Menyoal Konsep Merdeka Belajar antara Luring dan Daring di tengah Pandemi

Menyoal Konsep Merdeka Belajar antara Luring dan Daring di tengah Pandemi
Hanafi

MUDANEWS.COM – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengeluarkan program dalam dunia pendidikan dengan mengusung konsep merdeka belajar. Program ini sebagai wujud ikhtiar dalam memodifikasi program pendidikan di kementerian sebelumnya untuk menciptakan pendidikan lebih baik dengan berangkat dari evaluasi dan analisis yang dianggap menjadi kekurangan sehingga melakukan perbaikan untuk mengurangi masalah yang ada.

Adanya konsep merdeka belajar ini bertujuan untuk menciptakan kemerdekaan di dalam dunia pendidikan yang itu tidak hanya di dalam pembelajaran saja melainkan sistem yang membentuk menciptakan asas demokratis dan saling terkait satu dengan yang lain sehingga bebas dari segala bentuk penindasan apapun. Langkah awal yang paling menentukan dalam upaya pendidikan dalam pembebasan adalah proses penyadaran yang inheren ke segala lini. Ini merupakan proses inti atau hakikat dalam keseluruhan proses pendidikan itu sendiri.

Karenanya merdeka belajar menjadi salah satu program prioritas untuk menyelesaikan masalah di dunia pendidikan yang terjebak dengan sistem ‘membelenggu’ sehingga segala aktifitas lebih tergantung dari atas. Selain itu tujuan merdeka belajar adalah para guru, peserta didik, serta orang tua bisa mendapat suasana yang bahagia, lepas, dari berbagai tekanan.

Seringkali guru, siswa, bahkan orang tua merasakan tekanan berat ketika berhadapan dengan pembelajaran. Mulai beban administrasi, prestasi, nilai, kesejahteraan, keuangan, sampai hubungan interaksi pendidikan yang kurang baik. Karenanya dalam konsep merdeka belajar ini tatanan baru yang diciptkan dengan membebaskan artinya tidak ada siapa yang lebih diprioritaskan maupun diunggulkan di dalamnya melainkan mengutamakan kesetaraan yang dibangun dalam proses dialogis-transformatif demi kepentingan belajar agar pendidikan tidak dirasa membelenggu.

Di tengah pandemi masih belum pasti kapan undur diri bukan menjadi hambatan untuk terus melaju dalam menggairahkan dunia pendidikan meskipun model dalam implementasi mengharuskan berbeda seperti biasanya. Seperti yang dilaksanakan secara daring meskipun beberapa daerah sudah diperkenankan untuk membuka secara luring (tatap muka) namun juknis ketat dari protokol kesehatan tetap menjadi prioritas. Tinggal PR nya adalah bagaimana mengkombinasikan konsep merdeka belajar antara luring dan daring.

Menyoal Konsep Merdeka Belajar antara Luring dan Daring di tengah Pandemi
Net/Ilustrasi

Bagi sekolah yang sudah mendapat rekomendasi melaksanakan pembelajaran secara luring (tatap muka) menjadikan kesempatan yang lebih besar untuk dapat merealisasikan konsep merdeka belajar yang menjadi program dari kementerian. Hal tersebut menjadi tantangan sendiri dalam dunia pendidikan apalagi bagi tenaga pendidik sebagai sumber transfer ilmu maupun moral terhadap peserta didik. Modifikasi model dan metode dalam merealisasikan merdeka belajar harus menciptakan ruang yang dialogis dan transformatif terhadap peserta didik.

Dalam pelaksanaannya untuk memerdekakan peserta didik diberi kebebasan untuk dapat berkembang dan menyigernikan keilmuannya dalam mengintegralkan antara teori dan praktek. Seperti peserta didik tidak hanya terbatas belajar di ruang kelas melainkan bisa bertadabur langsung dengan lingkungan dengan mengintegralkan keilmuan secara teoritis maupun aplikatif di masyarakat.

Namun tidak untuk di masa pandemi ini dapat dengan leluasa bebas bergerak karena waktu belajar di dalam kelas sangat terbatas dan itu pun tidak diperkenankan melakukan pembelajaran bersama di luar sekolah (kelas) berhubung potensi penyebaran Covid masih masif. Pendidik sebagai pelayan merupakan fasilitator yang inheren bagi peserta didik dan harus peka terhadap segala kebutuhan bagi peserta didik di dalamnya.

