Dialektika Organisasi Mahasiswa Daerah Dalam Investasi Sejarah

Dialektika Organisasi Mahasiswa Daerah Dalam Investasi Sejarah
Ridho Mukhlisin

MUDANEWS.COM – Keberadaan Organisasi yang bersifat kedaerahan banyak berdiri di Kota sebagai basis perguruan tinggi, baik yang berbasis gerakan maupun yang berbasis budaya akan tetapi seberapa besar manfaat yang dihasilkan oleh masyarakat daerah terhadap organisasi yang membawa embel-embel nama daerah tersebut, saya pikir patut di cermati sebagai momen refleksi Hari Pancasila dan juga Bulan lahirnya tokoh Proklamator Ir Soekarno.

Organisasi mahasiswa daerah sudah selayaknya dapat memfasilitasi kepentingan mahasiswa, pemuda dan rakyat baik di kampung halaman atau yang merantau dan berada di luar daerah, akan tetapi faktanya ada beberapa organisasi mahasiswa daerah yang malah terjebak pada eksklusivitas gerak dan lalai akan fungsi dan tujuannya, sehingga banyak rakyat dan mahasiswa yang mereka wakili merasa sangat kecewa terhadap organisasi mahasiswa tersebut.

Kondisi objektif di lapangan kita melihat Organisasi Mahasiswa Daerah saat ini hanya bergerak di menara Gading tidak mau terlibat dalam urusan yang menurut mereka bukan urusan Mahasiswa dan cenderung membuat garis pemisah antara mahasiswa dan rakyat biasa, hasilnya Organisasi Mahasiswa daerah hanya terjebak dalam kegiatan ceremonial belaka dan tidak konkrit dalam ikut memberi warna bagi kemajuan daerahnya masing-masing.

Organisasi mahasiswa daerah dulu selalu identik sebagai lawan sepadan bagi pemerintahan daerah yang tidak pro rakyat dan bersinergi dengan kekuatan lain demi kemajuan daerahnya, tapi apa yang kita lihat malah sebaliknya, sangat disayangkan banyak organisasi mahasiswa daerah yang lalai mengamati situasi Daerahnya, sehingga masih banyak ketimpangan ketimpangan sosial yang terjadi di daerahnya luput dari pengamatan Mahasiswa, dan kondisi ini kembali menegaskan Mahasiswa semakin jauh dari identitas “agend of change” (Agent perubahan), dan sebagai “social control” (kontrol sosial) dan berada dalam situasi “diam dalam buta” seolah olah daerahnya baik baik saja.

Menurut saya ada beberapa Faktor yang menjadi penyebab kenapa situasi tersebut terjadi:  Pertama, Budaya hedonisme di kalangan aktivis Organisasi Mahasiswa Daerah yang semakin tinggi, membuat gerak Aktivis mahasiswa daerah tidak mengarah pada rasa kebersamaan antara masyarakat dan mahasiswa, mahasiswa asik dengan dunianya sendiri dan memisahkan diri dari kepentinngan masyarakat, itu sebabnya Aktivis Mahasiswa Daerah lebih sering terlihat nongkrong di hotel-hotel atau asik memainkan Gadgetnya ber Games ria ketimbang bersama Masyarakat Daerahnya yang berprofesi sebagai Kuli Bangunan atau Tukang Becak.

Kedua, berpuas diri terhadap status Mahasiswa seolah dengan telah menjadi Mahasiswa mereka tidak perlu membaca Buku dan cukup belajar di ruang kelas, sehingga kualitas intelektual Aktivis Mahasiswa daerah menurun, dan hanya mampu melakukan kegiatan yang bersifat Event Organizer bukan kegiatan idelogis yang bermuara pada perubahan sosial masyarakat di daerahnya.

Ketiga, minimnya kemandirian Aktivis Mahasiswa dalam melakukan gerak dan cenderung mengikuti selera Senior yang berlatar belakang isu pesanan, menjadi masalah tersendiri, karena gerakan hanya membawa isu kaum elit yang jauh dari kebutuhan Masyarakat daerah dan cenderung kontra produktif dengan sejarah sudah seharusnya sistem gerakan berubah mengikuti jaman 4,0, tidak terpatok pada strategi gerakan seperti periode Malari atau 98 yang tidak sesuai dengan pola gerak sekarang, apalagi sekarang memasuki era” post truth”, yang tentu gerakan harus bermetamorfosa dengan sistem baru agar eksistensi gerak tetap terjaga.

Keempat, dan paling fundamental adalah minimmnya minat baca buku di kalangan Aktivis Mahasiswa Daerah membuat Mahasiswa hanya menjadi aktivis kupingan dan tidak memiliki daya nalar luas dalam menelit sebuah persoalan, di era ini Mahasiswa hanya mengandalkan artikel singkat yang disediakan oleh Google yang tentu memuat bacaan yang tidak konferhenship dan cenderung parsial sehingga Aktivis Mahasiswa cenderung berfikir dan bernalar Instans dan tidak memiliki dasar pemahaman yang mendalam.

Terakhir saya menyarankan agar Aktivis gerakan Mahasiswa Daerah kembali pada ruhnya membangun Jiwa Kepahlawan untuk investasi Sejarah, berkaca pada Kumpulan Jong Sumatera dan Jong Batak yang mampu membangun persatuan Indonesia 1928, kenapa kita sekarang malah mundur kebelangkang enggan menyatukan isu mahasiswa dan isu Rakyat, kembalilah ke khittah bangunan gerakan Mahasiswa yang menguatkan kepal tangan mendobrak Sistem menindas, dan melantangkan suara menolak ketidakadilan bukan melentikkan jari menulis proposal dan merapikan pakaian agar terlihat layak masuk ke kantor pejabat korup dan nongkrong di café-café mahal.

Penulis : Ridho Mukhlisin
Kader PMII Kota Medan