Anton Christanto
Pemerhati dan Pengamat Sosial Politik di Boyolali
Mudanews.com OPIINI | Tanggal 10 Januari 2026, PDI Perjuangan genap berusia 53 tahun. Bukan usia muda bagi sebuah partai politik. Di usia ini, partai tidak lagi dinilai dari semangat perlawanan atau romantisme sejarah, melainkan dari kemampuannya membaca zaman dan bertahan dari perubahan kekuasaan.
Ulang tahun kali ini terasa berbeda. Tidak sepenuhnya meriah. Tidak sepenuhnya muram. Lebih tepat disebut momentum evaluasi paling jujur sejak Reformasi 1998.
PDIP 2014–2024: Satu Dekade Sebagai Partai Penguasa
Tak ada yang bisa membantah:
periode 2014–2024 adalah era keemasan PDIP.
Dalam satu dekade itu, PDIP:
Menang dua kali Pilpres (2014 dan 2019)
Menjadi pemenang Pileg nasional
Menguasai mayoritas Pilkada strategis
Mengendalikan eksekutif dan legislatif sekaligus
PDIP bukan hanya partai pemenang—ia adalah arsitek kekuasaan nasional. Jokowi menjadi presiden, kader PDIP mengisi kementerian, kepala daerah, BUMN, hingga struktur strategis negara.
Namun di balik dominasi itu, tumbuh persoalan laten:
PDIP terlalu mengandalkan figur Jokowi, tetapi gagal mengendalikan arah politiknya.
2024: Kekalahan yang Mengakhiri Sebuah Era
Tahun 2024 menjadi titik balik yang pahit.
PDIP kalah:
Pilpres 2024
Banyak Pilkada strategis
Dan kehilangan kendali atas kekuasaan nasional
Ganjar Pranowo—kader terbaik, gubernur dua periode, ikon PDIP Jawa Tengah—hanya meraih sekitar 17% suara nasional. Angka ini mengejutkan, bahkan menyakitkan, bagi partai yang selama 10 tahun berada di pusat kekuasaan.
Kekalahan ini bukan sekadar kalah kandidat.
Ini adalah peringatan keras bahwa basis pemilih PDIP tidak lagi solid seperti yang dibayangkan.
Struktur Partai Pasca-2024: Konsolidasi atau Sekadar Bertahan?
Pasca kekalahan, PDIP bergerak cepat menata ulang struktur:
DPP diperkuat dengan loyalis pusat
DPD diarahkan agar lebih patuh pada garis komando
DPC dikonsolidasikan untuk mengamankan basis tradisional
Langkah ini mencerminkan satu hal:
PDIP memilih stabilitas struktural ketimbang eksperimen politik.
Namun pertanyaannya krusial:
” Apakah struktur yang kuat otomatis menghasilkan daya tarik elektoral?”
Sejarah politik menunjukkan: tidak selalu.
Megawati Soekarnoputri: Pemimpin Abadi atau Penjaga Transisi?
Tak bisa bicara PDIP tanpa menyebut Megawati Soekarnoputri.
Di usia yang tak lagi muda, Megawati masih:
Ketua Umum
Pemegang keputusan akhir
Simbol ideologis partai
Pertanyaan tentang “ketua umum seumur hidup” terus berulang.
Namun yang lebih penting bukan soal usia, melainkan regenerasi kepemimpinan.
PDIP menghadapi dilema klasik:
Tanpa Megawati, partai kehilangan figur pemersatu
Dengan Megawati terus memimpin, regenerasi terhambat
Sejarah akan menilai apakah Megawati memilih dikenang sebagai pemimpin yang bertahan, atau negarawan partai yang menyiapkan estafet dengan bermartabat.
Siapa Pemilih PDIP Sebenarnya?
Ini pertanyaan paling menyakitkan—dan paling penting.
Hasil 2024 menunjukkan:
Pemilih Jokowi ≠ pemilih PDIP
Pemilih daerah ≠ pemilih nasional
Basis ideologis PDIP menyusut, digantikan pemilih pragmatis
PDIP kuat di struktur, tetapi lemah dalam resonansi emosional dengan generasi baru.
Anak muda tidak lagi memilih karena sejarah. Mereka memilih karena narasi masa depan.
Menuju 2029: Bisakah PDIP Bangkit Melawan Prabowo–Gibran?
Peta menuju 2029 tidak ramah bagi PDIP:
Prabowo–Gibran adalah incumbent
Negara, birokrasi, dan kekuasaan ada di tangan mereka
Koalisi besar mendominasi parlemen
Jika PDIP ingin kembali menang, ia harus:
Berhenti mengandalkan nostalgia
Menemukan narasi baru
Melahirkan figur yang relevan lintas generasi
Membuka ruang kritik internal
Mengakhiri politik eksklusif elite
Tanpa itu, PDIP berisiko menjadi partai besar yang kalah di kotak suara.
Take Home Massage: Ulang Tahun sebagai Titik Kejujuran
Ulang tahun bukan hanya soal meniup lilin.
Bagi PDIP, 10 Januari 2026 adalah ujian kedewasaan politik.
Apakah PDIP akan:
belajar dari kekalahan,
atau
mengutuk sejarah tanpa berbenah?
Banteng telah lama dikenal kuat.
Namun di politik modern, yang bertahan bukan yang paling kuat, melainkan yang paling adaptif.
Selamat ulang tahun ke-53, PDI Perjuangan.
Sejarah masih memberimu kesempatan
Pertanyaannya, apakah kamu berani berubah?
Editor : Suratmin
