Memuliakan Pendidikan

Memuliakan Pendidikan
Wahyu Triono K.S.

MUDANEWS.COM – Salah satu syarat suksesnya penyelenggaraan pendidikan menurut hemat saya dapat diukur dengan kesediaan menjadi murid.

Dengan kesediaan dan kesiapan seseorang untuk menjadi murid, siswa atau mahasiswa akan membuka kesempatan dan kemungkinan terhadap berbagai hal untuk menerima pendidikan yang mencerahkan.

Yaitu pendidikan yang berfokus pada mencari kebenaran dari koherensi kenyataan-kenyataan (basa), kemampuan untuk menangkap arah atau gerak dari peristiwa (masa), keserasian rasa seni atau keindahan seni (rasa bahasa) dan kemampuan untuk menerima yang sakral dan yang suci (yasa).

Selanjutnya ada dua indikator lainnya yang dapat dijadikan sebagai pengukur keberhasilan pendidikan Indonesia, sehingga penyelenggaraan pendidikan dilakukan sebagai proses memuliakan pendidikan adalah bagaimana proses pendidikan serentak bergerak menjadikan para pelaku pendidikan menjadi pengabdi dan pemimpin.

Menjadi Pengabdi

Selain menerima pendidikan yang mencerahkan. Keberhasilan pendidikan juga bukan hanya sekedar dilihat dari kemampuan murid, siswa dan mahasiswa bisa baca, tulis, hitung (Calistung) tetapi bagaimana pendidikan mesti diorientasikan untuk mewujudkan para pelaku dan peserta pendidikan menjadi pengabdi.

Proses pendidikan yang memuliakan pendidikan terjadi bila seluruh pelaku pendidikan dan peserta pendidikan dan seluruh pemangku kepentingan di dunia pendidikan memiliki tiga tanggung jawab utama yaitu: tanggung jawab intelektual, profesional dan spritual.

Pelaku pendidikan yang memiliki tanggung jawab intelektual adalah para murid, siswa, mahasiswa, guru, dosen dan tenaga kependidikan yang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu pengetahuan dan meningkatkan kapasitas dan keunggulan dengan terus belajar seumur hidup.

Pelaku pendidikan yang memiliki tanggung jawab profesional adalah para murid, siswa, mahasiswa, guru, dosen dan tenaga kependidikan yang dapat mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan revolusi industri 4.0 dan revolusi smart society 5.0.

Pelaku pendidikan yang memiliki tanggung jawab spritual adalah para murid, siswa dan mahasiswa, guru, dosen dan tenaga kependidikan yang menyadari bahwa belajar dan menuntut ilmu pengetahuan adalah kewajiban dan perintah Tuhan dan mengajarkan ilmu pengetahuan dengan penuh tanggungjawab adalah amal baik yang penuh kemuliaan.

Proses pendidikan yang digerakkan secara bersama oleh setiap pelaku pendidikan yang memiliki tanggung jawab intelektual, profesional dan spritual itulah yang menjadikan proses pendidikan menjadikan pelaku pendidikan menjadi para pengabdi baik pada masyarakat, bangsa negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Menjadi Pemimpin

Indikator selanjutnya yang dapat mengukur keberhasilan pendidikan di Indonesia adalah apabila proses pendidikan serentak bergerak menjadikan para pelaku pendidikan menjadi pemimpin.

Melalui proses pendidikan para pelaku pendidikan menjalankan proses pembelajaran untuk terus meningkatkan kapasitas kepemimpinannya sebagai pemimpin yang amanah (dipercaya).

Menjadi pemimpin yang amanah (dipercaya) dapat terjadi bila proses pendidikan serentak bergerak menjadikan para pelaku pendidikan memiliki sikap yang baik (Afektif), jujur, adil dan memiliki karakter yang baik dan akhlak yang terpuji (Attitude) yang baik atau disebut dengan Sidiq (Benar) dalam perilaku.

Proses pendidikan juga mesti menjadikan para pelaku pendidikan memiliki kemahiran, keahlian dan keterampilan (psikomotorik), atau Skill, atau Tabligh dalam menyampaikan.

Selain itu, proses pendidikan juga mesti menjadikan para pelaku pendidikan yang memiliki kemampuan, kapasitas, kompetensi dan keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (kognitif), atau knowledge atau Fathonah yang cerdas dan trengginas.

Proses pendidikan yang serentak bergerak pada wilayah seperti inilah yang akan menjadikan para pelaku pendidikan menjadi para pemimpin masyarakat, bangsa dan negara yang dipercaya.

Kesimpulan

Beberapa indikator yang telah kita jadikan sebagai alat ukur keberhasilan pendidikan diantaranya kesediaan menjadi murid agar dapat menerima pendidikan yang mencerahkan.

Selain itu, keberhasilan pendidikan juga tidak boleh sekedar dilihat dari kemampuan baca, tulis, hitung (Calistung).

Lebih dari itu, berkaitan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2021 dengan tema “Serentak Bergerak, Mewujudkan Merdeka Belajar” maka keberhasilan penyelenggaraan pendidikan dapat dikatakan berhasil bila proses pendidikan serentak bergerak mewujudkan para pelaku pendidikan yang menjadi pengabdi dan menjadi pemimpin.

Inilah bentuk dari memuliakan pendidikan, dimana perintah belajar melalui perintah atau wahyu Tuhan untuk membaca, menulis dan berhitung dan berkalkulasi terhadap semua teks dan konteks sesungguhnya agar manusia merdeka baik sebagai pengabdi atau hamba Tuhan, maupun sebagai pemimpin di bumi milik Tuhan.

Dengan demikian, sukses dari gerak serentak, mewujudkan merdeka belajar menurut hemat saya apabila proses pendidikan serentak bergerak mewujudkan para pelaku pendidikan yang merdeka menjadi manusia pengabdi dan menjadi pemimpin di muka bumi. Selamat Hari Pendidikan Nasional. [WT, 2/05/2021]

Oleh: Wahyu Triono K.S.
Pengasuh dan Pendiri TPA Leader Depok, Pesantren Pendidikan Al Qur’an Al Kayis Jakarta Timur, Dosen FISIP Universitas Nasional, Tutor FHISIP Universitas Terbuka dan Universitas Siber Asia