Oleh: Yusuf Mars*
Mudanews.com OPINI | Pidato Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj di forum internasional: “International Conference on Muslim Unity and Palestine” di Selangor, Malaysia, menyita perhatian. Dalam forum dunia tersebut, Kiai Said mengingatkan bahaya konflik internal umat yang justru melemahkan peran Islam di tingkat global.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Kiai Said tidak sekadar berbicara tentang persatuan sebagai slogan, melainkan mengajak umat melihat dampak nyata dari konflik internal yang berkepanjangan. Menurutnya, ketika umat sibuk bertengkar di dalam, perhatian terhadap tantangan besar di luar justru melemah. Energi habis untuk saling menyalahkan, bukan membangun kekuatan bersama.
Yang menarik, pesan itu disampaikan dengan cara yang tenang dan tertata. Tidak ada nada menggurui, apalagi menyerang. Kiai Said memilih bahasa yang jernih dan argumentatif. Di tengah ruang publik yang sering diwarnai pernyataan keras dan emosional, gaya komunikasi seperti ini terasa berkelas. Ia menunjukkan bahwa kewibawaan seorang ulama tidak lahir dari suara tinggi, melainkan dari kemampuan menjaga arah dan ketenangan.
Konflik internal, dalam pidato tersebut, tidak diposisikan sebagai ajang pertarungan siapa paling benar. Kiai Said justru membingkainya sebagai persoalan bersama yang harus dikelola dengan kedewasaan. Cara membingkai ini penting, karena bahasa bukan sekadar alat bicara, tetapi juga cara membentuk cara berpikir.
Dengan bingkai seperti itu, umat diajak keluar dari logika saling berhadap-hadapan menuju tanggung jawab kolektif.
Penegasan bahwa kebenaran mutlak hanya milik wahyu, sementara penafsiran manusia selalu terbuka untuk dialog, menjadi bagian penting dari pesan tersebut. Pernyataan ini dapat dibaca sebagai pengingat agar agama tidak dijadikan alat klaim kebenaran tunggal.
Dalam masyarakat yang majemuk, sikap terbuka terhadap dialog justru menjadi fondasi persatuan, bukan ancaman.
Pidato Kiai Said juga menumbuhkan optimisme. Ia tidak berhenti pada peringatan tentang bahaya perpecahan, tetapi menegaskan bahwa umat Islam memiliki potensi besar jika mampu menjaga persatuan.
Umat yang solid, menurutnya, akan lebih kuat menjaga budaya, martabat, dan kontribusinya dalam peradaban dunia. Optimisme ini terasa penting di tengah situasi global yang penuh ketegangan dan ketidakpastian.
Makna pidato tersebut semakin kuat karena disampaikan di forum internasional. Kiai Said tampil membawa wajah Islam Indonesia yang moderat, dewasa, dan inklusif. Ia berbicara dengan percaya diri, tanpa sikap defensif. Ini menunjukkan bahwa ulama Indonesia tidak berada di pinggiran percakapan global, melainkan memiliki posisi strategis dalam isu-isu besar kemanusiaan dan perdamaian.
Bagi Nahdlatul Ulama, pidato ini layak dibaca sebagai pesan reflektif. NU adalah organisasi besar dengan jutaan warga dan sejarah panjang. Dalam menghadapi berbagai dinamika internal dan agenda penting ke depan, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menenangkan suasana, menyatukan perbedaan, dan memberi visi jangka panjang.
Di tengah perbedaan pandangan yang kerap muncul, figur seperti Kiai Said menghadirkan teladan kepemimpinan moral. Ia tidak membangun pengaruh lewat tekanan atau polarisasi, melainkan melalui keteladanan dan kepercayaan. Bahasa yang ia gunakan bukan untuk memerintah, tetapi mengajak. Bukan untuk membelah, tetapi merangkul.
Dari forum dunia, Kiai Said seolah mengirim pesan penting untuk NU: organisasi besar hanya bisa melangkah maju jika dipimpin dengan kepala dingin dan pandangan jauh ke depan.***
*- Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sunan Gresik.
– CEO @PadasukaTV dan Founder Lembaga Kajian Strategis Islam Nusantara dan Asia Tenggara (LKS-INTARA).
