Penulis : Anton Christanto , Pemerhati dan Pengamat politik di Boyolali
Mudanews.com OPINI – Ada yang mengganjal di hati banyak orang dalam dua hari terakhir. Rangkaian aksi massa yang berujung anarkis menyisakan pertanyaan besar: apakah semua itu benar-benar lahir murni dari amarah rakyat? Ataukah ada tangan-tangan tersembunyi yang sedang mengarahkan panggung?
Mari kita mulai dari yang kasat mata. Rakyat marah kepada Ahmad Syahroni (Nasdem), Eko Patrio (PAN), hingga Uya Kuya (PAN). Itu wajar. Tingkah mereka di ruang publik—mulai dari gaya hidup mewah, pernyataan yang nir empati, hingga candaan murahan—cukup untuk menyulut api di dada rakyat yang lapar dan miskin. Sosok-sosok seperti itu memang mudah sekali jadi simbol kebencian.
Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan: api tidak akan menyala tanpa ada yang membawa korek. Rakyat memang panas, tetapi siapa yang menyulut hingga meledak? Siapa yang mendorong emosi massa sampai melampaui batas protes damai, berubah jadi amuk anarkis?
Mengapa Targetnya Hanya Tertentu?
Perhatikan baik-baik pola sasarannya.
Dari PAN: Eko Patrio dan Uya Kuya.
Dari Nasdem: Ahmad Syahroni.
Dari PDIP: Puan Maharani ikut disebut-sebut.
Dari kabinet: Sri Mulyani pun kena sasaran, terutama karena sikapnya menolak pembiayaan IKN.
Uniknya, yang diserang bukan hanya wakil rakyat nyentrik atau menteri finansial, tetapi juga politisi yang berasal dari partai-partai tertentu. PAN, Nasdem, PDIP—semua jadi target.
Tetapi anehnya, mengapa PSI dan kader-kadernya tak tersentuh? Mengapa wajah-wajah kontroversial yang sering tampil di layar kaca—seperti Abu Janda atau para buzzer termul—aman dari amarah massa? Mengapa kantor PSI tidak dilempari batu, padahal Kaesang jelas bagian dari lingkaran kekuasaan dinasti?
Apakah kebetulan? Atau ada skenario besar yang sedang dimainkan?
Massa di Solo vs. Massa di Jakarta
Kejadian lain semakin mempertebal rasa curiga. Rumah Jokowi di Solo sempat didatangi massa. Tapi coba bandingkan:
Massa di Solo sopan luar biasa. Tidak ada pagar yang digoyang, tidak ada batu yang dilempar. Malah sempat ada “lomba lukis mural” di media yang disediakan. Seperti karnaval.
Sementara di Jakarta? Halte dibakar, fasilitas publik dirusak, massa ditunggangi, bahkan ada laporan penembakan dan pengeroyokan rakyat.
Dua wajah berbeda dari satu fenomena: demo. Yang satu bagai pesta rakyat, yang lain bagai neraka jalanan. Apakah ini murni spontanitas, atau sudah ada tangan intelijen hitam yang mengatur skenarionya?
Siapa yang Sebenarnya Jadi Musuh Rakyat?
Jika kita jujur, siapa biang kehancuran ekonomi Indonesia hari ini?
Utang luar negeri menembus rekor tertinggi di era Jokowi.
IKN menghisap APBN padahal rakyat kelaparan.
Dinasti politik tumbuh subur dengan segala praktik “prostitusi konstitusi.”
Krisis kepercayaan akibat kasus ijazah palsu Jokowi yang tak pernah tuntas.
Tetapi lucunya, dalam aksi-aksi anarkis itu, nama Jokowi hampir tidak terdengar. Kaesang pun aman, PSI pun sepi dari sorakan. Seolah-olah rakyat diarahkan untuk melupakan biang kerok sesungguhnya.
Teori Dalang dan Bohir
Dari sini lahir pertanyaan besar: siapa penyulut, provokator, sekaligus dalang?
Ada kemungkinan:
1. Oposisi bayangan yang ingin mencoreng nama pemerintahan Prabowo sejak awal dengan menciptakan citra negara kacau.
2. Faksi dalam kekuasaan sendiri yang ingin menggeser pengaruh kelompok lain, sehingga demo diarahkan ke partai tertentu.
3. Bohir ekonomi: para oligarki yang bermain dua kaki, menggerakkan massa demi agenda bisnis—misalnya perebutan proyek IKN, energi, atau tambang.
4. Intelijen gelap yang sengaja menciptakan kekacauan agar rakyat takut, sehingga negara bisa melegitimasi represi lebih keras.
Jika ini benar, maka rakyat hanyalah pion di papan catur. Darah dan air mata mereka hanyalah alat untuk melanggengkan kepentingan elite.
Bahaya Lupa: Rakyat Mudah Diprovokasi
Rakyat kecil lapar, mahasiswa marah, kaum miskin terpinggirkan—semuanya mudah digerakkan. Tetapi bahaya terbesar adalah ketika mereka digerakkan ke arah yang salah.
Bukannya menuntut akar persoalan (utang, korupsi, dinasti, oligarki), mereka justru diarahkan untuk menyerang simbol-simbol kecil.
Akibatnya: energi rakyat habis di jalan, tetapi struktur kekuasaan tetap tegak. Para provokator lalu tertawa di balik layar.
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Maka, sekali lagi:
Siapa yang membayar mobilisasi massa ini?
Siapa yang menentukan siapa boleh diserang, siapa tidak?
Mengapa pola amuk berbeda di tiap kota?
Mengapa Jokowi dan PSI seperti tak tersentuh?
Jika intelijen negara tidak mampu menjawab pertanyaan ini, rakyat berhak curiga: jangan-jangan justru negara ikut bermain.
Kesimpulan Sementara
Demo anarkis yang melanda Indonesia bukan sekadar luapan spontan. Ada pola, ada seleksi target, ada skenario.
Rakyat marah itu nyata. Tetapi amarah ini tidak akan berubah jadi amuk tanpa korek api. Dan korek api itu entah sedang dipegang siapa: oposisi, oligarki, atau bahkan kekuasaan sendiri.
Yang jelas, tanpa mengungkap dalang sesungguhnya, bangsa ini akan terus terjebak dalam lingkaran setan: rakyat lapar jadi korban, elite bermain di balik layar.***(Red)