PSSI Semakin Mengecewakan, Ultras Garuda Kirim Ancaman

Breaking News
- Advertisement -

 

Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

Mudanewd.com OPINI | Bicara sepak bola kita hari ini, ujungnya pasti kecewa. Padahal, itulah perekat utama bangsa ini. Namun, sering dikecewakan oleh makhluk namanya, PSSI. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

PSSI di bawah kendali Erick Thohir bergerak seperti organisasi yang bangun tidur tanpa alarm. Bingung, lambat, dan memilih diam meski seluruh negeri menunggu penjelasan. Puncak kekecewaan terjadi ketika adik-adik Timnas U-17 tampil gagah di Piala Dunia, tapi PSSI seperti lupa, masyarakat Indonesia punya mata dan ingin menonton. Tidak ada tayangan, tidak ada akses, tidak ada usaha. Seolah rakyat disuruh menonton pertandingan lewat bayangan di dinding, seperti manusia gua Plato versi sepak bola.

Jutaan fans Garuda kesal, kecewa, marah, sampai mencari-cari link gelap yang tampilannya mirip CCTV parkiran mal. Ketika bangsa ini masih sibuk meratapi hilangnya siaran, tiba-tiba Ultras Garuda datang sebagai alarm kebangkitan yang suaranya setara sirine kapal pecah. Mereka mengatakan cukup sudah. PSSI dianggap telah membuat kekecewaan ini masuk bab baru, bab ancaman.

Lewat akun Instagram @ultrasgarudaofficial, mereka merilis pernyataan resmi yang panjang, padat, dan penuh energi seperti ultimatum kerajaan perang. Mereka menilai federasi sudah tidak responsif. Sudah diberi waktu panjang, tapi PSSI justru menjawab tuntutan dengan pernyataan inkonsisten. Mulai dari target Piala Dunia yang berubah tiap minggu, pemilihan pelatih yang misterius seperti audisi band indie, sampai hilangnya agenda FIFA Matchday bulan ini. Entah kenapa menghilang seperti kaus kaki di mesin cuci.

Ultras Garuda pun menyerukan dua kata yang membuat udara GBK mendadak lebih panas, “Revolusi total.” Sebuah kalimat menggema seperti stadion saat injury time. Mereka menyatakan kecewa berat terhadap PSSI yang dianggap tidak memberikan penjelasan terbuka. Padahal, kesempatan sudah diberikan berkali-kali. Bahkan mereka menegaskan, “Sudah saatnya kami bergerak menyuarakan hak kami sebagai suporter Timnas Indonesia.” Kalimat yang kalau dibacakan pakai toa, bisa bikin patung-patung di sekitar GBK merinding.

Puncaknya, Ultras Garuda resmi mengirim surat pemberitahuan kepada Kapolda Metro Jaya untuk menggelar aksi besar pada Jumat (14/11/2025) di GBK Arena, pukul 13.00 WIB. Surat itu ditandatangani Koordinator Ultras Garuda, Muh Fatturahman, dan Koordinator Lapangan, Imaduddin, dikirim pada 11 November 2025. Mereka akan datang 100–200 orang, lengkap dengan spanduk, toa, flare, hand banner, bendera, dan poster, perlengkapan demonstrasi yang jika disorot dari drone, terlihat seperti festival kekecewaan nasional.

Semua tuntutan mereka sebenarnya sederhana. Manajemen timnas profesional, road map PSSI yang nyata, rekrutmen pelatih yang transparan, pembinaan usia dini yang benar-benar dijalankan, dan peran suporter yang dihargai. Tuntutan yang sangat masuk akal untuk negara yang katanya cinta sepak bola. Namun lima hari menunggu tak ada jawaban. Hening. Sunyi. Seolah federasi sedang melakukan ritual kontemplasi di ruang kosong.

Di tengah drama yang makin liar ini, tiba-tiba ada berita manis, Rizky Ridho resmi masuk nominasi FIFA Puskás Award 2025 berkat gol dari tengah lapangan saat Persija Jakarta melawan Arema FC pada 9 Maret 2025. Ia kini bersaing dengan bintang-bintang dunia seperti Lamine Yamal dan Declan Rice. Voting bisa dilakukan lewat situs dan aplikasi FIFA, ironisnya, lebih mudah dari mencari siaran Piala Dunia U-17.

Di situlah absurditas sepak bola kita mencapai puncaknya. Kita bisa punya pemain yang mencetak gol level dunia, tapi federasi masih kesulitan memberi transparansi paling dasar. Kita bisa bangga pada Ridho, tapi tetap geleng-geleng melihat PSSI.

Ultras Garuda sudah bicara. Mereka sudah mengirim ancaman resmi. Kini bola ada di kaki PSSI. Entah ditendang maju, disapu keluar lapangan, atau, seperti biasanya, dioper diam-diam ke belakang sambil berharap rakyat lupa. Namun satu hal pasti, kesabaran suporter sudah hampir habis, dan rumput GBK pun sepertinya sudah ikut kecewa.***

Berita Terkini