Resolusi 2021: Pemimpin Adil

Budayakan 3M
Wahyu Triono KS

Oleh: Wahyu Triono KS
Dosen Administrasi Publik FISIP Universitas Nasional dan Tutor FHISIP Universitas Terbuka

Referensi tentang pemimpin adil itu bukan hanya menjadi hak mutlak dari suatu kepemimpinan dalam bentuk atau sistem demokrasi.

Tetapi bentuk pemerintahan monarki, tirani, aristokrasi, oligarki, teknokrasi, timokrasi, kleptokrasi, oklokrasi dan plutokrasi juga mengklaim menjalankan kepemimpinan adil menurut versinya.

Bentuk demokrasi sering dipandang sebagai sistem paling memungkinkan untuk mewujudkan kepemimpinan yang adil, bukan hanya dari proses penentuan figur pemimpin melalui jalan pemilu yang langsung, umum, bebas dan rahasia, jujur dan adil.

Tetapi juga pada implementasi kepemimpinan oleh figur pemimpin mulai dari pusat sampai daerah melaksanakan pembangunan, menyelenggarakan pemerintahan dan memberikan pelayanan publik dituntut untuk menerapkan good governance.

Dengan good governance menghendaki pemerintahan dijalankan dengan mengikuti prinsip-prinsip pengelolaan yang baik, seperti transparansi (keterbukaan), akuntabilitas, partisipasi, keadilan, dan kemandirian, sehingga sumber daya negara yang berada dalam pengelolaan pemerintah benar-benar mencapai tujuan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kemajuan rakyat dan negara.

Bagaimana pemimpin adil itu dan dalam tinjauan implementasi kebijakan dan program, kepemimpinan sering diukur dengan indikator kinerja. Bagaimana dengan tinjau dan perspektif yang lain?

Pemimpin Adil

Pembicaraan tentang pemimpin adil sama bahkan lebih tua dari sejarah penciptaan Adam sebagai manusia pertama.

Penciptaan Adam sebagai manusia oleh Allah sejak awal menimbulkan pertanyaan bagi malaikat, mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang hendak menimbulkan kerusakan dan kehancuran di muka bumi.

Kerusakan dan pertumpahan darah itu bermula dari suatu kenyataan bahwa telah ada makhluk lain yang melakukan kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi akibat tidak memegang amanah, khianat terhadap kebenaran, kejujuran dan keadilan.

Apakah lantas Tuhan membatalkan penciptaan manusia, justru Allah SWT menjelaskan sebagaimana Firmannya (Q.S Al Baqarah: 30):

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Apa rupanya kelebihan manusia (Adam) yang diciptakan Tuhan? Selain menjelaskan jika nantinya keturunan Nabi Adam hanya akan membuat kerusakan, Allah SWT juga menjelaskan kepada Malaikat tentang kelebihan Adam di atas mereka dalam hal ilmu pengetahuan.

Sebagaimana Allah SWT berfirman pada (Q.S Al-Baqarah: 31): Dan Dia mengajarkan kepada Adam semua nama-nama (benda).”

Dengan demikian, kunci dari kelebihan Adam (manusia) dari makhluk lainnya adalah pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Oleh karenanya, tepat bila perintah Allah SWT kepada manusia melalui Wahyu yang diturunkan pertama kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca, sebagaimana Firman Allah SWT. (Q.S Al Alaq 1-5):

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang telah menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Kerusakan dan pertumpahan darah itu dapat terhindar bila manusia memiliki ilmu pengetahuan.

Akan tetapi mengapa orang yang memiliki ilmu pengetahuan justru umumnya tidak amanah, khianat dan menyelewengkan posisi, kedudukan, jabatan dan kekuasaannya (abause of power)?

Karena ilmu pengetahuan yang dapat menjaga seseorang sebagai pemimpin di tingkat dan level manapun itu dimaknai hanya sebatas kecerdasan dan pengetahuan (knowledge) atau Fathonah.

Padahal ilmu pengetahuan itu melingkupi keahlian, kemahiran dan keterampilan (kongnitif) atau tabligh dan lebih penting soal kebenaran, kejujuran, keadilan dan seterusnya yang merupakan sikap baik, afektif atau sidik.

Orang sering berkata, sepintar dan secerdas apa pun, seahli dan seterampil apa pun anda bila tidak jujur, tidak benar dan tidak adil atau tidak berbudi pekerti dan berakhlak mulia tidaklah berguna.

Resolusi 2021

Begitu pentingnya ilmu pengetahuan dalam tiga dimensi yaitu sidik, fathonah dan tabligh yang memandu seorang pemimpin menjadi pemimpin yang amanah, menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan, maka kita memerlukan pemimpin adil.

Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang tidak menjadi bodoh karena godaan materi, godaan fasilitas, godaan apa pun sehingga menetapkan kebijakan dan mengambil keputusan yang merugikan kepentingan publik dan lebih menguntungkan kepentingan pribadi, kelompok dan golongannya.

Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang tidak merugikan publik dan orang-orang yang dipimpinnya. Tidak mencelakai, menzhalimi dan berbuat aniaya dengan berbagai kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya.

Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang cerdas dan memiliki ilmu pengetahuan, tidak khianat dan berselingkuh dari amanah kepemimpinan yang diembankan padanya.

Pemimpin yang cerdas bukan yang tinggi jabatannya, yang panjang titel dan gelarnya, yang banyak harta kekayaannya, yang kuat dan besar kekuasaannya. Tetapi adalah pemimpin yang selalu ingat tentang kematian dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban kepemimpinannya.

Oleh karena itu, Resolusi 2021 dan selamanya bagi kita adalah hadirnya para pemimpin yang adil. Pemimpin yang adil mulai dari pikiran, perkataan, perbuatan dan tindakannya.

Penutup

Siapa pemimpin yang adil dan yang tidak adil itu? Tidak perlu melihat ke atas, bawah, kanan, kiri dan sekitar kita. Lihatlah ke dalam, ke diri kita, apakah kita pemimpin yang adil.

Refleksi ini hanya kita yang bisa menjawab untuk suatu proyeksi bahwa yang kita butuhkan adalah pemimpin adil di setiap tingkatan dan level kepemimpinan, meskipun hanya level memimpin dari sendiri.

Begitu pentingnya pemimpin adil itu, sehingga Imam Ahmad Bin Hambal berkata, “Andai doa mu maqbul dan doa itu cuma satu, maka mintalah pemimpin yang adil.

Mengapa, karena hanya pemimpin yang adil yang akan membawa kebaikan untuk banyak orang (publik). [WT, 31/12/2020]