Oleh : Maruli Gultom.*
Mudanews.com OPINI | Saya menatap teman2 yang hadir: “Sekarang, tidak terlepas kemungkinan bahwa pola Malari akan ‘dimainkan’ kembali oleh penguasa untuk membungkam mahasiswa. Sangat mungkin saat ini ratusan jerigen bensin sudah mereka siapkan di berbagai titik di berbagai wilayah Jakarta. Begitu kita bergerak turun ke jalan, api akan berkobar di seantero Jakarta, dan kita mahasiswa dikambing-hitamkan,” saya mencoba menggambarkan kemungkinan terburuk, seolah analist ulung.
“Sekarang terserah kita. Kita jalan terus sesuai rencana dengan risiko2 yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi.” Saya menyudahi komentar.
Akhirnya semua yang hadir sepakat Apel Siaga tetap dilanjutkan, diisi dengan orasi2 dan lagu2 perjuangan. Setelah itu kembali ke kampus masing2 melalui jalan belakang kampus agar tidak bersinggungan dengan militer.
Briefing bubar. Kami kembali bergabung dengan para mahasiswa dari berbagai kampus yang semakin banyak berkumpul di lapangan bola kampus UKI Cawang. Evert Matulessy memimpin menyanyikan lagu2 perjuangan di selingi orasi2 bergilir oleh perwakilan kampus yang satu ke kampus yang lain.
Saya sendiri tidak memberikan orasi karena tidak tahu mau bilang apa lagi. Kemerdekaan berpendapat, hak demokrasi rakyat di negeri tercinta ini telah ditindas oleh todongan pistol colt panjang – entah kaliber berapa, digilas lumat lumat oleh panser lapis baja, yang dibeli dengan uang rakyat itu sendiri.
Harus ada martir sebagai ganti harga hak demokrasi itu sendiri. Martir itu akhirnya datang 20 tahun kemudian, Mei 1998.
Seperti sudah saya duga sebelumnya, beberapa minggu setelah Apel Siaga Mahasiswa se Jakarta Raya 21 Januari 1978 tersebut saya diciduk kembali oleh Laksusda Kopkamtib, diinterogasi 2 hari 2 malam, kemudian dijebloskan ke dalam tahanan Kampus Kuning. Saya berkumpul kembali dengan teman2 aktivis lainnya yang tidak pernah dilepas sejak ditahan malam hari 20 Januari 1978. Saya lebih beruntung, sempat mencicipi kebebasan selama beberapa minggu sampai ditangkap kembali.
“Katakan kebenaran, meskipun langit harus runtuh.” bersambung
*Sekjen Majelis Permusyawaratan Mahasiswa UKI 77/78.
Ketua Umum Dewan Mahasiswa UKI 75/76.
