Orang Betawi, Kota yang Maju, dan Rasa Hidup yang Kian Jauh

Breaking News
- Advertisement -

 

 

Oleh: Wan Noorbek (Nur Shollah Bek)

Mudanews.com OPINI – Orang Betawi sejak dulu dikenal sebagai masyarakat yang terbuka, ramah, dan menjunjung tinggi silaturahmi. Hidup bertetangga itu dekat, bukan hanya soal jarak rumah, tapi soal rasa. Dulu, pintu rumah terbuka lebar, orang lewat disapa, tamu datang disuguhi seadanya tapi penuh keikhlasan. Ngobrol di teras, di warung kopi, atau di bawah pohon jadi ruang sosial yang alami dan gratis.

Kini Jakarta dan sekitarnya semakin maju. Gedung-gedung tinggi berdiri, jalan-jalan mulus, pusat hiburan dan perbelanjaan menjamur. Tapi di balik kemajuan itu, orang Betawi justru makin terdesak—bukan hanya secara ruang, tapi juga secara nilai kehidupan sosialnya.

Budaya Betawi yang Terpinggirkan

Budaya Betawi itu lekat dengan kebersamaan. Ada tradisi saling tegur sapa, kerja bakti, kenduri, yasinan, pengajian kampung, dan musyawarah warga. Semua itu bukan sekadar acara, tapi sarana merawat hubungan sosial.

Sekarang, banyak kampung Betawi berubah menjadi kawasan beton. Ruang kumpul menghilang, digantikan pagar tinggi dan tembok pembatas. Tetangga tinggal berdampingan, tapi jarang saling mengenal. Kalaupun bertemu, sering kali hanya saling pandang tanpa sapa.

Padahal dalam budaya Betawi, orang yang tidak menyapa tetangganya dianggap “kurang ajar”—bukan dalam arti kasar, tapi karena dianggap kehilangan adab.

Agama yang Dulu Hidup di Kampung

Masyarakat Betawi dikenal religius. Musholla dan masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi pusat kehidupan sosial. Dari situlah lahir solidaritas, kepedulian, dan rasa persaudaraan.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)

Dulu, ayat ini hidup dalam praktik keseharian orang Betawi. Kalau ada tetangga sakit, warga datang menjenguk. Kalau ada hajatan, semua turun tangan. Kalau ada musibah, kampung ikut menanggung.

Hari ini, masjid memang masih berdiri, tapi fungsinya sering menyempit. Jamaah datang dan pulang tanpa saling mengenal. Agama menjadi urusan pribadi, bukan lagi perekat sosial.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.”
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Hadits ini sejalan dengan nilai Betawi lama: hidup jangan cuek sama tetangga.

Hidup Sosial yang Kini Serba Berbayar

Bagi orang Betawi, silaturahmi itu dulu murah bahkan gratis. Sekarang, untuk sekadar bertemu teman harus janjian, cari tempat, keluar ongkos. Parkir bayar, pesan minum bayar, ke toilet pun bayar. Ruang sosial berubah menjadi ruang komersial.

Akibatnya, interaksi jadi terbatas. Orang lebih memilih diam di rumah, sibuk dengan gawai, atau cukup menyapa lewat pesan singkat. Tegur sapa yang dulu jadi ciri khas Betawi kini mulai jarang terdengar.

Mengembalikan Rasa Kampung di Tengah Kota

Orang Betawi tidak menolak kemajuan. Yang ditolak adalah hilangnya rasa. Pembangunan seharusnya tidak memutus akar budaya dan nilai sosial masyarakat asli.

Yang perlu dihidupkan kembali adalah:
– Budaya tegur sapa dan silaturahmi nyata
– Pengajian kampung, majelis, dan musyawarah warga
– Ruang kumpul non-komersial seperti balai warga dan lapangan
– Etika bertetangga sebagai bagian dari ajaran agama

Allah SWT mengingatkan:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)

Ayat ini sejalan dengan semangat gotong royong Betawi yang mulai memudar.

Penutup

Orang Betawi pernah hidup sederhana tapi bermartabat. Kota boleh maju, bangunan boleh tinggi, tapi jangan sampai manusia kehilangan adab dan kepedulian. Jika orang Betawi kehilangan budaya silaturahmi dan agama kehilangan fungsi sosialnya, maka yang tersisa hanyalah kota tanpa jiwa.

Sudah saatnya kita mengembalikan rasa hidup orang Betawi: ramah, peduli, dan beragama secara sosial.

“Betawi itu bukan sekadar suku, tapi cara hidup yang menjunjung adab, agama, dan kebersamaan.

Berita Terkini