Dihimpun Oleh: Muhammad Joni SH.MH., Advokat, Sekjen PP IKA USU
Mudanews.com OPINI – Ada manusia yang hidupnya rapi di riwayat jabatan. Ada pula yang hidupnya berhimpunan di relung ingatan orang-orang yang pernah disentuh keberaniannya.
Sosok Jaya Arjuna adalah jenis yang kedua. Bang Jaya –begitu beliau biasa disapa– tidak pernah mengejar panggung. Tetapi setiap kali kebenaran dipinggirkan, namanya muncul—sebagai gangguan yang perlu, sebagai suara yang tak bisa dibungkam dengan anggaran, jabatan, atau basa-basi kekuasaan. Dia hadir bukan untuk disukai, melainkan untuk mengingatkan. Dan di negeri yang gemar lupa, pengingat selalu dianggap berbahaya.
Kami juniornya mengenalnya dari ruang-ruang kaderisasi, dari bangku kuliah, dari koran yang dilipat pagi hari, dari siaran radio yang tak pernah lunak, dari diskusi yang berakhir panas namun jujur. Dia instruktur HMI yang mengajar dengan teladan, bukan dengan retorika.
Bang Jaya datang ke tempat training dengan sepeda motor bebek, bukan demi fasilitas, melainkan demi tanggung jawab. Karena dia percaya watak lebih penting daripada kecerdasan, dan keberanian lebih bernilai daripada kepatuhan.
Sebagai intelektual publik-organik, tokoh Jaya Arjuna tidak hidup dari tepuk tangan. Dia menulis bukan untuk aman, melainkan untuk benar. Kata-katanya kerap dianggap tak sopan, bahkan “radikal”, karena ia menolak merawat kebohongan yang dilembagakan. Dia pernah memberi diagnosis sosial yang kini terasa semakin relevan—tentang intelektual yang menjual akalnya sendiri demi kedekatan dengan kuasa. Itu bukan cercaan. Itu peringatan.
Di ruang publik, Jaya Arjuna dikenal sebagai pengkritik lingkungan yang konsisten. Terus terang membedah banjir Medan.Katanya, itu bukan sebagai musibah alam, melainkan akibat dari kompromi politik, perencanaan yang dikorbankan, dan kepentingan yang disamarkan.
Bang Jaya punya data. Bang Jaya punya solusi. bahkan menawarkan jalan keluar yang secara ilmiah cukup, secara teknis masuk akal, dan secara nurani bersih. Tetapi justru karena itu, dia tidak didengar. Di kota yang lebih mencintai citra daripada akal sehat, kebenaran sering kalah sebelum sempat diuji.
Namun tondi Jaya Arjuna tidak berhenti. Dia terus menulis. Terus berbicara. Dari ruang kelas ke koran, dari radio kampus ke podcast, dari isu banjir hingga ancaman mikroplastik pada kesehatan sehari-hari.
Baginya, kejahatan ekologis tidak selalu datang dari korporasi besar. Yang sering berawal dari pembiaran kecil yang dilegalkan oleh kebiasaan. Kritik, dalam pandangannya, adalah bentuk tertinggi dari kesetiaan pada kehidupan.
Ia bukan pejabat.
Ia bukan penguasa.
Ia hanya warga kota yang menolak berdamai dengan kebodohan kebijakan dan kepalsuan sistemik.
Kepergiannya datang tanpa tanda pamit, seperti petir di siang bolong. Tidak ada drama. Tidak ada pengumuman sakit. Hanya kesadaran mendadak bahwa satu suara jujur telah berhenti berbicara. Yang tersisa adalah catatan, ingatan, dan tanggung jawab kita untuk tidak menguburnya bersama jasad.
Tiga esai-cum-testimoni ini bukan puja-puji. Tapi kesaksian ori. Tentang seorang sahabat, seorang guru, seorang pengganggu yang setia pada akal sehat. Tentang seorang intelektual yang tidak bisa dibeli dan tidak mau ditakuti. Tentang Jaya Arjuna—yang mengajarkan kepada kita bahwa diam bukan pilihan, dan kritik adalah ibadah paling sunyi.
Semoga amal baiknya diterima, khilafnya diampuni, dan keberaniannya dicatat sebagai cahaya.
Bagi yang ditinggalkan, kesedihan ini adalah amanat. Bagi kita semua, ini adalah panggilan untuk tetap waras.
In memoriam, Jaya Arjuna Integritasmu tidak jinak. Dan semoga, tidak pernah padam.
***
IR. IDRUS ABDULLAH
Jaya Arjuna: Nama yang Tak Pernah Disukai Kekuasaan – Kenangan, Kritik, dan Kehilangan
Aku dan Jaya Arjuna masuk Universitas Sumatera Utara pada tahun yang sama: 1974. Tahun ketika kampus belum sepenuhnya jinak, dan mahasiswa masih percaya bahwa berpikir adalah bentuk perlawanan.
