Donald Trump Lepas, Mitt Romney Jadi Bintang

Donald Trump Lepas, Mitt Romney Jadi Bintang
Donald Trump

MUDANEWS.COM – Akhir-akhir ini mengikuti informasi kondisi politik Amerika Serikat (AS) sungguh sangat menarik. Pandangan dunia tidak lepas dari proses pemakzulan Presiden AS Donald Trump yang akhirnya gagal setelah hasil voting rapat Senator As. Pertarungan pemakzulan Trump tidak lepas dari pertarungan antara Partai Republik As yang mengusung Trump menjadi Presiden AS pada waktu Pilpres AS empat tahun lalu dengan Partai Demokrat AS.

Awal mula pemakzulan Trump pun dibawa oleh Partai Demokrat AS karena Trump menyalahgunakan kekuasaannya dengan melakukan tekanan (intervensi) kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dengan akan membekukan dana bantuan militer sebanyak 400 juta dolar AS jika Zelensky tidak menuruti permintaan Trump untuk menginvestigasi Joe Biden yang disebut berupaya menanggalkan jaksa agung Ukraina dari jabatannya. Tuduhan Trump itu dilakukan Biden saat masih menjabat sebagai Wakil Presiden As di era pemerintahan Presiden Barack Obama. Kala itu jaksa agung Ukraina menyelidiki kasus korupsi sebuah perusahaan gas di Burisma-Ukraini. Diketahui pada masa penyelidikan itu yang menjadi dewan direksinya adalah putra Joe Biden, yaitu Hunter Biden. Akan tetapi, belum ada petunjuk atau bukti bahwa Joe Biden dan putranya Hunter Biden melakukan kedua pelanggaran tersebut.

Akibat tuduhan Trump yang mengintervensi Presiden Ukraina itu menjadi dakwaan untuk pemakzulan Donal Trump dari jabatannya sebagai Presiden Amerika Serikat diperiode pertamanya ini. Mayoritas anggota parlemen atau DPR AS dari Partai Demokrat AS yang dipimpin Nancy Pelosi menginisiasi pemakzulan terhadap Trump terkait penyalahgunaan kekuasaan sebagai Presiden As. Investigasi pemakzulan pun dimulai pada tanggal 24 September 2019. Saat investigasi itu pun diketahui Trump meminta bantuan Ukraina untuk mengalahkan rival politiknya nanti di Pilpres AS 2020, Joe Biden. Joe Biden sendiri digadang-gadang sebagai calon Presiden terkuat dari Partai Demokrat AS.

Pada tanggal 13-21 November 2019, Komite Intelijen parlemen mulai melakukan dengar pendapat secara terbuka dan juga mendengarkan kesaksian sebulan sebelumnya. Berdasarkan laporan investigasi setebal 300 halaman pada 3 Desember 2019 diumumkan. Dalam laporan yang sangat tebal tersebut, diketahui bahwa Trump melakukan kesalahan ‘luar biasa’ selaku Presiden AS.

Seminggu setelah pengumuman laporan tersebut, Parlemen AS yang banyak kursinya dikuasi dari Partai Demokrat AS dan dipimpin Nancy Pelosi yang notabenenya juga dari Partai Demokrat AS mengungkap dua dakwaan pemakzulan Trump, yaitu penyalahgunaan kekuasaan dengan mengintervensi Zelensky dan Trump berupaya menghalangi Kongres dengan menghalangi tokoh-tokoh yang dijadikan saksi.

Pada 18 Desember 2019 Parlemen pun memakzulkan Trump dengan dua dakwaan tadi. Akan tetapi, pemakzulan ini belum akhir dari sebuah jabatan Presiden Trump. Agar Trump sah lengser dari jabatannya, harus diadakan sidang Senat AS. Hasil sidang Senat AS menjadi penentu nasib Trump apakah tetap masih menjabat Presiden AS atau tidak.

Sidang Senat AS pun dimulai 16 Januari 2020. Sebelum dan sedang berjalannya Sidang Senat AS, publik sudah banyak menduga-duga Trump tidak akan lengser dari jabatannya. Mengapa demikian? Jawabannya adalah di Senat AS lebih dari setengah anngota senat dikuasai oleh Partai Republik AS yang membela mati-matian Trump karena satu partai.

Dugaan publik pun ternyata benar, setelah dilakukan pemungutan suara Senator AS pada 5 Februari 2020, akhirnya Trump lepas dari dakwaan. Perolehan suara setelah voting pada dakwaan pertama muncullah hasil dengan 52 suara menolak dakwaan dan pada dakwaan kedua terdapat perolehan suara 53 suara menolak dan 47 suara menerima dakwaan.

Hasil-hasil voting tersebutpun jauh dari syarat dua pertiga suara moriyatas untuk melengserkan Trump. John Roberts selaku pimpinan sedang menegaskan bahwa Donald Trump lepas dari dakwaan. Nancy Pelosi dan Partai Demokrat As pun akhirnya gagal melengserkan Presiden AS Donald Trump selalu kontroversial itu.

Mitt Romney Jadi Bintang
Ada hal yang menarik dari voting sidang Senat AS saat kemarin. Salah seorang Senator dari Partai Republik AS Mitt Romney mengambil pilihan lain dari rekan-rekannya dari Partai Republik AS. Di saat politisi-politisi dari Partai Rapublik AS mempertahan Trump agar tidak dilengserkan, dengan kata lain menolak dakwaan pemakzulan, Romney berbeda arus yang kemudian menerima dan mengakui bahwa Trump benar-benar bersalah pada dakwaan pertama.

