USU ku Sayang, Tempat Berkelahi di Perguruan Silat Bukan di Perguruan Tinggi

Kampus USU
Kampus USU, Dok. Istimewa

MUDANEWS.COM – Tahun 1977, Aku merasa sangat bangga, karena lulus masuk ke Universitas Sumatera Utara (USU). Setelah selesai S1 dan bekerja sebagai Pegawai Negeri, rasa bangga itu semakin besar, karena alumni USU ternyata mampu berkompetisi sehat di manapun berada. Sebagai manusia yang lahir dari rahim USU dan ditumbuhkembangkan di USU, tiba-tiba merasa malu, tatkala mengetahui terjadi konflik politik praktik akademik antar pemimpin Lembaga Pendidikan yang membawa nama Provinsi Sumatera Utara itu.

Surau Peradaban terancam roboh! Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, adab adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak. Beradab, artinya memiliki adab; memiliki budi bahasa yang baik; berlaku sopan. Peradaban, adalah kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin, hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa.

Imam Suprayogo, menulis di lama facebooknya pada 18 Mei 2016: ‘Tatkala seseorang bersedia menjadi bagian dari perguruan tinggi, menjadi dosen atau guru besar misalnya, maka tugas-tugasnya tidak akan pernah selesai. Satu di antara tugas perguruan tinggi adalah melakukan penelitian. Tugas itu sehari-hari dilakukan oleh para dosen dan guru besarnya. Itulah sebabnya, di perguruan tinggi selalu saja ada sesuatu yang baru.

Manakala di perguruan tinggi sudah tidak ada kegiatan penelitian hingga mengakibatkan tidak terdengar lagi sesuatu yang baru, maka berarti institusi itu sudah berhenti menjadi perguruan tinggi.’ Taryana Suryana, dalam bahan Kuliah Online 2010, menulis: ‘Perguruan tinggi harus menjadi pusat munculnya gagasan cemerlang yang akan menyebar luas sambil memperbaiki dan disempurnakan.

Forum musyawarah untuk mufakat dalam bidang iptek harus terjadi secara kontinu di dalam kampus untuk mempertinggi dinamika masyarakat yang dibutuhkan untuk menghadapi perobahan dunia yang cepat.’

Chazali H Situmorang, mantan pejabat di Kementerian Sosial RI, pengurus IKAL USU menulis di medsos tanggal 14 Januari yang viral di kalangan alumni USU, dengan judul menggigit: “Rektor Yang Meludah Kelangit.” Chazali secara gamblang dengan gaya Anak Medan mengatakan, Rektor USU berhasil “Membenam” PP IKA USU, tidak lagi mewakili alumni USU di keanggotaan MWA, melalui tangan Ketua MWA periode lalu.

Persoalan ini sudah masuk dalam ranah hukum, dan saat ini sedang proses Pengadilan di Jakarta, dengan pihak tergugat Mendikbud, Rektor dan MWA USU, untuk mendudukkan kembali posisi PP IKA USU di MWA. Secara tegas dan terukur, sudah dapat diketahui bahwa telah terjadi “perkelahian massal” di Perguruan Tinggi yang katanya bermartabat itu.

Yang menyedihkan sekaligus memalukan adalah ungkapan Chazali selanjutnya, bahwa Teori “Bumi hangus” sedang dimainkan oleh sang Rektor. Sebab, soal plagiat, bukanlah persoalan baru, sudah berurat berakar, dan kalau mau dibongkar akan rusak susu sebelanga. Perkelahian berlanjut seru dengan saling melaporkan masalah plagiat para petinggi di USU. Dokumen laporan resmi pun terbang tanpa sayap melalui media sosial. Para akademisi petinggi USU mengumbar benci, mengabaikan nurani. Benar jugalah kiranya ucapan sinis Rocky Gerung: “Banyak Guru Besar, tetapi otaknya kecil!”

Waspada online tanggal 16 Januari 2021, menampilkan tulisan dengan judul: “Kemendikbud Minta Seluruh Dokumen Terkait Kisruh USU” Ini menunjukkan, perkelahian sudah di arena terbuka, layaknya tawuran massal anak sekolah SMU atau SMK.

Padahal Perguruan Tinggi tempat kumpul akademisi, tempat ilmuwan berdiskusi, pembelajar dan pengajar unjuk prestasi, berpikir, berkreasi, berinovasi.

Perguruan Tinggi tempat terhormat, tempat orang-orang bermatabat, bukan tempat orang saling menghujat, saling membuka aib sejawat.

Perguruan Tinggi bukan tempat berkelahi, bukan tempat cari sensasi, bukan bertarung cari posisi, tak layak ambisi berbuah benci.

Kalau berkelahi di Perguruan Silat, memang dilatih menerjang dan melompat, memukul dengan tangan dan tongkat, mengelak cepat memukul tepat.

Perguruan Tinggi tempat adu argumen, bukan mengumbar sentimen. Hidup ini tidak permanen, pangkat dan jabatan tak tertulis di batu nisan.

Tinggi-tinggi terbang merbah
Tersebab tergenang ranah jerami
Tinggi-tinggi orang sekolah
Adab dikenang setelah mati

Oleh : Dr. dr. Umar Zein DTM&H Sp.PD KPTI
Medan, 16.01.2021