Tapi sejak awal, jalur kami sedikit berbeda. Jaya lebih dulu aktif di HMI Cabang Medan. Saat aku ikut Basic Training tahun 1976—yang kini disebut LK I—ia sudah menjadi instruktur sisipan. Artinya, ia sudah dipercaya membentuk watak, bukan sekadar mengisi daftar hadir.
Ia supel, mudah akrab, tetapi jangan salah: Jaya adalah tipe orang yang tahu kapan harus tersenyum dan kapan harus mengeras. Ia memiliki pendirian. Dan di negeri ini, pendirian sering kali dianggap pembangkangan.
Nama Jaya kemudian dikenal luas bukan karena jabatan, melainkan karena tulisan. Ia aktif menulis di surat kabar ‘Waspada’. Dari sanalah publik mengenalnya.
Tulisan-tulisannya tajam, kadang tak sopan bagi telinga penguasa, tapi selalu berangkat dari kegelisahan yang jujur. Jaya percaya satu hal: kata-kata yang ditulis dengan benar akan hidup lebih lama daripada pidato yang disorakkan.
Salah satu kenangan paling membekas terjadi pada acara Old and New tahun 1980. Aku baru saja selesai memperingati ulang tahun Radio USU. Zaman itu hiburan belum seragam dan jinak—belum organ tunggal yang sama di setiap panggung—melainkan diskotik, simbol kebebasan anak muda kala itu. Kami bahkan mendapat order pengadaan diskotik untuk acara Old and New di Hotel Patra Parapat.
Dalam perjalanan Medan–Parapat, Jaya menasihatiku. Kalimatnya sederhana, tapi filosofis—bahkan politis:
“Jangan bahas pekerjaan atau sekolah saat kita sedang jalan-jalan. Dan jangan bahas jalan-jalan saat kita sedang belajar.”
Itu bukan sekadar petuah moral. Itu adalah ajaran disiplin batin—tentang memisahkan peran, tentang kesungguhan, tentang etika menjalani hidup. Sebuah nilai yang hari ini terasa asing di ruang publik kita, di mana pejabat membawa urusan pribadi ke jabatan, dan jabatan dibawa ke mana-mana, bahkan ke ruang hiburan.
Kami sering bersama, terutama dalam kegiatan kesenian. Seni, bagi kami, bukan pelarian, tapi cara membaca zaman.
Kami bahkan pernah bermain drama TVRI—shooting di atas sampan di Pantai Cermin. Negara hadir lewat kamera, tapi kritik hadir lewat lakon.
Di fase terakhir hidupnya, Jaya semakin keras—bukan pada orang, tapi pada isu. Lingkungan menjadi medan juangnya. Ia menulis tentang banjir Kota Medan berulang kali. Ia membedah sebab, menunjuk akibat, bahkan menawarkan solusi.
Tapi seperti banyak suara jujur lainnya, ia sering berbenturan dengan tembok tebal bernama kekuasaan lokal.
Dalam podcast Medan Punya Cerita—yang kami rintis bersama selama hampir tiga tahun di masa Covid-19, bersama Izhari Agusjaya, Bang T. Chalis Bach, Iswadi, dan kawan-kawan penyiar serta wartawan—Jaya adalah yang paling berapi-api saat bicara soal banjir.
Baginya, banjir bukan sekadar genangan air, melainkan cermin kegagalan tata kota, kompromi politik, dan pembiaran struktural. Jaya punya solusi. Jaya punya data. Jaya punya rekam jejak menulis. Jaya punya lebih banyak lagi.
Tapi suaranya nyaris tak digubris oleh Wali Kota Medan saat itu, Bobby Nasution. Di situlah tragedi kecil demokrasi lokal kita: orang yang paham tak didengar, sementara yang berkuasa sibuk menjaga citra.
Pernah aku meledeknya: “Kau itu alumni Fakultas Teknik Mesin, tapi mesinnya tak pernah berhenti.”
Kami tertawa. Tapi sesungguhnya itu pengakuan: Jaya adalah mesin kegelisahan publik yang tak mau dimatikan.
Menjelang akhir hayatnya, ia menulis buku ‘Ulok’. Jaya memintaku menulis komentar dan pengantar. Itu bukan permintaan ringan. Itu adalah penyerahan tongkat estafet ingatan. Ia juga terus menulis tentang banjir Medan, seolah ingin memastikan satu hal: jika ia pergi, kota ini masih menyimpan catatan tentang siapa yang pernah memperingatkan.
Jaya Arjuna bukan pejabat. Juga bukan penguasa. Dia hanya warga kota yang setia pada akal sehat dan nurani. Dan justru karena itu, Jaya sering kali tak disukai.
