Kritik Untuk Pendidikan Indonesia

Kritik Untuk Pendidikan Indonesia
Budiman Daulay (Mahasiswa UISU dan Aktivis HMI)

MUDANEWS.COM – Dalam dunia pendidikan ada tiga topik utama yang perlu kita bahas, dimana tiga topik itu berkaitan erat dengan dunia pendidikan dan bahkan sulit untuk melepaskan dari lembaga pendidikan. Pendidikan merupakan alat yang penting dalam memajukan suatu bangsa, maka dari itu Pendidikan tidak boleh lepas dari masyarakat kita.

Seringkali kita menemukan berbagai persoalan di dunia pendidikan sekarang. Tatkala kita berbicara, berdiskusi atau berdebat tentang pendidikan yang pertama, yaitu sistem benar salah, kecil kemungkinan kita akan cekcok, karena sistem ini selalu menganggap diri benar, sehingga kita tak dapat mengkritik satupun apa yang sedang terjadi, seakan sistem mengatur dan mengarahkan begitu saja kepada dunia pendidikan dan bahkan program yang mereka luncurkan kepada dunia pendidikan terkadang aneh dan tak masuk akal dengan keadaan sekarang.

Katakanlah ada suatu rumusan tujuan pendidikan dalam suatu negara. Apakah itu merupakan jaminan dalam negara itu tidak ada orang lain yang mengingingkan rumusan lain? Tentu ada, karena negara belum tentu diyakini semua warga negara.

Persetujuan orang terhadap rumusan yang diberikan oleh negara dianggap sebagai persetujuan politik daripada sebagai persetujuan karena keyakinan. Gejala ini jelas keliatan tatkala wakil-wakil rakyat negara itu merumuskan tujuan pendidikan negaranya.

Akhirnya apa yang terjadi? Yang terjadi itu rumusan tujuan pendidikan negara dengan voting wakil rakyat. Ini berarti rumusan atau program yang kacau sering sekali tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan dunia pendidikan.

Sistem selalu memberi suapan ide kepada pendidik, namun tidak memberikan kekenyangan sedikitpun, hanya pembawaan lapar kembali, menawarkan namun mengatur, seperti halnya sistem ini adalah raja dan tidak ada boleh menolak atau melawan, jika ada perlawanan akan di kunci mulutnya dan akan dicampakkan dari dunia pendidikan. Sungguh, perbuatan ini yang akan menyebabkan pendidik bungkam dan tak tahu harus berbuat apa-apa.

Sampai sekarang sistem masih berkuasa di atas awan yang ditutupi kabut keputihan, seakan bersih tapi kotor, seakan sistem baik mala buruk. Baru-baru ini kita dikagetkan oleh dengan pernyataan Menteri Pendidikan, bahwa tidak ada lagi menghafal pada dunia pendidikan atau lebih tepatnya pada proses pendidikan, pernyataan itu membuat kita menarik nafas dan ingin bersorak di atas gunung semeru. Jika diterima begitu saja, kita dianggap adalah budak sistem, diarahkan dan diatur seperti pemilik sapi yang mengarahkan sapinya untuk memakan rumput di padang yang luas, kita tak ingin seperti itu. Tapi kita tak membahas masalah menghafal, hanya sindiran saja.

Baiklah kita akan ambil kesimpulan, meskipun kesimpulan belum sesempurna penulis yang terkenal, tapi dengan kesimpulan ini saya dapat menyimpulkan seikhlash mungkin.

Sistem harus berjalan sesuai kebutuhan yang di inginkan oleh pendidik agar memperoleh pendidikan yang bagus. Dengan pendidikan yang bagus ini dapat mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang seutuhnya, yaitu manusia yang kuat, kreatif, cerdas, berani dan tidak mengenal putus asa dalam proses pembelajaran.

Kedua, di dalam ilmu pendidikan, pendidik merupakan orang yang mempengaruhi seseorang dan berusaha memperbaiki menjadi manusia yang berguna, pendidik ini adalah eksekutor terbaik dalam dunia pendidikan, jika kesalahan itu terjadi pada proses perkembangan anak atau mutu peserta didik, maka yang menjadi sasaran utama ialah pendidik.

Seringkali problem semacam ini terlihat di kawasan alam yang suci ini. Pendidik bisa saja terkucilkan dan bisa juga termuliakan, apabila ia menjalankan tugasnya dengan baik maka ia kan mendapatkan pujian dan bila sebaliknya akan jadi bulan-bulanan orang tua murid.

Oleh sebab itu tugas pendidik sangat berat, belum lagi tanggungjawab sebagai orang tua di rumah tangganya dengan begitu banyak tekanan yang ia hadapi sering membuatnya letih dan tak kuat lagi dalam mengajar. Pekerjaan mulia ini yang membuat dia tegar dalam semua persoalan yang menghampirinya.

Tapi, kita tak akan membahas persoalan yang suci, mala menelusuri kesalahan dalam mengajar. Mengajar menurut saya adalah mentrasfer ilmu kepada orang yang tidak tahu apa-apa dan membimbing dengan kebaikan dan melatih dengan kedisiplinan, inilah hal yang penting menurut saya dalam proses mengajar.

Kesalahan pasti akan terjadi, disebabkan kita manusia yang tidak sempurna, tapi dari kesalahan itu juga yang membuat kita tumbuh dan dewasa dalam menghadapi terjangan ombak dari lautan yang luas, ditepi pantai banyak orang orang-orang bersuka riah dengan kebahagiaannya dan mereka hampir saja lupa dengan kesedihan yang sedang melanda anak-anaknya.

Kesalahan pertama, pendidik selalu membedakan mana yang pintar dan mana yang bodoh. Apakah itu tugas pendidik? Mungkin tidak, tapi pada dasarnya pendidik memanjakan yang pintar dan mengucilkan orang bodoh. Pendidikan yang seperti ini jalan sesat dalam mengembangkan mutu pendidikan, inilah persoalan yang sering kita dengar dari keluh kesah anak-anak kita.

Kedua, para mencari materi, materi (duit) memang perlu dalam kebutuhan, tanpa ada duit kita tak bisa membeli apa yang diinginkan, tidak berjalan-jalan ke pantai, duit juga yang membuat orang menjadi lupa dengan fungsinya sebagai pendidik.

Seharusnya keterbalikan ini jangan sampai terjadi pada dunia pendidikan, itulah yang akan mengakibatkan merosot dunia pendidikan, karena pendidik hanya mengajar semata-mata demi duit, sehingga keikhlashan tidak timbul dari dirinya. Padahal mendidik tugasnya sangat mulia dan kini ia bercampur dengan lumpur yang kotor. Inilah penyebabnya, apa yang disampaikan pendidik kepada peserta didik tidak mudah diterima. Misalnya, disampaikan, apa yang dimaksud puasa? Semua murid menjawab, puasa adalah menahan lapar dan haus, hanya sebatas itu, setelah berselang beberapa menit murid lupa dengan apa yang disampaikan pendidik.

Mungkin masih banyak hal atau kesalahan-kesalahan pendidik dalam proses mengajar, tapi mungkin lain kali kita akan membahas kesalahan-kesalahan itu. Secarik kertas yang ditulis dengan penuh ke ikhlashan demi kemujuan pendidikan.

Penulis : Budiman Daulay (Mahasiswa UISU dan Aktivis HMI)