Anton Christanto
Pemerhati dan Pengamat Sosial Politik di Boyolali
Mudanews.com OPINI | “Di sanalah aku berdiri, untuk selama-lamanya.”
Kalimat itu bukan sekadar semboyan. Ia adalah janji ideologis—dan sekaligus beban sejarah—bagi PDI Perjuangan.
Pertanyaan yang menggantung di ulang tahun ke-53 PDIP bukan lagi soal masa lalu, melainkan masa depan:
Menuju 2029: bisakah PDIP bangkit melawan Prabowo–Gibran?
Jawabannya: bisa. Tapi tidak otomatis. Dan tidak murah secara politik.
Belajar dari Bung Karno: Kekuasaan Tidak Pernah Netral
Bung Karno tidak jatuh karena kalah pemilu.
Ia jatuh karena kekuasaannya menghalangi kepentingan besar.
Kekayaan alam Indonesia—tambang, minyak, gas—adalah alasan utama. Selama Bung Karno berkuasa, kepentingan asing sulit masuk. Maka skenario klasik dijalankan:
* krisis moneter,
* inflasi ekstrem,
* instabilitas politik,
* konflik elite.
Rakyat dibuat lapar, elite dibuat panik.
Akhirnya Bung Karno dijatuhkan.
Pelajaran pentingnya:
Kebenaran ideologis tidak cukup jika tidak disertai manajemen kekuasaan dan aliansi politik.
Orde Baru, Golkar, dan Pelajaran tentang Koalisi
Soeharto belajar dari kejatuhan Bung Karno.
Ia tidak hanya berkuasa, tetapi mengunci sistem:
* Golkar sebagai mayoritas tunggal,
* birokrasi sebagai mesin politik,
* oposisi dilemahkan secara struktural.
Ketika Soeharto jatuh, ia jatuh dengan cara yang sama:
krisis moneter, inflasi, delegitimasi politik.
Dan di situlah PDIP diuntungkan.
Pemilu 1999:
PDIP menang telak—153 kursi (33,74%).
Namun tidak berkuasa.
Mengapa?
Karena Amin Rais menguasai papan catur koalisi.
Poros Tengah mengalahkan logika suara rakyat.
Presiden bukan Megawati, melainkan Gus Dur.
Pelajaran kedua:
> Politik bukan hanya soal siapa paling banyak kursi, tetapi siapa paling pandai membangun poros.
Naik–Turun PDIP: Saat Ideologi Bertemu Realitas
Setelah Megawati menjadi Presiden, suara PDIP justru turun:
* 2004: 109 kursi
* 2009: 95 kursi
PDIP baru kembali bangkit ketika berkolaborasi dengan figur populer: Jokowi.
2014: 109 kursi + Presiden
2019: 128 kursi + Presiden
Namun keberhasilan ini melahirkan kesalahan fatal menjelang 2024: terlalu percaya diri.
PDIP merasa:
* kursi besar,
* bisa ambil tiket pilpres sendiri,
* koalisi bukan kebutuhan mendesak.
Padahal politik nasional sudah berubah.
2024: Kekalahan Bukan Karena Ideologi, Tapi Strategi
Kekalahan PDIP di Pilpres 2024 bukan karena rakyat meninggalkan nasionalisme, melainkan karena:
* mengabaikan koalisi luas,
* salah membaca kekuatan incumbent,
* gagal mengantisipasi manuver Jokowi.
Jokowi membaca situasi dengan dingin:
PDIP berisiko kalah → ia memilih bergabung dengan Prabowo.
Hasilnya: Prabowo–Gibran menang.
Ini bukan soal moral. Ini soal politik kekuasaan.
Menuju 2029: Bisakah PDIP Bangkit?
Jawabannya YA, BISA, tetapi dengan dua syarat mutlak—sebagaimana telah disampaikan diatas, dan sejarah membenarkannya.
Syarat Pertama: PDIP Harus Menjadi Arsitek Koalisi, Bukan Menara Gading
PDIP tidak bisa lagi:
* berdiri sendiri,
* mengandalkan sejarah,
* menganggap kursi besar cukup.
2029 akan dimenangkan oleh:
* koalisi luas,
* narasi bersama,
* kompromi strategis.
Jika PDIP tetap eksklusif, ia akan kembali kalah meski benar secara ideologi.
Syarat Kedua: PDIP Harus Memimpin Agenda Moral Nasional
Undang-Undang Perampasan Aset Koruptor adalah ujian sejarah.
Jika PDIP:
* berani menjadi pelopor,
* melawan kepentingan elite,
* konsisten dengan semangat Bung Karno,
maka PDIP akan kembali menjadi partai harapan rakyat, bukan sekadar partai struktur.
Isu ini bukan teknis hukum.
Ini soal keadilan sosial—jiwa Pancasila.
Pertanyaan Terakhir (dan Paling Jujur)
Apakah PDIP mau memenuhi dua syarat itu?
Mau berbagi panggung kekuasaan lewat koalisi?
Mau mengambil risiko politik dengan melawan korupsi sampai ke akar?
Jika jawabannya ya, maka:
PDIP bukan hanya bisa melawan Prabowo–Gibran,
tetapi bisa kembali memimpin arah sejarah.
Jika jawabannya tidak, maka:
PDIP akan tetap besar, tetapi tidak berkuasa.
Take Home Massage
Bung Karno jatuh bukan karena salah ideologi,
tetapi karena dikepung kekuatan besar tanpa perlindungan politik yang cukup.
PDIP hari ini berada di persimpangan yang sama—namun dengan pengalaman sejarah di tangan.
Satyam Eva Jayate.
Kebenaran memang akan menang.
Tetapi dalam politik,
kebenaran harus diperjuangkan dengan strategi,
bukan hanya diyakini dengan iman.
Selamat ulang tahun ke-53, PDI Perjuangan.
Sejarah menunggu pilihanmu.