Banyak orang terkejut atas pilihannya yang berlawanan arus dengan anggota Senat AS dari separtai dengannya. Sikap itu pun menjadi sorotan banyak media dan publik secara luas. Ia (Romney) mendapat hujatan dari Partai Republik AS dan juga para pendukung Trump karena dianggap mendukung pemakzulan Trump dan mendukung Partai Demokrat. Hal ini dibuktikan satu hari setelah persidangan, Donald Trump berkicau di akun twitternya dengan mengatakan, “Seandainya kandidat presiden yang gagal, Mitt Romney, mencurahkan energi dan kemarahan yang sama untuk Barack Obama yang goyah seperti yang dia lakukan saksama kepada saya, dia bisa saja memenangkan pemilihan.” (Republika, 07 Jumat 2020).

Bukan hanya Donald Trump sendiri yang mencibir Romney. Putra tertua Trump, Donald John Trump juga ikut mencibir Romney. Dia mengatakan bahwa Romney tidak akan pernah menjadi Presiden AS. John Trump menilai bahwa Romney adalah politikus yang sangat lemah untuk mengalahkan Calon dari Partai Demokrat. Trump Junior menuduh Romney telah bergabung dengan Demokrat dan secara resmi menjadi anggota perlawanan. Bahkan lebih keras lagi putra tertua Trump itu menegaskan bahwa Romney harus dikeluarkan dari Partai Republik.

Sebagaimana yang dituliskan Kamran Dikarma dalam laporannya yang dimuat di koran Republika (07/02/2020), Mitt Romney dalam pidatonya saat sidang pemakzulan Trump menjelaskan bahwa bahwa ia sadar akan pilihannya walau orang dipartainya dan negara bagiannya akan ditentang. Pastinya juga datang kecaman dari Presiden AS Donald Trump dan pendukung Trump. Pernyataannya ini terbukti benar sebagaimana yang sudah kita jelaskan di atas tadi.

Akan tetapi, pilihan yang berlawanan arus itu bukan tanpa dasar yang kuat. Romney menjelaskan bahwa pilihannya itu karena berdasarkan sumpah jabatannya sebagai Senator AS untuk menegakkan keadilan. Romney membenarkan dan menilai kesalahan Trump karena telah menekan Presiden Ukraina untuk kepentingan politik pribadinya menuju Pilpres AS 2020. Tujuannya menyingkirkan Joe Biden sebagai rival politiknya dari Partai Demokrat pada Pilpres 2020. Ia menilai juga bahwa Trump telah melanggar hak-hak pemilih dan kepentingan nasional AS. “Merusak Pemilu untuk mempertahankan jabatan mungkin merupakan pelanggaran paling kejam dan merusak dari sumpah jabatan yang bisa saya bayangkan.” demikian ucapnya tegas dalam pidatonya kepada seluruh anggota Senat AS.

Walau ia banyak mendapat kecaman dari Partai Republik dan pendukung Trump, Mitt Romney yang sangat relijius, jujur, pro keadilan dan menyelamatkan demokrasi AS, mendapat banyak dukungan dan pujian dari sejumlah warga di Salt Lake City. Terlihat warga memberikan pujian pada Romney dengan membawa poster yang bertuliskan, “Thank You Senator Romney!”. Ucapan terimakasih itu karena Romney membuat keputusan menyetujui pemakzulan Trump. Dalam poster-poster yang dibawa oleh warga Salt Lake City terllihat tulisan ungkapan kecintaan pada Romney; “Love (dengan lambang hati) U (maksudnya You) Romney”. Satu poster lagi menunjukkan bahwa Romney adalah orang yang jujur; “Romney=Integrity”.

Penutup
Walau Donald Trump lepas dari pemakzulan, akan tetapi hal ini telah menjadi sejarah pemakzulan keempat Presiden AS yang pernah terjadi di negara AS setelah Andrew Johnson, Richard Nixon dan Bill Clinton.

Sikap dan keberanian anggota Senat AS Mitt Romney melawan arus demi sumpah jabatannya menegakkan keadilan dan menjaga hak-hak pemilih serta kepentingan nasional AS patut diberi dua jempol dan penghargaan bintang. Kita patut berterimakasih atas sikapnya itu menunjukkan bahwa politik tidak selamanya pro keburukan walaupun yang melakukannya penguasa di negara tersebut.

Dari sikap Romney ini, kiranya politisi di Indonesia ini dapat menirunya. Tidak perlu takut dengan kecaman dan hujatan demi keadilan. Tidak perlu takut dengan penguasa demi kepentingan nasional Republik Indonesia. Kepentingan rakyat di atas segalanya. Inilah salah satu ini bahwa kita adalah negara kebangsaan (nation state) bukan negara kerajaan (monarchy). Demi tegaknya demokrasi di Indonesia, kepentingan hak-hak rakyat harus lebih utama. Semoga politisi-politisi di Indonesia ini dapat mencontoh sikap keberanian Mitt Romney. Amin!*

Penulis: Ibnu Arsib (Bukan siapa-siapa, hanya manusia biasa).