Melihat ke beberapa daerah yang memenuhi syarat untuk luring (tatap muka) mungkin lebih efektif untuk menerapkan kosep merdeka belajar karena dapat berinteraksi secara langsung dengan peserta didik dalam membangun dialogis-tranformatif kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Tetapi itu masih kurang bebas karena pembelajaran hanya bisa terfokus di kelas, itu pun model shift (bergilir) dan satu minggu masuk ke sekolah dibagi dari berbagai tingkatan (tidak full). Artinya sekolah menerepkan pembelajaran secara “Blanded Learning” yaitu masih mengkombinasikan model pembelajaran luring (tatap muka) dan model daring.

Dalam merdeka belajar yang diharapkan oleh Pak Menteri peserta didik memang sangat diharapkan mampu mengkombinasikan antara teori dan praktik dalam dunia obsrvasi. Seperti contoh peserta didik tingkat SMA dalam mata pelajaran Ilmu Sosiologi yang membahas masalah ‘kemasyarakatan’ juga dituntut tidak hanya mampu memahami sekedar teori yang ada di buku tetapi mampu melihat dan membaca bersama teori-teori tersebut di realitas sosial observasi. Sehingga peserta didik diharap peka terhadap segala perubahan yang dinamis agar tidak terjebak lagi terhadap teori-teori tertentu yang di luar realitas di lapangan.

Lalu pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan sekolah yang masih full menerapkan pembelajaran secara daring dalam merealisasikan konsep merdeka belajar? Tentunya ini menjadi PR bersama terutama sekolah dan pendidik karena proses interaksi pendidik dengan peserta didik hanya mampu berinteraksi serba terbatas melalui media seperti handphone, laptop, dan yang lainnya. Aplikasi seperti Via WAG, Mett Zoom, Class Room, maupun aplikasi yang lainnya menjadi alternative yang dianggap paling efektif dalam menghubungkan proses pembelajaran di kelas. Tidak ada jalan lain kecuali pendidik harus inovatif dan kreatif dalam memanfaatkan tekhnologi semaksimal mungkin.

Menyoal Konsep Merdeka Belajar antara Luring dan Daring di tengah Pandemi
Net/Ilustrasi

Memodifikasi pembelajaran dalam daring dengan peserta didik menjadi tugas besar guru, karenanya tugas guru semakin besar tanggung jawabnya dalam pembelajaran daring bagaimana mengkonsep model dan metode yang tepat bagi peserta didik. Munculnya konsep merdeka belajar ini memang membuat masyarakat berharap perubahan ke arah dampak lebih baik dalam dunia pendidikan.

Hal demikian tidaklah terlalu negative dalam melihat fenomena pembelajaran daring ini. Sisi positifnya adalah peserta didik dituntut lebih mandiri untuk dapat melek terhadap tekhnologi. Berbagai fitur aplikasi yang diberikan oleh pendidik dan tata cara dalam menggunakannya secara tidak langsung merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kapasitas peserta didik menghadapi perkembangan zaman yang semakin digitalisasi.

Makanya di tingkat masing-masing sekolah seperti SMP, SMA atau yang lainnya diharapkan mampu menciptakan kualitas inovasi, kreasi, keterampilan, dan lain-lainnya. Utamanya bagi seorang guru yang memiliki amanah besar sehingga dituntut untuk bijak dalam bertindak seperti mencari model yang efektif dan tepat terhadap murid-muridnya. Di samping lain, Nadiem sangat menginginkan anak-anak muda dapat didorong sesuai dengan keinginan dan kemampuanya di bidang masing-masing dengan konsep merdeka belajar ini.

Nadiem percaya passion yang dimiliki tiap-tiap anak-anak muda secara otomatis akan menyebar ke orang-orang sekitarnya yang kemudian bisa menjadi inspirasi untuk sesamanya. Keinginan Nadiem ini bisa dikatakan searah dengan ide pedagogi yang dicetuskan Paulo Freire, dimana pedagogi membantu murid untuk memahami makna dibalik teks buku belajar dan berani memikul tanggung jawab dari keputusan kehidupan yang akan diemban sang murid sehingga murid akan lebih cenderung menjadi pribadi yang lebih kritis dan bersifat inklusif dalam keterbukannya menghormati, menghargai, dan toleransi karena nuansa demokratis sudah terbiasa tercipta di dalamnya dalam mengemukakan pendapat.

Oleh : Hanafi
(HMI Tarbiyah IAIN Madura)