantianisme, demikianlah pandangan Max Weber tentang etika protestan yang pengaruhnya besar dalam membangun materialisme itu.

Dalam ajaran Islam, juga terdapat perbedaan pandangan. Namun tidak ada pandangan yang mengatakan bahwa materialisme itu utama dan harus di capai untuk mencapai kebahagiaan. Pandangan paling moderat dalam islam adalah keseimbangan antara dunia dan akhirat. Namun, tidak sedikit penganut agama Islam yang berpendapat bahwa materi cukup seadanya saja, hanya untuk sekedar melanjutkan kehidupan, dan semua itu Allah siapkan sesuai kebutuhan manusia. Tidak perlu di kejar-kejar. Pandangan seperti ini terutama di kalangan tarekat, pada sufisme.

Warga Negara Indonesia ini mayoritasnya umat Islam. Yang tidak menerima konsep materialisme sebagai jalan menuju kebahagiaan. Umat Islam berpandangan bahwa keseimbangan antara materi dan spritual, dunia dan akhirat itu penting. Sebab itu, keseimbangan akan lingkungan hidup mesti di jaga, mesti dilindungi.

Liberalisme-materialisme sebab itu tidak bisa di terima umat Islam, dan juga pemeluk agama lainnya. Bukan membenci materi, namun materi dibutuhkan seadanya, secukupnya saja.

Keanekaragaman pandangan ini dilindungi oleh Pancasila dan UUD 45. Sesuai dengan prinsip kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Oleh sebab itu, pahamilah wahai para penyembah materi, wahai kalian yang mengagungkan investasi, mayoritas rakyat Indonesia, tidak berpikir seperti kalian. Mayoritas rakyat Indonesia, tidak memandang kepemilikan materi yang banyak, sebagai jalan mencapai kebahagiaan. Jadi jangan ukur keberhasilan membangun bangsa dari sisi pertumbuhan ekonomi, dari surplus tidaknya perdangangan, dari sisi besarnya utang yang kalian bisa hasilkan dan menjadi beban masyarakat untuk membayarnya.

Pahamilah itu wahai para penguasa. Kalian tidak sedang memimpin masyarakat yang berideologi materialisme!. Kalian sedang memimpin masyarakat berideologi Pancasila.!

Jika setiap kebijakan yang kalian produksi demi menggapai pencapaian penumpukan materi, tanpa mempertimbangkan azas kelestarian lingkungan, azas masa depan yang berkesinambungan, azar diversity, azas manfaat, bagi warga negara, yakinlah perlawanan, keluh kesah dari warga bangsa akan terus kalian hadapi. Dan dalam batas-batas tertentu, ada masyarakat yang berkeyakinan bahwa melawan para penyembah materi seperti kalian adalah bagian dari jihad. Karena kalian yang berpaham materialisme itu senantiasa merusak lingkungan hidup, merusak tatanan budaya dan kearifan lokal yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.

Pahamilah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, wahai para penguasa; wahai para penyembah materialisme, pengagum investasi asing !.

Semoga Allah SWT membuka mata hati kalian, menyakini bahwa kehadiran di dunia ini hanya sementara, dan kehidupan yang abadi sedang menanti di akhirat kelak.

Depok, 17 Oktober 2020