Pendidikan yang Membahagiakan?
Wahyu Triono KS, Dosen FISIP Universitas Nasional dan Founder Lembaga Edukasi Anak Didik Edukatif dan Religius (LEADER) Indonesia

MUDANEWS.COM – Paradigma kualitas siswa atau mahasiswa yang seolah semata hanya ditentukan oleh mewahnya fasilitas sekolah atau perguruan tinggi, keungggulan dan kompetensi guru, dosen dan tenaga pendidik yang profesional, kelengkapan informasi membuat kesenjangan dunia pendidikan kita semakin lebar antara pusat dan daerah, kota dan desa, kaya dan miskin, maju dan terbelakang atau pinggiran.

Fenomena lainnya adalah semakin mengkhawatirkannya kapitalisasi dunia pendidikan kita dewasa ini yang boleh jadi sudah pada tahapan dehumanisasi di dunia pendidikan.

Outing Class dan Kurikulum

Belakangan banyak sekolah mulai dari PAUD, TK, SD, SLTP, SMU bahkan sampai Perguruan Tinggi di hampir semua daerah di Indonesia mengadakan Outing Class.

Kegiatan ini adalah bagian dari proses belajar di luar kelas yang tentunya merupakan suatu kesatuan dalam kurikulum pendidikan di setiap tingkatannya.

Bagaimana outing class dengan rencana perubahan kurikulum oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi, Nadiem Makarim?

Apakah ada inovasi baru dari model outing class yang melewati model dan bentuk outing class yang saat ini dilaksanakan beberapa sekolah dan perguruan tinggi yang lebih banyak sesi rekreatif atau wisata daripada mengasah intuisi, kreasi, wawasan dan paradigma siswa atau mahasiswa agar out of the box.

Bila outing class sebagai bentuk kegiatan yang semestinya membuka wawasan dan paradigma siswa atau mahasiswa tetapi kenyataannya hanya sekadar kegiatan rutinitas tahunan yang tidak jarang justru membebani keuangan orangtua siswa dan mahasiswa tampaknya outing class tidak lagi membuka wawasan atau paradigma, justru abai pada lingkungan sosial di sekitarnya sendiri.

Bagaimana bila orangtua siswa dan mahasiswa memiliki anak yang ada di SD, SMP, SMU dan Perguruan Tinggi sekaligus, berapa juta dana yang mesti dikeluarkan untuk memenuhi tuntutan kurikulum semacam itu?

Meskipun pendidikan memerlukan biaya tetapi prinsipnys siswa, mahasiswa dan orangtua tidak boleh dibebani dengan biaya pendidikan yang seperti itu.

Karena tugas utama negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan karenanya pendidikan dengan segala proses pembelajaran, fasilitas dan sistemnya sudah menjadi tanggungjawab negara.

Bila menuntut partisipasi siswa, mahasiswa dan orangtua tidaklah lazim dan melanggar regulasi dan prinsip-prinsip yang mendidik bila sifatnya memberatkan atau membebani.

Tampaknya suatu ungkapan mendalam berikut ini perlu untuk direnungkan, “lebih baik anda tetap duduk di tempat tetapi pikiran anda jalan dan mengembara kemana-mana (berpikir) dari pada anda kemana-mana tetapi pikiran anda duduk atau jongkok (tidak terbuka pikiran dan wawasannya).”

Menunggu Gebrakan Baru

Protes terhadap kapitaliasi dunia pendidikan yang paling fenomenal dilakukan oleh Paulo Freire, ahli pendidikan dari Brazil yang menilai bahwa fenomena pendidikan yang mengalami dehumanisasi melalui karyanya yang amat terkenal, Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of Oppresed) yang diterbitkan dalam bahasa spanyol dan Ingris pada tahun 1970, dan baru diterbitkan pada tahun 1974 di Brazil.

Menurut Freire, “Pendidikan yang dimulai dengan kepentingan egoistik kaum penindas (egoisme dengan baju kedermawanan baru dari paternalisme) dan menjadikan kaum tertindas sebagai obyek humanitarianisme mereka, justru mempertahankan dan menjelmakan penindasan itu sendiri. Pendidikan merupakan perangkat dehumanisasi.”

Karenanya kita tengah menunggu gebrakan kurikulum baru yang hendak dirancang oleh Pak Menteri Nadiem Makarim yang tidak menjadikan kapitalisasi pendidikan dan terjadinya dehumanisasi di dunia pendidikan kita.

Hal itu memungkinkan bila, Pertama, seluruh konsep dan sistem pendidikan berdasarkan kurikulum baru disusun secara komprehensip melalui implementasi Sistem Informasi Manajemen di dunia pendidikan dengan berbagai inovasi generasi ke-5 dan Revolusi Industri 4.0 yang tetap bersandar pada nilai-nilai dan harkat martabat kemanusiaan melalui Smart Society 5.0.

Kedua, kurikulum pendidikan yang makin memudahkan akses pendidikan bagi semua warga bangsa dapat dilakukan dengan implementasi Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) didunia pendidikan akan memutus kesenjangan yang terjadi di dunia pendidikan.

Sehingga efektivitas dan efisiensi terjadi dan pendidikan bukan lagi sesuatu yang membebani bagi siswa, mahasiswa dan orangtua. Tetapi masa depan dunia pendidikan kita semakin cerah, dengan akses dan menjalani proses pendidikan menjadi semakin mudah, terjangkau dan murah.

Kesimpulan

Gebrakan baru Pak Menteri Nadiem Makarim boleh jadi tentang outing class dalam bentuk virtual atau dunia maya atau kreasi dan lomba membuat dan mencipta sesuatu yang memanfaatkan semua potensi yang ada di lingkungan sekolah atau perguruan tinggi sebagai tuntutan inovasi generasi ke-5 (G5) dan Revolusi Industri 4.0.

Paradigma baru boleh datang tetapi paradigma lama yang memandang bahwa tradisi intelektual itu tidak bisa dibangun hanya oleh sekolah, fasilitas pendidikan yang lengkap dan mewah, buku-buku yang banyak, lautan dan samudera informasi yang luas, tetapi tradisi intelektual itu dibangun oleh pendidikan yang mencerahkan musti tetap dipertahankan.

Berbagai teori, aplikasi, digitaliasi pendidikan, gebrakan dan inovasi yang akan dilakukan Pak Menteri Nadiem Makarim diharapkan akan memudahkan berjalannya proses pendidikan yang mencerahkan dan bahkan pendidikan tidak lagi menjadi beban tetapi menyenangkan bagi siswa, mahasiswa, orang tua dan kita semua warga bangsa Indonesia. (19/12/2019) Like and Share!

Penulis : Wahyu Triono KS
Dosen FISIP Universitas Nasional dan Founder Lembaga Edukasi Anak Didik Edukatif dan Religius (LEADER) Indonesia