Pemko Tanjungbalai Gagal Tingkatkan Pendidikan Masyarakat

Pemko Tanjungbalai Gagal Tingkatkan Pendidikan Masyarakat
S. Rangkuti

MUDANEWS.COM – Manusia tidak bisa lepas dari pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 1 disebutkan bahwa, “Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran.”

Selanjutnya, dalam pasal 4 dijelaskan bahwa, “Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.”

Dengan demikian pendidikan adalah segala daya upaya dan semua usaha untuk membuat masyarakat dapat mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Pendidikan telah dipandang sebagai salah satu dari berbagai investasi manusia yang dapat menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dimasa mendatang.

Hal ini berkaitan dengan 9 Agenda Program Jokowi-JK yang akrab disebut Nawa Cita Jokowi-JK yang tertuang dalam poin ke 5 yaitu “Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program Indonesia Pintar.”

Melalui proses pendidikan diharapkan dapat menghasilkan SDM berkualitas yang sangat diperlukan setiap sektor pembangunan nasional. Dengan harapan bahwa SDM yang berkualitas akan muncul dari pendidikan yang berkualitas, oleh karenanya pendidikan yang berkualitas mutlak diperlukan.

Dalam kaitan ini menarik untuk dikaji bagaimana kualitas pendidikan dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, sehingga bisa menghasilkan SDM yang lebih berkualitas sebagaimana diharapkan.

Menanggapi Pendidikan di Tanjungbalai

Menanggapi beberapa poin mengenai pendidikan di Kota Tanjungbalai-Sumatera Utara berdasarkan Indikator Pendidikan 2018 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Tanjungbalai (BPS) sebagai berikut: a). Rata-rata lama sekolah di Kota Tanjungbalai tahun 2018 telah mencapai angka 9,14 tahun dan belum mencapai sasaran yang diharapkan yakni program wajib belajar 12 tahun, dan b). Pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk Kota Tanjungbalai berumur 10 tahun keatas terbesar adalah tamat SD/sederajat sebesar 23,99 persen sedangkan untuk Perguruan Tinggi masih rendah yaitu sebesar 5,80 persen.

Terang dan nyata bahwasanya Walikota Tanjungbalai kurang peduli atau gagal untuk meningkatkan kualiatas dan jenjang pendidikan masyarakat Kota Tanjungbalai. Hal ini dapat dilihat rendahnya tingkat pendidikan masyarakat itu sendiri berdasarkan hasil survei dari BPS Tanjungbalai. Bahkan, dari survei perihal jenjang perguruan tinggi di 2018 yang hanya 5,80 yang menunjukkan, apa setiap dari 100 orang hanya 5-6 oranglah yang menempuh pendidikan kejenjang perguruan tinggi.

Sebagaimana informasi yang diketahui, menjelang akhir periodisasi Pemerintahan Syahrial-Ismail, sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur fasilitas publik seperti Tanjungbalai Water Front City maupun Lapangan Pasir (Alun-Alun Tanjungbalai). Pembangunan yang menelan biaya jumlah besar tersebut dinilai menghambur-hamburkan atau menyia-nyiakan. Alangkah baiknya, dana tersebut diperuntukkan untuk membiayai pendidikan anak Tanjungbalai guna meningkatkan sumber daya manusia. Dapat diketahui, bahwasanya ratusan bahkan ribuan anak Tanjungbalai yang menempuh pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi termasuk di sekitar Tanjungbalai hingga Kabupaten Asahan seperti Universitas Asahan (UNA).

Memang benar Pemerintah Kota Tanjungbalai membuat beasiswa untuk yang berkuliah di Politeknik Tanjungbalai. Akan tetapi timbul pertanyaan, mengapa peminatnya sedikit? Seharusnya ada problem solving yang jelas untuk memecahkan persoalan tersebut. Kemudian, apakah ada perhatian untuk yang menempuh Perguruan Tinggi di luar kota? Mungkin saja ada, tetapi di Ibukota Provinsi Sumatera Utara. Apabila ini benar, maka pemerintah Tanjungbalai sama saja mengamini sebuah pepatah yang mengatakan; “Semut diseberang pulau terlihat, Gajah di pelupuk mata tidak terlihat”.

Mengapa dikatakan seperti demikian? Hal ini sesuai realita di lapangan. Bagaimana peranan Pemerintah Kota Tanjungbalai untuk anak Tanjungbalai yang menempuh pendidikan di Kabupaten Asahan seperti Universitas Asahan (UNA) dan kampus lainnya. Seperti diketahui, ratusan anak Tanjungbalai menempuh pendidikan dikampus tersebut. Maka timbul pertanyaan, apakah ada beasiswa yang diberikan Pemerintah kepada anak Tanjungbalai yang menempuh kuliah di UNA dan kampus lain yang ada di Kabupaten Asahan? Dan apakah pernah terlintas dipikiran para Pemko Tanjungbalai, untuk menyediakan layanan bus gratis untuk mahasiswa yang pulang-pergi kuliah Tanjungbalai-Kisaran?

Hal yang perlu diperhatikan dan direalisasikan oelh Pemerintah Kota Tanjungbalai untuk memberikan pelayanan itu kepada putra-putri Kota Tanjungbalai untuk menempuh pendidikan kejenjang perguruan tinggi seperti beasiswa dan lain sebagainya. yang lebih urgent ialah human investment (investasi manusia) dalam artian sebagai regenerasi sumber daya manusia dan kepemimpinan. Dengan tidak memperhatikan mengenai kondisi pendidikan masyarakat Tanjungbalai, Pemko Tanjungbalai layak dan patut dinyatakan gagal dalam membangun Kota Tanjungbalai dari sektor pendidikan.[]

Penulis: S. Rangkuti (Menlu BEM UNA)