Hari ini, kita kehilangan bukan hanya seorang kawan, tapi satu suara jujur yang tak pernah pandai berkompromi dengan kebodohan kebijakan.
Dalam budaya yang semakin alergi pada kritik, Jaya adalah pengingat bahwa diam bukan pilihan, dan menulis adalah bentuk tanggung jawab moral.
Dia telah pergi. Tapi kata-katanya masih berdiri—seperti banjir yang terus datang, menagih jawaban dari kota yang pura-pura lupa.
***
Dr. ABIDINSYAH SIREGAR & DR. HASLINDA DAULAI
Bang Jaya Arjuna: Ketika Kritik Menjadi Bentuk Tertinggi Kesetiaan
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Ada wafat yang sunyi. Ada pula pulang yang memukul kesadaran kolektif. Kepergian Ir. Jaya Arjuna adalah yang kedua.
Bang Jaya bukan tokoh yang rajin dipuji. Dia tidak lahir untuk nyaman di pelukan zaman. Ia hadir sebagai gangguan yang perlu—pada pikiran yang malas, pada kebiasaan yang busuk, pada kekuasaan yang ingin aman tanpa diawasi.
Saya mengenalnya sejak 1977, di masa HMI dan Gerakan Mahasiswa 1978 belum menjadi legenda, melainkan medan risiko.
Kesan awal saya padanya: keras, tajam, dan tak kompromistis. Dia bicara seperti palu. Dia yang menyimpulkan seperti pisau. Dia yang tidak memberi ruang bagi kepura-puraan. Dan justru karena itu saya belajar: Bang Jaya tidak sedang ingin benar sendirian.
Si Abang sedang menolak kebohongan berjamaah. Di zaman ketika banyak intelektual sibuk merawat citra, Bang Jaya memilih merawat akal sehat.
Dia tidak tawar menawar prinsip demi pertemanan. Pun dia tidak melunakkan kritik demi pintu akses. Persahabatan kami bertahan puluhan tahun bukan karena kesepakatan. Melainkan karena keberanian untuk berbeda. Tanpa maksud menjadi pengecut.
Catatan terakhirnya kepada saya—
tentang ancaman mikroplastik terhadap kesehatan dalam Radiotalks SmartFM 95.9 Kompas Group— menunjukkan watak sejatinya.
Dia tidak berhenti pada jargon global.
Dia menghantam kebiasaan lokal:
lontong yang dulu dibungkus daun pisang, kini dibenamkan plastik.
Bang Jaya amat paham: kejahatan ekologis tidak selalu datang dari korporasi besar, akan tetapi dari pembiaran kecil yang dilegalkan kebiasaan.
Baginya, lingkungan bukan isu pinggiran. Kesehatan bukan sekadar statistik. Isu itu sahih soal martabat manusia. Amal ibadahnya tidak bisa diringkas dalam satu kolom.
Dia melampaui profesi teknologi yang digelutinya. Ia masuk ke wilayah yang jarang disentuh teknokrat: lingkungan hidup, seni, dan pengabdian sosial—dengan konsistensi, bukan seremoni. Ia berdiri tegak mendukung Perkumpulan Observasi Kesehatan Indonesia (OBKESINDO) atau Indonesia Health Observer (IHO), dan menjadi organisator Koordinator Wilayah Sumatera Utara. Bersama Prof. Syawal Gultom, Dr. Sakhyan Asmara,
Ir. Hasrul/Icon, Dr. Leo Simanjuntak,
Dr. Singh, drg. Johana Siagian, dan lainnya, Bang Jaya berperan bukan sebagai ornamen, melainkan penjaga garis etik gerakan.
Kini kita benar-benar kehilangan sesuatu yang genting: kritikus yang tidak bisa dibeli. Intelektual yang tidak bisa ditakuti. Sahabat yang berani berkata tidak.
Kerugian pribadi saya sangat nyata:
keinginan untuk terus diasah oleh kritiknya, untuk terus diuji oleh kejujurannya, harus terputus oleh maut.
Kami seharusnya bertemu
15 Desember 2025, dalam undangan Bang Ir. Nurdin Tampubolon (NTCorp), melalui Tulang Dr. Ir. Manerep Pasaribu,
pada peresmian Hotel Novotel di NT Tower Pulomas.
Takdir memilih absen. Saya di luar Jakarta. Dan sejarah kecil itu tak pernah terjadi. Bang Jaya, terima kasih karena tidak pernah menjadi lunak di saat banyak orang memilih aman.
Terima kasih karena setia pada kritik
ketika yang lain berdamai dengan kepalsuan. Engkau mengajarkan satu hal yang mahal: kesetiaan sejati bukan membenarkan, melainkan berani mengoreksi.
Panenanmu telah penuh. Engkau menanam kejujuran di tanah yang keras.
Semoga ia dituai sebagai cahaya di Surga Jannatun Na’im. Al-Fatihah. Untuk keluarga besar yang ditinggalkan: kesabaran kalian adalah kelanjutan dari perjuangannya. Wassalam, Jakarta, 03 Januari 2026
***
Dr.M.ZAHRIN PILIANG:
‘Bang Jaya Arjuna: Senior Teladan Yang Tak Bisa Dibeli’
Nun di tahun 1980. Saya masuk Basic Training hingga Senior Course Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di ruang-ruang kaderisasi itulah karakter saya ditempa—dan Bang Jaya Arjuna adalah salah satu Instruktur yang paling menentukan arah pembentukan itu.
Bang Jaya bukan sekadar pengajar. Ia “generator” pembentuk watak. Bersama generasinya—Kkd Adil Sirait, Abul Hasan Harahap, Anshar M. Noor Acang, MA Hendy Damanik, Ludhy Awaluddin Thayab, Busra Usman, Effendy De Lux Putra, Urip Harap, almarhum Salim Antova, almarhum Budiman Selian—serta almarhum Kkd Junaidi Nasution sebagai Master of Training, Bang Jaya berdiri di satu barisan instruktur teladan yang melahirkan kami-kami ini.
Di atas mereka, ada generasi raksasa: Bang Darwin Sitompul, Helmi Thalib, Hamzah AR, Fachruddin Azmi, dan lain-lain. Di bawah mereka—kami adalah hasilnya.
Bang Jaya tidak pernah tampil mewah.
Ke mana-mana ia pergi, ya.. naik sepeda motor bebek. Tabah dan happy mendatangi tempat-tempat training HMI di Medan dan sekitarnya. Bang Jaya datang dan terus datang karena tugas, bukan karena fasilitas. Bahkan ke IKIP Medan, demi mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia yang baru saja menyelesaikan Basic Training.
Ia mengajar dengan derap kaki, bukan dengan gengsi. Bagi saya kadernya, kepergiannya datang seperti petir di siang bolong.
Beberapa hari sebelum wafat, Bang Jaya dan istrinya, Masnun Zain, secara khusus mengirim pesan WhatsApp kepada saya—menyampaikan empati mendalam dan doa tulus atas wafatnya Mak saya, 17 Desember 2024.
Tak ada kabar sakit. Tak ada tanda pamit. Lalu tiba-tiba: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kamis sore, 1 Januari 2026, sejumlah sejawatnya sesama pengajar di USU bersilaturahmi ke rumah saya. Kami kembali mengingat satu hal penting: tawaran Bang Jaya kepada Pemko Medan—perbaikan drainase dan penanggulangan banjir dengan biaya sekitar Rp350 miliar. Angka itu terlalu kecil bagi penguasa. Terlalu tidak menarik bagi politisi. Terlalu “tidak masuk akal” bagi pengusaha rakus.
Tetapi bagi Bang Jaya, angka itu lebih dari cukup—cukup secara ilmiah, cukup secara teknis, cukup secara nurani—untuk menyelamatkan Medan dari banjir.
Masalahnya bukan anggaran. Masalahnya adalah mental koruptor.
Di titik inilah kelas Bang Jaya terlihat terang-benderang. Dia bukan insinyur tukang yang tunduk pada pesanan kekuasaan. Juga, bukan aktivis pesanan yang bisa dibungkam sponsor.
Dirinya adalah pengamat lingkungan yang setia pada ilmunya.
Para aktivis lingkungan selalu meminta Bang Jaya menjadi narasumber. Pikiran-pikirannya sering dianggap “radikal” oleh politisi, penguasa, dan pengusaha perusak lingkungan. Bahkan di lingkungan kampus, ia tak segan berbeda pendapat dengan rekan sejawatnya. Dia menyebut intelektual jenis tertentu dengan istilah yang tak pernah saya lupakan: AMAT JIPAN MABOK (Ambil Muka, Angkat Telor, Jilat Pantat, Muka Tembok).
Itu bukan umpatan. Itu diagnosis sosial.
Khas Bang Jaya. Senior teladan, guru para aktivis. Sosok yang bisa berdiri di semua kelas tanpa kehilangan integritas. Yang tercatat sebagai salah satu guru yang mengabdi di MAN Medan pada fase-fase awal berdirinya sekolah umum berciri keagamaan itu—sebuah pengabdian sunyi yang jarang disebut, tapi menentukan.
Dia hidup sederhana. Dan berpikir jernih. Tentu, menolak tunduk. Dan justru karena itulah, bang Jaya sering dianggap berbahaya oleh mereka yang hidup dari kebohongan sistemik.
Semoga seluruh amal baik Kkd Jaya Arjuna diterima Allah SWT, diampuni segala khilafnya, dan ditempatkan di jannatun na‘im. Amin ya Rabbal ‘alamin.**
